PARIWISATA KOTA SUSU Pemerintah Guyur Dana Homestay di Boyolali

BOYOLALI—Pemerintah melalui BUMN PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mengalokasikan dana Rp700 juta dalam bentuk pinjaman lunak bagi pemilik homestay di wilayah Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali.
Dana bergulir tersebut dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Samiran yang bekerja sama dengan kelompok sadar wisata setempat. Direktur Utara (Dirut) SMF Ananta Wiyogo mengatakan salah satu pertimbangan dalam penetapan Desa Samiran sebagai sasaran program ini karena berdekatan/sebagai pilar penyangga wisata Candi Borobudur.
Candi ini merupakan satu dari sepuluh destinasi wisata prioritas Indonesia. Selain itu, Samiran memiliki potensi wisata alam dan wisata budaya, serta masyarakat memiliki semangat menuju kemandirian.
“Kami melihat ada kemauan masyarakat di sini untuk mandiri, termasuk mengelola homestay sehingga kami mendorong dengan program pembiayaan. Program ini baru kali pertama di Indonesia dan jika ini berhasil akan kami terapkan ke wilayah lainnya,” ujar Ananta, kepada wartawan seusai penandatanganan nota kerja sama antara SMF dengan BUM Desa di Samiran, Senin (11/2).
Direktur SMF Trisnadi Yulrisman menambahkan program di bawah Kementrian Keuangan dan Kementerian Pariwisata ini akan diawasi dan dievaluasi dengan melibatkan unsur pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan Pemkab.
Mengingat pula, pinjaman lunak yang diberikan kepada pemilik homestay ini tidak mensyaratkan agunan. “Pinjaman ini tanpa agunan dan tentu ada risikonya sehingga akan kami awasi dan kami evaluasi. Tapi kami percaya dengan pengelolaan yang baik dari BUM Desa, program ini bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, pembiayaan ini juga bersifat bergulir sehingga pinjaman yang kembali akan dimanfaatkan lagi oleh pemilik homestay lainnya. Camat Selo Jarot Purnama berharap program ini bisa dijalankan dengan baik.
Ketua BUM Desa Samiran Widodo mengatakan skema sederhana dari pembiayaan ini adalah pemilik homestay yang berminat harus mengajukan permohonan rehab/pengadaan sarana prasarana untuk peningkatan kualitas pelayanan homestay. Selain itu, pengajuan juga harus mendapat rekomendasi dari pokdarwis. “Jadi kalau mau meningkatkan kualitas lantai homestay misalnya, pemilik harus membuat RAB [rencana anggaran belanja], lalu minta rekomendasi kepada pokdarwis. Jika kebutuhannya Rp30 juta, maka pinjamannya juga pada kisaran itu, tidak lebih,” ujarnya.
Pilot project pembiayaan homestay di Desa Samiran juga diterapkan di Desa Wisata Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan nilai Rp1,6 miliar. Pada 2019 ini, SMF juga akan menerapkan kegiatan serupa di tiga destinasi wisata lain yakni di Labuan Bajo, Danau Toba, dan Mandalika. (Akhmad Ludiyanto)