Asa Baru Penderita Kanker Kolon

Achmad Badri (43) merasa ada yang aneh ketika buang air besar atau BAB, sebab feses keluar bersamaan dengan darah dan lendir, tetapi, dia belum ambil pusing. Dia menduga hal itu terjadi karena kelelahan atau salah makan.
Kejadian BAB berdarah terus terjadi selama 3 hari, akhirnya dia berobat ke dokter umum. Oleh dokter dia didiagnosis mengalami wasir atau ambeien. Setelah minum obat beberapa saat, tidak lagi terjadi perdarahan. Namun, ketika Achmad berhenti minum obat, kejadian yang sama terulang kembali. Bahkan frekuensi BAB semakin tinggi hingga 5—10 kali sehari.
Akhirnya, dia berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Rupanya BAB berdarah yang dialaminya itu terjadi karena kanker kolorektal atau kanker usus besar. Achmad akhirnya harus menjalani colostomy dan terapi target untuk kanker.
Kanker usus besar merupakan jenis kanker yang tumbuh pada usus besar. Menurut dokter spesialis bedah dan ahli kanker saluran cerna Fajar Firsyada, kanker pada usus besar umumnya adalah solid cancer atau kanker yang berbentuk.
Usus manusia terdiri dari dua bagian yaitu usus besar dan usus halus. Usus besar dibagi menjadi dua bagian juga yakni kolon (di bagian atas) dan rektum di bagian bawah hingga anus). “Usus besar itu seperti huruf U terbalik, dibagi menjadi usus besar kiri dan kanan,” katanya.
Profil usus besar kanan dan kiri berbeda satu dengan lainnya. Berdasarkan anatominya, menurut Fajar, apabila kanker usus besar terjadi di sebelah kanan, umumnya kejadiannya lebih buruk dibandingkan kanker usus besar di sebelah kiri.
“Sebanyak 75% kanker usus besar terjadi di rektum, yaitu usus besar bagian bawah yang bisa teraba dengan jari colok dubur,” kata dokter dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta ini.
Hal ini karena kanker usus besar tersebut dekat dengan anus maka terjadi perdarahan yang membuat BAB berdarah. Sayangnya, pandangan masyarakat awam BAB berdarah sering dinilai sebagai wasir. Jarang sekali orang langsung curiga bahwa keadaan ini merupakan kanker.
Anemia
Keluhan yang lain adalah BAB berlendir, diare kronis berulang, dan anemia. “Kemudian apabila kanker membuat dinding usus mengecil, akhirnya feses yang keluar juga kecil-kecil seperti kotoran kambing,” katanya. Anemia juga menjadi salah satu gejala kanker usus besar yang nyata. Penderita umumnya tampak pucat dan lemas. “Kalau ada gejala anemia atau perdarahan yang tidak tampak nyata, perlu dicurigai kanker usus besar di sisi kanan,” tambahnya.
Setelah pemeriksaan klinis, pemeriksaan feses melalui laboratorium diperlukan. Dengan perkembangan keilmuan medis, dapat pula dilakukan pemeriksaan M2PK untuk menentukan apakah perlu dilakukan kolonoskopi.
Fajar mengatakan, pemeriksaan kolonoskopi dengan memasukkan kamera dari anus. Dari situ akan ketahuan apakah lapisan dalam usus mengalami kelainan atau tidak. “Kalau ada radang dan kolitis yang dibiarkan karena tidak diketahui, hal tersebut dapat memicu kanker usus besar,” katanya.
Pada tahap awal, dengan kemajuan teknologi, kanker yang masih terbatas pada mukosa dapat dilakukan pembuangan melalui endoskopi, tanpa pembedahan. “Kalau kanker ditemukan sejak dini, tidak perlu dilakukan pembedahan bahkan pemotongan usus,” katanya.
Namun, apabila kanker telanjur meningkat stadiumnya, mau tidak mau harus dioperasi dan ditangani dengan pengobatan yang lebih kompleks. Pada sebagian orang yang mengalami kanker usus besar di bagian rektum, usus bahkan anus harus dipotong dan dibuang.
