Jauh dari Pelayanan Bank Konvensional Permukiman Terpencil, Warga Terjerat Rentenir

SRAGEN—Kalangan warga di permukiman terpencil, tepatnya di Desa Gilirejo Lama, Kecamatan Miri, Sragen, yang berbatasan langsung dengan Waduk Kedung Ombo (WKO) menjadi sasaran empuk para rentenir.

Moh. Khodiq Duhri
redaksi@koransolo.co
Para rentenir ini menawarkan pinjaman dengan suku bunga yang tinggi yakni mencapai 20%. Sekadar pembanding, bunga kredit usaha rakyat (KUR) yang dikelola bank konvensional saat ini hanya mencapai 7%.
“Saya sendiri pernah utang Rp1.000.000 kepada ’bank plecit’ itu. Angsurannya setiap pekan Rp100.000. Nanti diangsur selama 12 kali sehingga total saya harus mengembalikan Rp1.200.000. Jadi bunganya ya Rp200.000 itu,” jelas Lasmi, 40, warga Dusun Pringapus, Desa Gilirejo Lama, Kecamatan Miri, Sragen, saat ditemui Koran Solo di lokasi, Senin (4/3).
Setiap pekan sekali, rentenir itu datang untuk menagih angsuran. Ada kalanya Lasmi terpaksa tidak mengangsur utangnya karena sedang banyak “sumbangan” atau karena uangnya digunakan untuk kepentingan lain yang dirasa lebih penting. “Memang bunganya lebih besar daripada pinjam ke bank resmi. Tapi, tidak semua pinjaman ke bank resmi itu bisa disetujui sehingga kami larinya ya ke ’bank plecit’,” ujar Lasmi.
Kebanyakan warga yang berutang ke rentenir itu punya pengalaman tak bisa mengajukan utang ke bank konvensional. Bisanya mereka dinilai punya rapor merah di BI checking lantaran tidak tertib dalam mengangsur pinjaman. Lasmi menjelaskan, setiap pekan para rentenir ini berkeliaran di permukiman terpencil seperti Gilirejo Lama. “Ada sekitar empat orang yang biasa datang ke permukiman. Mereka mendatangi rumah-rumah warga, khususnya yang punya usaha toko kelontong untuk ditawari utang. Kalau mau utang syaratnya cuma foto kopi KTP,” paparnya.
Medan Sulit
Hal senada juga dikemukakan Ari, warga setempat. Dia mengaku kerap melihat rentenir itu terlibat transaksi dengan warga sekitar. Dia menilai, jauhnya jarak permukiman dengan kantor bank konvesional juga memengaruhi tingginya minat mengajukan utang kepada rentenir. Sekadar catatan, jarak Desa Gilirejo Lama dengan BRI Unit Girimargo yang berada di Kota Kecamatan Miri berkisar 15 km. Dengan medan naik turun, berkelok-kelok serta banyak permukaan jalan yang rusak membuat warga memilih cara yang lebih praktis dan mudah dalam berutang.
“Itu sudah lama berlangsung. Saya tidak tahu mereka [rentenir] dari mana. Mereka biasa datang pakai sepeda motor. Setahu saya ya ada lebih dari empat yang mondar-mandir untuk menagih angsuran dan menawarkan pinjaman kepada warga sekitar,” ucap Ari.
Joko Murtanto, 39, warga Dusun Gilirejo Lama mengatakan tidak hanya kepada rentenir, warga sekitar juga banyak berutang kepada pedagang perkakas rumah tangga bermobil atau yang biasa disebut mindring. “Ini adalah permukiman terpencil, wajar kalau warga memilih membeli perkakas kepada mindring yang datang ke mari. Bayarnya biasanya memang diangsur. Setiap pekan mindring itu datang untuk menagih angsuran,” ucap Joko.