Permohonan Ratna Sarumpaet Belum Dikabulkan

JAKARTA—Terdakwa kasus penyebaran hoaks Ratna Sarumpaet kembali menjalani persidangan terkait kasus penyebaran berita bohong alias hoaks, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (12/3). Ini merupakan sidang ketiga.
Ibunda Atiqah Hasiholan itu berangkat dari rumah tahanan (rutan) Polda Metro Jaya sekitar pukul 08.20 WIB, dengan dikawal pihak kepolisian dan juga kejaksaan.
Dengan didampingi Atiqah Hasiholan, dia menuju PN Jaksel. Ratna mengaku kondisinya saat ini sedang sehat. Dalam sidang ini, Ratna berharap persidangan berjalan dengan adil.
Dalam sidang, dia kembali mengajukan permohonan untuk menjadi tahanan kota. Meskipun Ketua Majelis Hakim Joni dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Rabu (6/3), lalu menolak permohonan tahanan kota Ratna Sarumpaet.
”Masih diajukan lagi [untuk tahanan kota]. Waktu itu kan sudah ditolak, kami ajukan lagi,” ujar Ratna di Polda Metro Jaya seusai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), seperti ditulis liputan6.com, Selasa (12/3).
Dalam hal ini, mantan anggota pemenangan Prabowo-Sandiaga itu menyebutkan kalau ada orang baru yang akan jadi penjamin dirinya.
”Karena ada juga penjamin baru ya, Fahri Hamzah,” kata Ratna.
Sebelumnya, terdakwa Ratna Sarumpaet menjalani persidangan lanjutan terkait kasus penyebaran berita bohong alias hoaks dengan agenda pembacaan nota keberatan atau eksepsi. Seusai tim kuasa hukum Ratna membacakan eksepsi, majelis hakim menyatakan belum dapat mengabulkan permohonan penangguhan penahanan.
”Majelis hakim sampai saat ini belum dapat mengabulkan tersebut,” tutur Ketua Majelis Hakim Joni.
Menurut hakim, pihaknya belum menemukan adanya alasan yang mendesak untuk mengabulkan penangguhan penahanan Ratna.
”Karena menurut majelis belum ada alasan yang urgent untuk penangguhan penahanan dan di persidangan terdakwa dinyatakan sehat,” jelas dia.
Jaksa mendakwa Ratna Sarumpaet telah menyebarkan berita bohong kepada banyak orang yang dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Apalagi, berita bohong yang disebarkannya itu dinilai telah menimbulkan pro dan kontra.
Jaksa penuntut umum mendakwa Ratna Sarumpaet dengan dakwaan alternatif.
”Dakwaan kesatu Pasal 14 ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau dakwaan kedua Pasal 28 ayat 2 jo 45A ayat 2 UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,” ujar jaksa.
Sementara pada dakwaan kedua, jaksa menduga Ratna Sarumpaet dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, ras atau antar golongan (SARA).
”Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45 A ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,” tutur jaksa. (JIBI)