Seluruh Dunia Terancam

Berdasarkan pengalaman baru, hujan menjadi lebih sering terjadi di Greenland dan mempercepat pencairan es di kawasan itu. Lapisan es Greenland tengah dipantau dengan seksama karena menahan air beku dalam jumlah besar. Jika semua es tersebut mencair, tinggi permukaan laut akan meningkat hingga tujuh meter, mengancam pusat-pusat populasi pesisir di seluruh dunia. Termasuk Indonesia. Berikut laporan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@jibinews.co

ara ilmuwan mengaku terkejut saat mengetahui hujan terus turun bahkan di tengah musim dingin Arktik. Bintik-bintik air biasanya turun sebagai salju di musim dingin, daripada sebagai air hujan yang bisa menyeimbangkan pencairan es yang terjadi selama musim panas.
Para ilmuwan mempelajari foto-foto lempengan es dari satelit yang menunjukkan area-area yang mengalami pencairan es. Mereka lantas mengombinasikan semua foto tersebut dengan data yang dikumpulkan dari 20 stasiun cuaca otomatis yang merekam waktu terjadinya hujan.
Hasil temuannya sudah dipublikasikan dalam jurnal The Cryosphere. Hasil menunjukkan meski di masa-masa awal penelitian hujan terjadi dua kali selama musim dingin, angka tersebut meningkat menjadi 12 kali pada 2012.
Pada lebih dari 300 kejadian antara 1979-2012, peneliti menemukan hujan memicu pencairan es. Sebagian besar kejadian terjadi pada musim panas, ketika temperatur udara mencapai angka di atas nol derajat. Namun peningkatan hujan terjadi justru pada bulan-bulan musim dingin ketika kegelapan total musim dingin di kutub diperkirakan dapat menjaga suhu udara tetap berada di bawah titik beku.
Penulis utama penelitian The Cryosphere, Dr Marilena Oltmanns dari pusat penelitian laut Geomar di Jerman, mengatakan kepada BBC News, “Kami terkejut terjadi hujan di musim dingin. Ini masuk akal karena kami melihat adanya aliran udara hangat yang naik dari selatan, tetapi tetap mengejutkan saat menyadari hal itu berhubungan dengan turunnya hujan,” kata Oltmanns, Sabtu (9/3).
Peneliti lain dalam studi tersebut, Prof Marco Tedesco dari Columbia University di New York, mengatakan peningkatan aktivitas hujan memiliki dampak penting. Meskipun hujan turun di musim dingin, lalu es yang mencair kembali membeku, hujan tersebut mengubah karakteristik permukaan lapisan es, membuatnya lebih halus dan gelap, dan dipersiapkan untuk mencairkan es lebih cepat ketika musim panas tiba.
Semakin gelap es, semakin banyak panas yang terserap dari cahaya Matahari, lalu membuatnya mencair lebih cepat. “Ini membuka pintu ke suatu dunia yang amatlah penting untuk dipelajari. Dampak potensial atas perubahan yang terjadi di musim dingin dan musim semi terhadap apa yang terjadi pada musim panas harus dipahami,” kata Prof Tedesco.
Permukaan yang lebih halus, khususnya yang berbentuk lensa es, akan memudahkan cairan es mengalirinya lebih cepat dan menjadi lebih gelap yang berarti semakin banyak cahaya Matahari yang diserap, lalu mempercepat proses penghangatan. Foto-foto yang diambil oleh tim peneliti Inggris, ketika terjebak hujan badai di antara lapisan es tahun lalu, menunjukkan betapa hamparan es dan salju yang terang dan menyilaukan berubah menjadi padang yang lebih gelap.
Dampak Global
Meskipun Greenland merupakan sebuah kawasan terpencil, sebuah pulau besar yang terletak di ujung utara Samudera Atlantik, tetapi nasib es yang menutupi seluruh kawasannya dapat memiliki dampak global yang besar. Dahulu saat kondisinya stabil, turunnya salju di musim dingin akan menyeimbangkan volume es yang mencair atau es yang pecah dan terlepas ke lautan yang terjadi di musim panas. Namun penelitian menunjukkan dalam beberapa dekade terakhir, lapisan-lapisan es kehilangan semakin banyak massa.
Meskipun hal ini hanya menyebabkan kenaikan permukaan laut yang tidak signifikan, di mana sebagian besar sisanya berasal dari ekspansi termal seiring penghangatan samudera, ketakutan utamanya adalah terjadinya percepatan aliran cairan es seiring meningkatnya suhu lingkungan. Dua tahun lalu, BBC melaporkan dari Greenland terkait risiko semakin cepatnya pencairan es, karena pertumbuhan ganggang yang membuat warna es semakin gelap dan cenderung menghangat.
Dampak yang dibawa ganggang, selain penggelapan warna es, disebabkan oleh jelaga dan bentuk polusi lain yang terbawa angin ke Artik. Hal ini muncul di tengah berkembangnya kekhawatiran kawasan tersebut secara keseluruhan menghangat dua kali lebih cepat dibandingkan kawasan lainnya di planet Bumi, yang mungkin mempengaruhi aliran jet stream, arus udara berkecepatan tinggi di ketinggian.
