Kanker Serviks Berkembang Secara Laten

Serviks merupakan bagian reproduksi perempuan yang paling dekat dengan vagina. Apabila terjadi kanker pada serviks, biasanya terjadi perubahan bentuk pada mulut rahim semacam massa yang berbentuk kembang kol.

Tika Anggreni Purba
redaksi@jibinews.co

Penyakit kanker serviks merupakan penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Setiap satu jam, sebanyak satu orang perempuan meninggal dunia akibat kanker serviks. “Setiap hari dilaporkan terjadi 41 kasus baru, padahal kanker serviks merupakan salah satu kanker yang dapat dicegah,” ujar dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi, Grace Valentine.
Kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi Human Papiloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18 ini mengancam semua perempuan yang aktif seksual.
Menurut Grace, kanker serviks tidak hanya menyerang perempuan yang berganti pasangan. “Bahkan perempuan yang hanya memiliki satu pasangan saja dapat mengalaminya,” katanya lagi.
Setelah terinfeksi virus, kanker berkembang diam-diam dan perlahan. Setidaknya membutuhkan waktu 3—17 tahun kanker dapat terjadi. Kanker serviks mengalami fase-fase dari pra kanker, hingga memasuki stadium lanjut.
“Memang penyakit ini slow growing, tetapi penyebarannya sangat cepat di Indonesia,” kata dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan onkologi ginekologi RS Pondok Indah–Pondok Indah Jakarta, Fitriyadi Kusuma.
Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari dirinya mengalami kanker serviks karena gejala penyakit ini tidak kentara. Gejala dan keluhan umumnya baru muncul ketika kanker sudah memasuki stadium 2 atau lebih.
“Biasanya terjadi keputihan berulang meski sudah diobati, juga perdarahan pascasenggama, itu merupakan gejalanya yang paling kentara,” katanya.
Akan tetapi, penyebab dan kehadiran kanker serviks sebetulnya dapat dideteksi. Justru karena sifatnya yang berkembang diam-diam dan perlahan, pencegahan dan penanganan sejak dini dapat dilakukan sesegera mungkin.
Menurut Fitriyadi, diperlukan fase yang panjang dari tahap infeksi sampai menjadi kanker, karena HPV memiliki masa inkubasi selama 9—12 bulan. Setelah itu, baru terjadi fase lesi pra kanker yang memiliki tiga sub yakni atypical, low grade lession, dan high grade lession.
“Apabila terus berkembang tanpa terdeteksi, baru terjadi kanker. Pada fase low grade lession, masih ada kemungkinan infeksi HPV menghilang,” katanya lagi.
Virus Selektif
Fitriyadi menjelaskan bahwa HVP merupakan jenis virus yang sangat selektif. Virus ini hanya berkembang di lingkungan yang sesuai. Beberapa faktor risiko yang menyebabkan kanker serviks adalah menikah pada usia muda (15—20 tahun), berganti-ganti pasangan, infeksi kencing nanah, sifilis, herpes, dan HIV.
“Mengonsumsi pil KB tertentu dapat memicu perkembangan HPV, tetapi tidak menyebabkan infeksi HPV,” jelasnya. Selain itu kekurangan vitamin C, D, E, asam folat, dan mineral juga dapat menjadi faktor risiko.
Seluruh faktor risiko itu dapat diminimalisasi apabila dilakukan pencegahan sejak dini. Perempuan dapat menghindari terjadinya kanker serviks melalui pemeriksaan berkala dan teratur setiap tahun. Pemeriksaan organ reproduksi kewanitaan dapat mendeteksi adanya lesi pra kanker.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan tes inspeksi visual asetat (IVA) yang sangat sederhana, mudah, dan murah. “Mulut rahim dibalur dengan asam cuka 25%, kemudian reaksi yang terjadi akan dianalisis,” katanya.
Selain itu, pemeriksaan papsmear juga dapat dilakukan. Dalam pemeriksaan papsmear dilakukan pengambilan contoh sel-sel eksfoliasi dari lapisan epitel serviks. “Apabila terjadi infeksi HPV, biasanya ketika sel tersebut diperiksa di laboratorium akan tampak tidak normal,” katanya.
HPV juga dapat diperiksa melalui tes DNA HPV, pemeriksaan molekuler yang dapat mendeteksi kemungkinan timbulnya pra kanker meski belum terjadi perubahan pada sel. Selain itu, pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan kolposkopi, yakni dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar dan mengamati bagian yang terinsfeksi. Alat ini juga bisa digunakan untuk melakukan biopsi terarah.
Demi mencegah penyebaran virus HPV, sebaiknya melakukan vaksinasi HPV. Vaksin HPV membantu pencegahan infeksi HPV sub tipe 16 dan 18. Akan sangat maksimal manfaatnya apabila diberikan pada seseorang yang belum pernah melakukan hubungan seks. Namun, bagi perempuan yang sudah aktif secara seksual juga tetap dianjurkan.
“Vaksinasi ini dapat dilakukan oleh wanita berusia mulai 9—55 tahun, meski masa terbaik adalah pada 9—12 tahun. Vaksinasi akan dilakukan tiga kali yakni 0 bulan, 1–3 bulan, dan 6 bulan,” tutur Fitriyadi.
Cek Dan Sadari
Dari segi pemberi fasilitas pelayanan kesehatan, salah satu inovasi pencegahan dini kanker serviks telah dilakukan oleh Puskesmas Senen di Jakarta. Inovasi tersebut bernama Cek dan Sadari, yakni pencegahan kanker serviks dengan menggunakan sinergi antara aplikasi dan mobile deteksi kanker healthcare innovation of mobile service for community of Senen (Hibiscus).
“Biasanya masyarakat, apalagi perempuan usia subur umur 30-50 tahun tidak mau datang ke fasilitas kesehatan karena merasa tidak sakit, padahal [siapa tahu] di situ sudah ada bibit yang mengarah pada kanker serviks,” ujar dokter gigi Kristy Wathini, Kepala Puskesmas Senen.
Karena itulah, lanjutnya, Puskesmas Senen membuat aplikasi untuk memetakan perempuan yang belum melakukan pemeriksaan IVA di sebuah wilayah tertentu.
“Setelah dipetakan kami langsung turun ke masyarakat dengan mobil Hibiscus untuk melakukan pemeriksaan IVA,” katanya.
Dia menuturkan, pemeriksaan IVA sebenarnya mudah tetapi masyarakat jarang mau datang untuk diperiksa. Itulah sebabnya Puskesmas Senen ingin menjemput bola.
“Hasilnya, sekitar 2.088 orang sudah diperiksa dan 56 orang terdeteksi lesi kanker serviks. Puskesmas kemudian menindaklanjuti hasil pemeriksaan tersebut sampai tuntas dan melakukan pengecekan berkala untuk memeriksa status lesi kanker,” katanya. (JIBI/Bisnis Indonesia)