Dilaporkan ke Polisi karena dituding menampar sopir Camat Sambi Bantah Menganiaya

BOYOLALI—Camat Sambi, Kabupaten Boyolali, Hari Haryanto, dilaporkan oleh warga asal Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Klaten, Veri Dwi Saputro, 30, atas tudingan melakukan tindak kekerasan terhadap pelapor.

Nadia Lutfiana Mawarni
redaksi@koransolo.co

Veri mengaku dipukul dan ditampar Hari pada Senin (11/3) sekitar pukul 22.15 WIB di kawasan jalan Solo-Semarang tepatnya di perempatan Randusari, Teras, Boyolali.
Sementara itu, Camat Hari mengaku tidak pernah melakukan tindakan penamparan dan pemukulan seperti yang dituduhkan. Hari mengaku kejadian itu tidak benar adanya.
Kepada Koran Solo, Selasa (12/3), Veri mengaku sebelum kejadian dirinya tengah mengemudikan bus karyawan PT Hanil Indonesia Nepen, Teras, Boyolali untuk mengantarkan karyawan pulang. Awalnya Veri mendahului mobil bernomor pelat merah AD 79 D yang dikemudikan oleh Hari. Saat lampu merah, Hari keluar mobil, dan menghampiri Veri yang juga berhenti sambil menggedor pintu. ”Kemudian dia [Hari] langsung memukul dan menampar hingga memar dan lebam,” tutur Veri saat dihubungi Koran Solo.
Kasubbag Humas Polres Boyolali, AKP Edy Lilah, mewakili Kapolres AKBP Kusumo Wahyu Bintoro membenarkan perihal pelaporan itu. Veri mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Boyolali sekitar pukul 13.00 WIB . ”Laporan tersebut telah ditangani dan kasusnya diduga masuk perbuatan pidana pasal 352 KUHP, pelakunya masih dalam proses penyelidikan,” ujar dia.
Sementara itu, saat ditemui Koran Solo di aula Kantor Kecamatan Sambi, Hari menyebutkan tudingan terhadapnya salah besar. “Saya tidak merasa melakukan itu sama sekali, tapi ada yang tega melaporkan saya entah untuk kepentingan apa,” ujar dia.
Menurutnya penamparan dan pemukulan terhadap Veri dengan dalih tidak terima karena kendaraan disalip merupakan perbuatan yang tidak logis. “Untuk apa seperti itu?” imbuhnya.
Terkait dirinya yang dilaporkan Veri ke polisi, Hari enggan berkomentar banyak. Dirinya hanya menyebut sejauh ini belum melakukan tindakan hukum apa pun. “Saya tidak tahu, kalau dilaporkan biar polisi yang berbicara,” imbuhnya.
Pada Rabu, Veri memberikan penjelasan tambahan bahwa saat kejadian dirinya yang melaju di sebelah kanan ingin mendahului mobil Hari yang ada di sisi kiri. Di depan mobil Hari ada truk pasir yang juga ingin didahului oleh Veri. “Di depan sebenarnya kosong, tapi tiba-tiba ada motor keluar gang dari arah berlawanan,” imbuh Veri.
Untuk menghindari motor, Veri membunyikan klakson yang dia arahkan ke mobil Hari dan truk pasir. Maksudnya agar bus yang dikendarainya diberi jalan untuk mepet ke kiri. Namun, saat itu Hari enggan menepikan mobilnya. Alhasil bus Veri tetap melaju ke jalur kiri, sangat mepet dengan mobil Hari. “Meski mepet saya yakin saat itu enggak kena [menyerempet],” tukasnya.
Veri kemudian membuka jendela bus dan melambaikan tangan ke arah Hari tanda dia meminta maaf. Hingga sampai ke perempatan Randusari bus yang dikemudikan, Veri berhenti di depan mobil Hari. Hari kemudian turun dari mobil dan menggedor pintu bus, kemudian memukul dan menampar Veri. Saat itu Hari marah lantaran di mobil dia sedang bersama istri dan dua anaknya. “Katanya itu membahayakan istri dan anak-anaknya,” ujar Veri. (JIBI)