PAUL POGBA Saat PSG Melewatkan Bakat Pogba Muda

Hanifah Kusumastuti

Musim panas lalu, Paris Saint Germain (PSG) dikait-kaitkan mengincar Paul Poba dari Manchester United. Les Parisiens bahkan disebut-sebut mencoba memanfaatkan koneksi buruk Pogba dengan pelatih United saat itu, Jose Mourinho, untuk memboyong eks gelandang Juventus itu ke Parc des Princes.
Namun, upaya PSG sejauh ini tidak membuahkan hasil. Pogba tetap setia dengan United dan bakal menjadi musuh PSG ketika leg pertama babak 16 besar Liga Champions di Old Trafford, Manchester, Rabu (13/2) pukul 03.00 WIB.
Pogba berpotensi menjadi bencana bagi PSG pada duel di Old Trafford tersebut. Gelandang berusia 25 tahun ini menjadi salah satu penggawa United yang paling bersinar sejak Manchester Merah memecat Jose Mourinho dan menggantinya dengan Ole Gunnar Solskjaer. Pogba melejit dengan delapan gol dalam delapan penampilannya bersama Setan Merah di Liga Premier, sejak Desember lalu.
PSG pun bisa-bisa akan sangat menyesal gagal menggaet Pogba. Apalagi jika mereka mengingat masa kecil Pogba yang sudah sangat dekat dengan klub berjuluk Les Parisiens. Pogba masuk dalam tim US Roissy-en-Brie, saat berusia enam tahun hingga 13 tahun.
Markas klub tersebut, Stade Paul Bessuard, hanya berjarak sekitar 20 km dengan kandang PSG, Stade de France. Bersama Roissy, Pogba tumbuh sebagai pesepak bola yang cukup populer di kalangan rekan-rekan setimnya. Menurut pelatihnya di Roissy, Sambou Tati, Pogba juga menjadi ”bintang” di kamar ganti timnya.
Tati bisa jadi keheranan ketika mengetahui Mourinho melucuti ban kapten kedua United dari lengan Pogba. Sebab, baginya, Pogba merupakan sosok pemimpin bagi rekan-rekan setimnya. ”Dia pemain yang sangat bagus, dia suka mendribel bola dan dia punya mental bagus. Dia pemimpin tim, dia leader di tim,” ujar Tati, seperti dilansir manchestereveningnews.co.uk, Senin (11/2).
Saat belia, Pogba dimainkan sebagai gelandang serang seperti posisinya bersama United di era Solskjaer. Tak heran, Pogba sempat dikabarkan berseteru dengan Mourinho karena dia dituntut menjadi gelandang bertahan alih-alih sebagai pemain ofensif seperti posisi naturalnya sejak membela Roissy.
Karier Pogba muda semakin melejit. Namun menurut Tati, PSG tak pernah tertarik meminangnya kala itu. Padahal, Pogba lahir di Lagny-sur-Marne, kawasan yang hanya berjarak 16 km dari pusat kota Paris. Justru dua klub lain, Monaco dan Le Havre, yang tertarik dengan bakat Pogba. Pogba juga tumbuh sebagai pengidola Marseille alih-alig PSG.
Takdir memang sepertinya tidak menuntun Pogba ke PSG. Setelah dari Roissy, dia melanjutkan awal kariernya dengan pindah ke US Torcy, dilanjutkan ke Le Havre, kemudian hijrah ke Inggris dengan berlabuh ke akademi Manchester United. Saat berada di akademi Setan Merah, Pogba pernah merasakan tangan dingin Ole Gunnar Solskjaer. Maka tak ayal, dia bisa langsung akrab ketika kembali dipertemukan dengan pelatih asal Norwegia itu di tim senior Setan Merah.
”Ini karena kebahagiaannya. Dia tidak sedang bermain-main, dia tidak berakting. Dia memberi kebahagiaan kepada siapa saja dan memberi kepercayaan diri dan Anda bisa lihat hasilnya di lapangan,” ujar Pogba tentang Solskjaer, sekaligus menyindir tabiat pelatihnya terdahulu Jose Mourinho, seperti dilansir express.co.uk. (JIBI)