Terus Bersolek Demi Tamu

Akhmad Ludiyanto

Di Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, ada sekitar 50 homestay yang dikelola warga setempat. Total jumlah kamarnya sekitar 150 buah dengan beragam fasilitas sesuai kemampuan pemiliknya.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Samiran, Dayang Nevia Afriansari, mengatakan saat ini belum ada klasifikasi homestay yang resmi. “Kami masih menunggu klasifikasi homestay dari Kementerian Pariwisata. Tetapi kalau berdasarkan yang sudah ada, di sini ada sepuluh yang sudah mandiri dan sudah berjualan melalui e-commerce juga, 25 termasuk maju, dan sisanya [15] termasuk rintisan,” ujarnya saat berbincang dengan Koran Solo, di Samiran, Senin (11/2).
Dalam setahun rata-rata pengunjung homestay di Samiran mencapai 5.000 orang, 20% atau 1.000 di antaranya adalah pengunjung asal mancanegara yang hampir semuanya adalah pendaki Gunung Merapi dan Merbabu.
Sementara itu, semua pemilik homestay masih ingin terus mengembangkan homestay-nya masing-masing. Dengan adanya bantuan pembiayaan dari BUMN PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) untuk pengembangan sarana homestay di Desa Samiran disambut baik pemilik tempat tinggal sementara wisatawan ini.
Terlebih pinjaman lunak dengan total dana yang disediakan senilai Rp700 juta ini diberikan tanpa agunan melalui pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) setempat. Selain itu, tidak ada prioritas pinjaman bagi homestay-homestay tertentu berdasar “klasifikasi” tersebut.
Sarjono, 60, pemilik Homestay Ananda sangat berminat mengakses pinjaman untuk memperbaiki homestay-nya. “Lantai homestay saya masih rabat. Kalau pengajuan saya disetujui, saya ingin pinjam untuk mengganti lantai itu dengan keramik,” ujar Sarjono.
Pemilik homestay lain di Desa Samiran, Sukirman, 50, juga mengatakan hal senada. “Kami masih butuh mempercantik kamar mandi agar lebih nyaman. Karena di homestay saya kamar mandinya satu dipakai bersama-sama. Dapur juga hanya satu dan dipakai bersama-sama,” kata pemilik Homestay Putri ini.