PMI dan Jepang Gelar Kegiatan Tanggap Bencana

SUKABUMI—Palang Merah Indonesia dan Jepang menggelar kegiatan Masyarakat Bengkulu Tangguh Bencana yang merupakan rangkaian dari program pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.
”Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap kesiapan masyarakat dan memberikan sosialisasi pengurangan risiko bencana, serta pertolongan pertama dan perawatan keluarga bagi masyarakat Kota Bengkulu,” kata Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Pusat Letjen (Purn) Sumarsono melalui sambungan telepon, Selasa (19/2).
Menurutnya, saat ini PMI Provinsi Bengkulu melalui dukungan PMI Pusat dan Palang Merah Jepang (JRCS) tengah mengadakan program pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Langkah ini dilakukan untuk mendorong keterlibatan masyarakat agar lebih peduli dan tangguh dalam dalam rangka kesiapsiagaan bencana, salah satunya dengan membentuk Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT). Sehingga ketika terjadi bencana diharapkan warga setempat bisa langsung turun tangan menanganinya.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai penguatan mitigasi di Kota Bengkulu sekaligus menjadi ajang promosi, publikasi, dan evaluasi serta sosialisasi pengurangan resiko melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam hal pertolongan pertama dan perawatan keluarga.
Selain itu, dalam kesempatan ini pula PMI bersama pemerintah daerah dan mitra melalukan penanaman magrove di pusat edukasi atau pendidikan tentang ekosistem mangrove atau hutan bakau di kawasan pesisir Kelurahan Sumberjaya, Kota Bengkulu sebagai salah satu langkah mitigasi bencana tsunami. ”Edukasi mangrove tersebut ditujukan sebagai ruang belajar bagi masyarakat untuk lebih mengenal ekosistem mangrove dan fungsinya sebagai mitigasi bencana sekaligus dapat dikembangkan sebagai objek wisata,” tambahnya.
Sementara itu, Cooperation Division International Department JRCS National Head Quarter Tokyo Japan Yuki Aoki, mengatakan pihaknya mengapresiasi dengan adanya kerja sama yang dilakukan bersama PMI Provinsi Bengkulu terutama pemerintah daerah yang sudah mendukung program ini.
”Saat ini peran yang paling penting dari dukungan program ini untuk meningkatkan kesadaran dan peningkatan pengetahuan, serta kapasitas masyarakat dalam rangka upaya kesiapsiagaan bencana,” katanya.
Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana caranya memberikan penyadaran dan pemahaman kepada masyarakat dalam upaya kesiapsiagaan bencana sebagai ketahanan masyarakat tangguh bencana. (JIBI/Antara)