Calon Anggota Legislatif Firlie: Sistem Pendidikan Harus Dirombak

SOLO—Calon anggota legislatif (caleg) DPR Partai Golkar dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV Jawa Tengah (Jateng) yang meliputi Kabupaten Karanganyar, Sragen dan Wonogiri, Firlie Hanggodo Ganinduto, 40, memberikan perhatian lebih terhadap pembenahan sistem pendidikan di Tanah Air.
Bahkan pemuda yang aktif di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) itu menilai perlunya reformasi total sistem pendidikan negeri ini. Tujuannya agar sistem pendidikan formal di Tanah Air lebih berkualitas bagi generasi penerus bangsa.
Pendapat itu disampaikan Firlie saat diwawancara Koran Solo di Warung Upnormal Jl. Adi Sucipto Solo, Sabtu (2/3) lalu. “Sistem edukasi kita harus direformasi total. Artinya harus benar-benar dirombak ulang sistem edukasi atau pengajaran di Indonesia. Harus di review apakah sudah tepat,” ujar dia.
Firlie menilai sistem pendidikan di Tanah Air selama ini terkesan formalitas. Dia mencontohkan sedikitnya pelajaran tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA), yang masih diingat hingga kita sudah tumbuh remaja dan dewasa.
“Kalau kita tanya generasi kita kan pasti lupa karena memang waktu itu formalitas dan kita dituntut untuk mengikuti pelajaran waktu itu. Ini yang salah. Seharusnya pengajaran-pengajaran itu difokuskan untuk membuat kreativitas para siswa berkembang semakin luas,” imbuh dia.
Untuk mewujudkan sistem pendidikan seperti itu, menurut Firlie, perlu adanya perubahan kurikulum pendidikan nasional. Harus ditentukan bahannya apa saja, dan subjeknya siapa. Dia teringat saat masih menempuh pendidikan jenjang SMP di Tanah Air dengan 15 mata pelajaran.
Kreativitas
Padahal saat menempuh pendidikan jenjang SMA di Mellbourne, Australia, Firlie hanya mendapat lima hingga enam pelajaran. “Siswa harus dipacu kreativitasnya. Sehingga tidak akan ditemukan anak-anak yang merasa terpaksa saat mengikuti pelajaran di sekolah,” sambung dia.
Salah satu ciri sistem pendidikan berhasil, menurut Firlie, adalah rasa suka siswa saat harus berangkat ke sekolah. Dengan rasa suka itu pikiran anak-anak akan terbuka menerima materi pelajaran. Salah satu caranya dengan memberikan porsi dominan pembelajaran praktikum.
Konsep seperti itu sudah diterapkan di sekolah-sekolah luar negeri seperti Australia. Porsi praktikum di sekolah di sana sekitar 75 persen, sisanya baru pembelajaran teoritis. Aspek lain pembenahan pendidikan di Tanah Air menurut Firlie adalah mewujudkan pendidikan gratis.
Konsep tersebut sudah berhasil diterapkan pemerintah India beberapa tahun terakhir. Alhasil sudah banyak pemuda India yang menduduki posisi penting di perusahaan-perusahaan dunia. “Pendidikan gratis ini harus bisa diwujudkan merata di berbagai belahan Tanah Air,” tekad dia. (Kurniawan)