PEMBALAP LIAR DIHAJAR WARGA Satlantas Sragen Akui Kecolongan

SRAGEN—Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Sragen kecolongan terkait peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh warga terhadap pembalap liar di dekat Taman Krido Anggo, Sragen, pada Minggu (10/2) dini hari. Aksi tersebut viral di media sosial. Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Satlantas Polres Sragen meningkatkan patroli malam mulai pukul 20.00 WIB.
Kapolres Sragen, AKBP Yimmy Kurniawan, melalui Kasatlantas, AKP Dani Permana Putra, saat ditemui wartawan di Mapolres Sragen, Senin (11/2), mengaku belum mendapatkan laporan tentang peristiwa itu. Satlantas masih mencari informasi yang viral di media sosial itu.
“Pada prinsipnya kami sudah melakukan patroli dengan menyiagakan satu peleton personel Satlantas. Setiap hari kami patroli mulai pukul 20.00 WIB. Saat kejadian itu, kami akui memang kami kurang maksimal di lokasi Krido Anggo sehingga adanya aksi balapan liar tidak termonitor. Ya, sudah viral di media sosial. Dengan kejadian itu, kami tempatkan personel di lokasi-lokasi yang sering dijadikan ajang nongkrong para remaja,” ujar Dani.
Dia menyebut ada sembilan orang yang ditugaskan khusus untuk patroli di sepanjang Jl. Raya Sukowati mulai dari Jembatan Garuda ke timur sampai Toserba Luwes, kemudian di ring road utara ke arah Ngrampal, dan di batas kota sebelah timur. Dia memetakan tiga lokasi itu yang sering dijadikan ajang bagi remaja untuk menyalurkan hobi balapan.
“Kalau balapan liar ya bukan, tetapi lebih ada kenakalan remaja yang mengarah pada mengendarai motor tanpa kelengkapan. Kami terus tingkatkan kegiatan patroli. Kami mengimbau kepada masyarakat yang mengetahui hal-hal seperti itu bisa melapor ke polisi,” ujarnya.
Dani menjelaskan aksi balapan di Krido Anggo itu tidak terdeteksi waktunya sehingga polisi kesulitan mengawasi. Peristiwa Minggu dini hari itu, kata dia, menjadi pembelajaran bagi Satlantas untuk memperbaiki kinerja dalam patroli di malam hari.
Salah satu member Info Cegatan Wilayah Sragen (ICWS), Dedy, mengatakan peristiwa balapan liar itu sering dilakukan pada waktu tengah malam sampai dinihari. Dia mengatakan peristiwa pembalap yang dihajar itu memang sengaja diviralkan. “Yang datang bukan hanya warga Sragen tetapi warga dari beberapa daerah juga,” tuturnya.(Tri Rahayu/JIBI)