TRANSPORTASI UDARA NYIA Diminati Banyak Maskapai Asing

JOGJA—Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) masih dalam proses pembangunan.

Taufiq Sidik Prakoso
redaksi@koransolo.co.id

Meski demikian, sejumlah maskapai asing berminat untuk membuka rute penerbangan seperti maskapai dari Qatar, Turki, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Korea.
General Manager PT. Angkasa Pura (AP) I Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta, Agus Pandu Purnama, mengatakan NYIA akan membuka peluang lebih besar bagi maskapai.
“Tiga pekan lalu kami juga keda-tangan dari Kemenhub[Kementerian Perhubungan]-nya Australia,” kata saat menggelar jumpa pers di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Sabtu (16/2).
Pandu menyebut Australia me-nyatakan Yogyakarta justru bakal menjadi destinasi utama. Salah satu keunikan Yogyakarta yakni hampir semua destinasi ada mulai dari pantai, gunung, kebudayaan, dan lainnya. Perwakilan dari Australia juga sudah melakukan survei di DIY. “Dari Australia menyampaikan bahwa Yogyakarta kemungkinan menjadi destinasi utama karena sudah begitu overload-nya di Bali karena hampir semua negara tertuju ke Bali. Australia merencanakan penerbangan antarkota misalkan dari Sidney langsung ke Jogja dari Brisbane langsung ke Yogyakarta,” kata dia.
Dijelaskan Pandu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan memverifikasi bandara yang dibangun di pesisir selatan Kabupaten Kulonprogo, DIY itu pada pertengahan Maret.
Verifikasi dilakukan dari sisi udara hingga darat untuk memastikan kelayakan bandara yang ditargetkan mulai beroperasi pada April 2019. “Pada 14-15 Maret kami akan mengundang Kemenhub untuk memverifikasi apakah bandara ini [NYIA] siap beroperasi atau tidak. Nanti tergantung penilaiannya seperti apa. Termasuk airnya bagaimana pasokan listrik bagaimana,” ujar Pandu.
Jika dinyatakan layak, awal April mendatang NYIA siap dioperasikan melayani penerbangan internasional. Pandu menjelaskan NYIA baru melayani dua rute penerbangan yakni Yogyakarta ke Malaysia dan Singapura saat beroperasi April 2019, memindahkan rute penerbangan internasional di Bandara Adisutjipto. Rute penerbangan domestik masih dilayani di Bandara Adisutjipto. Selama ini, ada enam penerbangan ke Malaysia dan Singapura yang dilayani di Bandara Adisutjipto melalui maskapai Silk Air dan Air Asia.
Pada April mendatang, NYIA beroperasi pukul 06.00 WIB-18.00 WIB. Setelah sisi udara dan darat bandara itu rampung pada Desember 2019, NYIA bakal dioperasikan selama 24 jam.
Target
Manajer Proyek Pembangunan NYIA dari AP I, Taochid Purnomo Hadi, mengatakan proyek pembangunan terus bergulir guna mengejar target NYIA beroperasi April mendatang. Ia menjelaskan dalam sehari produksi beton untuk kebutuhan sisi udara dan darat bandara mencapai 6.000 ton/hari. Jika lebar jalan sekitar 7 meter, pelaksana proyek bisa membangun jalan hampir 5 km per hari.
Saban pekan, AP menggelontorkan Rp125 miliar kepada kontraktor dalam hal ini PT Pembangunan Perumahan (PP). “Dana sebesar itu untuk dihabiskan. Kalau tidak habis, kami marahi. Justru kalau minta lebih, kami kasih. Itu yang kami siapkan untuk mengejar target bahwa April harus sudah memindahkan Bandara Adisutjipto,” tutur dia.
Taochid mengatakan nilai total kontrak proyek pembangunan NYIA mencapai Rp6,1 triliun. Sejak proyek dimulai pada Oktober 2018, dana Rp1,8 triliun sudah digelontorkan. “Saat ini sudah sampai pekan 30-an. Hampir Rp2 triliun yang sudah dibelanjakan PP,” kata dia.
Soal pelayanan navigasi penerbangan, Taochid menjelaskan lahan seluas 1 hektare (ha) disiapkan guna pembangunan kantor dan tower AirNav yang saat ini masih berlangsung dan ditarget rampung April 2019. Namun, saat operasi minimum, tower AirNav belum bisa difungsikan lantaran masih menunggu datangnya peralatan pendukung navigasi penerbangan.
Sebagai pengganti sementara, modular tower yang masih dirakit di Bandung dan awal Maret akan dibawa ke NYIA. “Tempat sudah disiapkan. Untuk tingginya 9 meter dengan peralatan-peralatannya yang diperlukan. Artinya, ketika verifikasi pada Maret insya Allah kesiapan dari AirNav sudah siap termasuk personel,” tutur dia.
Sementara, Perum Damri sudah menyiapkan sejumlah lintasan guna mendukung pengoperasian NYIA. Hal itu termasuk rute NYIA ke stasiun terdekat yakni Stasiun Wojo, Purworejo. Damri menyiapkan layanan shuttle atau transportasi penghubung seperti dari Stasiun Wojo ke NYIA. “Terkait Stasiun Wojo kami gunakan shuttle. Kami sudah survei dengan panjang rute sekitar 5 km. Kami akan mengoperasikan HIAce,” kata Kadiv Operasi Damri, Suyanto.