Hari Peduli Sampah Nasional Jangan Sekadar Seremoni

JOGJA—Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang diadakan di Pantai Kukup, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, jangan hanya sampai pada seremonial. Namun yang terutama menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk buang sampah pada tempatnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Agus Priyanta, menuturkan Hari Peduli Sampah merupakan agenda tahunan, namun efek yang diberikan terus berkelanjutan. Menurut dia, dengan terbitnya PP Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenisnya merupakan salah satu efek lanjutan dari peringatan Hari Peduli Sampah.
”Peraturan itu didisposisikan ke tingkat kabupaten dengan target pengelolaan sampah dari hulu ke hilir,” ujar Agus kepada Harian Jogja, Kamis (21/2).
Menurut Agus, pengelolaan sampah dari hulu ke hilir maksudnya adalah setiap pihak yang mengelola sampah harus mendapat keuntungan. Ia mencontohkan, pemilihan sampah mana yang punya nilai jual yang dilakukan di bank sampah.
Di sisi lain, pihaknya tengah melakukan edukasi kepada masyarakat dengan cara tidak akan mengambil sampah rumah tangga jika sampah tidak dipilah berdasarkan jenisnya. ”Dalam upaya mengedukasi tentu ada hambatannya yakni ada yang menolak, sebab warga merasa sudah membayar retribusi sampah jadi harus diambil,” ujarnya.
Kepala Bidang Pengendalian, Pencemaran dan Pengembangan Kapasitas (Kabid PP2P) DLH Gunungkidul, Mujiyana, mengatakan Pemkab Gunungkidul sudah menetapkan dua zonasi tersebut berdasarkan letak topografi. Pembagian zonasi merujuk pada ketinggian kontur lahan dan aksesbilitas yang mempengaruhi kegiatan masyarakat.
“Zona satu atau wilayah utara dan tengah menggunakan lokasi pemrosesan sampah di TPA Baleharjo, sedangkan zona dua akan melayani wilayah selatan dengan menggunakan lokasi pemrosesan akhir di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu [TPST] Banjarejo,” ucap Mujiyana kepada Harian Jogja, Kamis (21/2)
Dia menyatakan jumlah sampah rumah tangga di Gunungkidul setiap harinya mencapai 360 ton per hari. Dari 360 ton sampah, sekitar 323 ton sampah setiap harinya belum tertangani. “Penanganan yang baru bisa dilakukan setiap harinya hanya 35 ton,” imbuhnya.
Disinggung soal upaya penanganan sampah yang baru bisa dikelola 35 ton perharinya, DLH berencana mengajukan revisi Peraturan Daerah (Perda) tentang pengelolaan. Dalam Perda tersebut nantinya semua desa harus punya lembaga yang mengurusi soal sampah, bentuknya dapat berupa bank sampah atau Jaringan Pengelola Sampah Mandiri (JPSM).
TPS 3R setiap harinya hanya mampu menangani sampah sebanyak enam ton, bank sampah satu ton per hari, dan pengangkutan sampah 29 ton perhari. Komposisi sampah paling banyak didominasi oleh sampah makanan sekitar 53%, daun atau ranting sekitar 16%, serta sampah plastik atau kardus sekitar lima persen. (JIBI/Harian Jogja/Rahmat Jiwandono)