Penanganan ini disebut dengan kolostomi atau pembuatan lubang di dinding perut sebagai pengganti anus untuk mengeluarkan feses.
Pada bagian itu kemudian ditempelkan kantong untuk menampung feses setiap hari. Achmad merupakan salah satu penderita kanker usus besar yang harus dikolostomi.
Penyebaran jauh dari kanker usus besar dapat terjadi pada organ tubuh lainnya. “Kalau kanker terjadi di kolon dapat menyebar ke hati, kalau di rektum justru penyebarannya ke paru-paru,” kata Fajar.
Menurut Fajar sebanyak 20% kanker usus besar disebabkan oleh faktor genetik atau diturunkan, dan sisanya 80% kanker bersifat sporadik atau didapatkan karena berbagai faktor. “Secara khusus pola makan, apakah kita yakin bahwa makanan yang selama ini kita makan tidak mengandung karsinogenik yang memicu kanker?” kata Fajar. Makanan-makanan instan dan makanan olahan yang dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama dapat memicu kanker usus besar. Selain itu, konsumsi daging merah berlebih, makanan yang dibakar, makanan yang tinggi kolesterol, dan makanan yang kurang serat termasuk pencetus kanker.
“Bukan tidak boleh mengonsumsi makanan itu, tetapi jangan berlebihan,” kata Fajar.
Dukung Pejuang Kanker
Pada fase kanker stadium 4 akan ditemukan penyebaran kanker melalui pemeriksaan USG abdomen dan CT-scan.“Begitu stadium di atas tiga, perlu dilakukan terapi tambahan yaitu kemoterapi, radiasi, hormonal, maupun terapi lainnya,” katanya.
Hampir 80% pasien kanker datang berobat setelah stadium 3. Kalau stadiumnya sudah lanjutnya maka pengobatan yang perlu dilakukan harus kompleks. Salah satunya adalah terapi target.
Targeting therapy atau terapi target merupakan terapi yang dilakukan yang langsung menyasar pada sel dari kanker tanpa mengganggu sel-sel sehat di sekitarnya. “Jadi, terapi ini tidak merusak sel yang sehat seperti yang terjadi pada kemoterapi,” ujar Fajar.
Penanganan kanker dengan terapi target umumnya hanya dilakukan pada pasien kanker stadium 4 dan disesuaikan dengan pemeriksaan bio molekuler sel kanker.
Ada terapi target yang dapat dikombinasi dengan kemoterapi, tetapi ada pula yang menargetkan pembuluh darah sehingga kanker tidak semakin menyebar. “Dengan terapi target, ada penambahan angka harapan hidup bagi para penderita kanker,” katanya.
Sekretaris Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC) Valencia Maria Usman mengatakan bahwa harapan hidup yang dimiliki oleh pejuang kanker itu yang harus terus dipacu.
“Kami sebagai komunitas pendukung para pejuang kanker berharap bahwa pihak-pihak terkait Jaminan Kesehatan Nasional lebih memperhatikan keluhan dan hak pasien,” katanya.
Dalam program pengendalian kanker, CISC berharap bahwa pemerintah dapat lebih memperhatikan kebutuhan pasien kanker di Indonesia. “Mereka sangat rindu untuk sehat kembali, itulah sebabnya kita perlu mendukung mereka,” katanya.
Sejauh ini CISC telah melakukan dukungan moral, emosional, dan psikososial terhadap penderita dan keluarga pasien kanker. “Kami juga ingin meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kanker dengan memberikan edukasi pada masyarakat,” tambahnya.
CISC memiliki support group untuk pasien kanker setiap bulannya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Para pasien kanker dan keluarga dari luar Jakarta juga dapat mendatangi rumah singgah CISC yang terletak di daerah sekitar area RS Dharmais di Slipi, Jakarta Barat dan di sekitar area RSCM wilayah Pramuka Jakarta Pusat. (JIBI/Bisnis Indonesia/ Tika Anggreni Purba)