Jangan Tunggu Pendengaran Terganggu

Dalam telinga yang sehat tentu ada pendengaran yang baik dan jernih. Fungsi organ pendengaran yang baik akan mendukung aktivitas dan produktivitas setiap hari.
Bayangkan, bila ada sedikit saja gangguan kecil pada telinga kita, maka kehidupan bisa jadi tak nyaman. Bahkan bila gangguan telinga tidak diatasi. Dampak fatalnya bisa saja telinga menjadi tuli.
Untuk memahami jenis gangguan telinga ada baiknya kita mengenali anatomi telinga terlebih dahulu.
Dokter spesialis THT-KL Zainal Adhim menjelaskan bahwa telinga manusia terdiri dari telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Masing-masing bagian telinga ini dapat mengalami masalah dengan faktor risikonya masing-masing.
Bagian telinga luar terdiri dari daun telinga, liang telinga, hingga membran timpani atau gendang telinga. Menurut Zainal pada bagian ini sering terjadi gangguan akibat kotoran telinga (serumen) yang menyumbat sehingga menimbulkan gangguan pendengaran.
“Pada bagian telinga ini juga dapat terjadi infeksi sehingga liang telinga menyempit,” ujarnya.
Masuknya benda asing ke dalam liang telinga juga dapat menimbulkan masalah pada pendengaran. Sebetulnya, papar Zainal, kelenjar keringat pada telinga luar akan selalu memproduksi kotoran telinga yang dapat keluar dengan sendirinya ketika kita tengah mengunyah atau menguap.
Salah kaprahnya, kita sering kali menggunakan alat pembersih seperti cotton bud untuk membersihkan telinga. Padahal secara tidak langsung kebiasaan ini dapat mendorong sebagian atau keseluruhan kotoran telinga semakin ke dalam.
Nah, apabila kotoran telinga masuk sampai 2/3 bagian dalam telinga, kotoran tersebut tidak bisa keluar sendiri. Kalau menumpuk, akibatnya saluran pendengaran akan terganggu dan berkurang.
Pembersihan yang sembarangan juga dapat menyebabkan lecet pada telinga sehingga terjadi pembengkakan yang menyebabkan saluran telinga sempit. Hal ini juga dapat membuat hantaran udara terganggu sehingga suara tidak terdengar dengan baik.
Di belakang gendang telinga, terdapat bagian telinga tengah yang terdiri dari tulang-tulang pendengaran. Masalah yang paling sering terjadi pada bagian ini adalah trauma atau kecelakaan yang menyebabkan tulang pendengaran mengalami dislokasi maupun rusak. “Kejadian ini pun sering kali menimbulkan gangguan pendengaran,” katanya.
Masalah pada telinga juga bisa terjadi ketika seseorang tengah mengalami flu, batuk, dan pilek. Telinga, hidung, dan tenggorokan manusia terhubung melalui saluran bernama eustachius. Saluran ini akan terbuka ketika seseorang mengunyah, menelan, atau menguap. Terbukanya saluran eustachius membuat tekanan pada telinga tengah dan telinga luar menjadi sama.
“Akan tetapi ketika pilek, ada inflamasi atau radang maka ini membuat saluran jadi sempit dan tertutup sehingga tekanan menjadi tidak seimbang, ini juga membuat pendengaran menurun,” ujarnya.
Infeksi yang terjadi pada hidung ketika flu juga bisa menyebar ke telinga sehingga terjadi pula infeksi pada telinga. Inilah yang membuat penderita flu terkadang mengalami telinga berair.
Pada bagian telinga dalam, persoalan yang sering terjadi terkait dengan rumah siput. Pada rumah siput hanya terdapat satu pembuluh darah. Apabila terjadi penyumbatan pembuluh darah pada otak alias strok, fungsi pendengaran juga dapat terganggu dan menurun.
Kasus gangguan pendengaran karena terganggunya pembuluh darah ini dapat disebabkan oleh faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, dan pengentalan darah. “Saraf dalam rumah siput yang cacat atau rusak karena infeksi atau terganggunya pusat pendengaran pada otak juga dapat menyebabkan tuli,” kata dokter spesialis THT Sri Susilawati.
Dia mengingatkan agar batuk pilek sebaiknya ditangani dengan baik agar infeksinya tidak masuk ke telinga tengah. Bila penyakit seperti infeksi sinus dan infeksi tonsil berjalan terus hingga kronis, infeksi tersebut justru bisa sampai pada tulang pendengaran telinga.
Waspadai Bising
Selain kebiasaan mengorek telinga, penggunaan headset atau headphone juga sebaiknya lebih bijaksana.
Menurutnya, kesalahan dalam penggunaan headset dapat menyebabkan penurunan pendengaran. “Ini karena saraf dalam rumah siput melemah akibat suara yang terlalu keras dan bising,” katanya. Agar pendengaran tetap aman, Sri menyarankan untuk menggunakan headset atau semacamnya maksimal 60 menit dengan volume 60%, setelah itu telinga diistirahatkan selama 1 jam. Zainal mengatakan penggunaan headset secara terus-menerus dapat menyebabkan gangguan pendengaran karena bising atau noise induced hearing loss.
Zainal menambahkan, apabila terjadi gangguan pendengaran akibat bising, sifat umumnya permanen alias tidak dapat diperbaiki, hal ini terutama terjadi karena sel rambut dalam koklea rusak.
Suara bising umumnya dimulai dari frekuensi 4.000 Hertz. Prinsipnya, kata Zainal, suara yang merusak pendengaran adalah 80 dB dalam waktu 8 jam.
“Berada dalam konser musik dengan pengeras suara yang lebih dari 85 dB juga bisa merusak saraf pendengaran,” katanya lagi. Saraf pendengaran juga dapat terganggu karena suara mesin motor dan klakson mobil yang keras.
Soal telinga berdengung, jangan khawatir. Menurut Zainal, telinga yang berdengung dalam jangka waktu pendek beberapa detik bukanlah masalah yang besar. Hal ini menjadi masalah apabila telinga berdengung terus menerus dalam jangka waktu tidak sebentar.
Sri mengatakan, telinga berdengung dapat disebabkan oleh tertutupnya saluran eustachius akibat flu. Saraf dalam rumah siput yang melemah juga dapat menimbulkan bunyi dengung.
Apabila terdapat keluhan telinga seperti nyeri, atau keluhan pendengaran seperti rasa tersumbat, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Jangan mengobati telinga sembarangan tanpa pengawasan dokter. (JIBI/Bisnis Indonesia/Tika Anggreni Purba)