SOLO GREAT SALE 2019 UMKM Kritik Promosi dan Sosialisasi SGS

SOLO—Jelang berakhirnya Solo Great Sale (SGS) 2019, sejumlah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menilai pelaksanaan tak membawa dampak signifikan terhadap penjualan mereka. Sosialisasi dan promosi penyelenggara dinilai minim. Alhasil, sebagai peserta mereka tak memperoleh keuntungan yang signifikan.
Salah satu pemilik tenant kerajinan tangan asal Solo, Yuni, mengatakan ia berpartisipasi sebagai peserta SGS 2019 dengan tujuan memasarkan produk aksesori handmade buatannya. Kebetulan ia baru membuka usaha aksesori handmade vintage ini beberapa bulan lalu.
“Saya kira dengan ikut SGS, usaha saya bisa ikut dipromosikan. Akan tetapi, yang terjadi saya justru yang harus promosi SGS sendiri. Saya sebagai pemilik tenant rugi. Saya sudah kasih diskon, tapi enggak memperoleh feedback yang bagus,” ujarnya, kepada Koran Solo, Rabu (27/2).
Menurut dia, selama sebulan penyelenggaraan SGS dia sudah berpromosi khususnya kepada pelanggan lama soal diskon dan kesempatan memenangkan undian lewat penukaran poin belanja. Namun, dia perlu kerja keras untuk menjelaskan kepada pelanggan baru karena mereka tidak tahu SGS.
Selain itu, dia juga menilai input data transaksi terlalu ribet. Semula ia beranggapan data transaksi bisa diinput di mana saja sesuai tempat yang telah ditentukan berkaitan dengan kelengkapan alat input. Akan tetapi, kenyataannya tidak. Di sisi lain, sebagai peserta ia juga tidak tahu info lebih lanjut mengenai SGS hingga kapan pengundian hadiahnya.
Ketua Forum UMKM Solo, Roni Prasetyo, mengatakan antusiasme anggotanya untuk ikut berpartisipasi sebagai peserta SGS menurun tahun ini. Menurut dia, sosialisasi dan promosi jadi masalah utama sehingga mereka enggan kembali meramaikan SGS.
“Saya lihat untuk tahun ini tidak banyak teman-teman UMKM yang ikut, khususnya dari Forum UMKM Solo. Hal ini karena promo dinilai kurang gereget daripada tahun lalu. Selain itu, hasil yang mereka dapatkan dari segi penjualan juga tidak ada peningkatan,” papar dia.
Ia mencontohkan salah satu rekannya pemilik Dapur UmiQu, Ummi Azzam, bercerita promo SGS tahun lalu lebih bagus daripada tahun ini sehingga ia memilih tak ikut serta. Hal serupa diungkapkan rekannya, Renata, dari Pukis Badran. Ia mengapresiasi langkah yang dilakukan penyelanggara untuk mendongkrak perekonomian di masa low season dengan bulan diskon tersebut.
“Kalau memang ekonomi baru lesu sekitar Januari-Maret karena berbagai macam hal tentunya, apa dengan event seperti ini akan membuat orang untuk belanja lebih banyak dari biasanya? Saya pikir tidak. Tapi, tetap saya apresiasi langkah yang bagus ini. Usahanya sudah bagus banget buat ngangkat masa sepi perekonomian,” jelas dia.
Sebelumnya, SGS 2019 tinggal menghitung hari jelang penutupan, tapi transaksi yang tercatat selama penyelenggaraan bulan diskon ini baru mencapai Rp450 miliar atau 75% dari target, Selasa (26/2). Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Solo selaku penyelenggara menargetkan transaksi selama SGS untuk kali kelima ini senilai Rp600 miliar. Di sisi lain, nilai transaksi nontunai di pasar tradisional masih minim.
Sekretaris SGS 2019, David R Wijaya, mengatakan transaksi SGS yang tercatat hingga Senin (25/2) mencapai Rp450 miliar. Dia optimistis transaksi bisa bertambah signifikan. “Total transaksi yang sudah direkap itu kebanyakan masih pembayaran tunai. Kami yakini masih banyak datanya yang belum terinput sehingga kami juga jemput bola ke tenant-tenant. Dalam hal ini panitia siap membantu input data,” jelas dia. (Farida Trisnaningtyas)