Hal ini dapat mengganggu pola cuaca di Eropa dan kawasan lainnya, dan juga dapat menjadi penyebab aliran udara yang hangat dan lembab dari Atlantik mencapai Greenland, bahkan di tengah musim dingin.
Profesor Jason Box, ahli glasiologi yang tidak terlibat dalam penelitian itu, menyatakan penelitian tersebut dilakukan berdasarkan penelitian lebih awal yang dilakukan ia dan rekan-rekannya yang sudah dipublikasikan pada 2015 lalu, di mana mereka menemukan hujan musim panas dapat menaikkan tingkat pencairan. Penelitian mereka menemukan karena air mengandung konten bersuhu hangat yang tinggi, maka hanya memerlukan curah hujan sebesar 14 milimeter untuk mencairkan salju setebal 15 sentimeter, bahkan ketika salju itu bersuhu di bawah 15 derajat celsius. “Ada ambang batas sederhana, titik cair, dan ketika suhu udara berada di atas angka tersebut, maka yang turun adalah hujan, bukan salju. Maka, di tengah iklim yang semakin hangat, bukan hal yang aneh jika kita melihat lebih banyak hujan ketimbang salju, dan ini adalah alasan lainnya mengapa lapisan es mengalami defisit, alih-alih surplus,” kata Box.
Profesor Box mengalami sendiri ketika hujan badai tiba-tiba turun ketika ia tengah berkemah di atas lapisan es. Setelah berminggu-minggu terpapar sinar Matahari, tiba-tiba hujan turun dan langsung mengubah total permukaan es, menjadi lebih gelap. “Dan saya teryakinkan, hanya dengan berada di sana dan melihat langsung dengan mata kepala saya sendiri, hujan sama berperannya dengan terik Matahari dalam mencairkan lapisan es di Greenland,” kata Box.
Indonesia Terdampak
NASA telah meluncurkan sebuah peralatan Internet yang memperkirakan kota-kota dunia yang akan terkena dampak dan mencairnya lapisan, seperti diungkapkan para peneliti. Melalui peralatan itu, bisa terlihat bagaimana perkiraan air yang mencair dari es itu terdistribusi secara global. “Peralatan itu memberikan untuk setiap kota, gambaran tentang gunung es, lapisan es, maupun puncak es yang mana yang amat penting,” tutur para peneliti.
Jangan menganggap karena Indonesia jauh dari kawasan gunung es, maka tidak akan terkena dampak dari mencairnya gunung maupun lapisan es di Kutub Utara atau Selatan. Sebab menurut para ilmuwan, perputaran Bumi dan efek gravitasi akan membuat air dari gunung maupun lapisan es akan menyebar ke seluruh dunia. Jakarta, misalnya, berdasarkan perkiraan para ilmuwan maka akan terkena dampak dari peningkatan permukaan laut setinggi, 1,713 mm.
Laporan tentang prediksi peningkatan permukaan laut tersebut sudah diterbitkan di Science Advances. “Sejalan dengan kota-kota dan negara-negara yang berupaya membangun rencana untuk mengurangi banjir, mereka harus berpikir 100 tahun ke depan jika ingin mengkaji risiko dengan cara yang sama dilakukan oleh perusahaan asuransi,” kata Erik Ivins.
Ivins menambahkan peralatan baru ini memberikan cara bagi mereka untuk melihat lapisan es yang seharusnya paling mereka khawatirkan. Melalui peralatan itu maka terlihat juga peningkatan permukaan air laut yang signifikan akibat dari perubahan di lapisan es di sebelah bagian barat laut Greenland.
Seorang ilmuwan lain Eric Larour mengatakan ada tiga proses utama yang mempengaruhi jejak permukaan laut atau istilah untuk pola perubahan permukaan laut di seluruh dunia. Pertama adalah grafiti.
“Hal itu [lapisan-lapisan es] adalah massa besar yang mengerahkan daya tarik ke laut, ketika es menyusut, daya tarik tersebut berkurang dan laut akan menjauh dari massa itu,” kata Larour.
Sejalan dengan daya tarik-dorong itu, daratan di bahwa lapisan es yang mencair akan mengembang secara vertikal, karena sebelumnya ditekan oleh lapisan es yang berat. Faktor terakhir yang mempengaruhi adalah planet yang berputar.
“Anda bisa memikirkan Bumi yang beputar,” kata Larour. Pada saat berputar, dia bergoyang dan pada saat massa di permukaan berubah, maka goyangannya juga berubah. Hal itu, pada gilirannya meredistribusi air di seluruh Bumi.
Dengan memperkirakan semua faktor tersebut ke dalam kalkulasi, maka para peneliti mampu membangun sebuah peralatan prakiraan untuk kota-kota dunia tersebut. “Kami bisa menghitung kepekaan yang tepat, untuk kota tertentu, tentang permukaan laut untuk setiap massa es di dunia,” jelas Larour. (JIBI/detik.com/advances.sciencemag.org)