11 Bahasa Daerah Telah Punah

JAKARTA—Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Dadang Sunendar, mengatakan sebanyak 11 bahasa daerah di Tanah Air dikategorikan punah.

redaksi@koransolo.co

”Terdapat 11 bahasa yang dikategorikan punah, empat bahasa kritis, 22 bahasa terancam punah, dua bahasa mengalami kemunduran, 16 bahasa dalam kondisi rentan punah, dan 19 bahasa berstatus aman,” kata Dadang di Jakarta, Kamis (21/2).
Hal itu diungkapkan Dadang dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati setiap 21 Februari. Dia menjelaskan, dari 668 bahasa daerah yang telah dicatat dan diidentifikasi tersebut, baru 74 bahasa yang telah dipetakan vitalitas atau daya hidupnya.
Pemetaan itu belum termasuk ragam dialek dan sub-dialek bahasa daerah di Indonesia.
Ke depan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa akan mengidentifikasi bahasa daerah di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat untuk penuntasan pemetaan bahasa daerah di Indonesia.
”Jumlah hasil pemetaan tersebut tentunya akan bertambah, seiring bertambahnya jumlah daerah pengamatan dalam pemetaan berikutnya,” ujar Dadang.
Menurut Dadang Sunendar jika anak-anak baru belajar bahasa daerah di sekolah, maka itu sudah sangat terlambat. ”Apalagi penutur Indonesia adalah penutur yang trilingual, menguasai paling tidak tiga bahasa. Saya rasa di sini juga banyak yang bahasa ibunya langsung bahasa Indonesia, bukan lagi bahasa daerah,” ungkap Dadang.
Menurut Dadang, salah satu penyebab punahnya bahasa daerah adalah keengganan orang tua mengajari bahasa daerah sebagai bahasa ibu di rumah masing-masing. Karena itu, dia mengimbau agar upaya pelestarian bahasa daerah bisa dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga.
Selain itu, Dadang juga menyoroti minimnya peran kepala daerah atau pemerintah daerah dalam upaya pelindungan bahasa dan sastra daerah di Indonesia. Dadang menyebut kehilangan bahasa sangat genting, sebab kehilangan bahasa berarti kehilangan daya kreativitas dan keberagaman intelektualitas sebagai realisasi kemanusiaan. Kepunahan bahasa berarti pula kematian kekayaan batin kelompok etnis pengguna bahasa.
Mengutip UNESCO, ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga, sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah.(JIBI/Antara)