Driver Go-Jek Protes Model Tarif Baru

BAYU JATMIKO ADI
redaksi@koransolo.co

SUKOHARJO—Penyesuaian tarif baru Go-jek memantik ratusan mitra (driver) Go-Jek di wilayah Soloraya berunjuk rasa, Rabu (13/3).
Mereka mendatangi kantor perwakilan Go-Jek di Solo Baru, Sukoharjo, untuk menyampaikan keberatan kebijakan yang dinilai merugikan tersebut.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
”Kami memrotes kebijakan tarif Go-Jek yang kurang berpihak kepada mitra. Kami menyampaikan aspirasi kepada Kantor Go-Jek di Solo agar mau memberikan kebijakan yang lebih rasional,” kata koordinator aksi unjuk rasa, Didik Prakoso Andrianto, kepada wartawan di Alun-alun Selatan Keraton Solo, Rabu (13/3).
Dia menyampaikan pendapatan per satu order Go-Ride jarak pendek sekarang hanya Rp4.000. ”Tuntutan kami tidak banyak, yaitu per 3 km agar tidak ada potongan,” kata dia.
Didik mengatakan sebelumnya terdapat subsidi sekitar Rp2.400 untuk setiap order jarak pendek. Dengan begitu, selain Rp4.000 dari pengguna juga ada tambahan subsidi sehingga driver bisa menerima Rp6.400 per order jarak pendek.
Dia menjelaskan sesuai kebijakan yang baru, sekarang minimal order adalah 2,4 km dengan tarif Rp2.100/km. ”Jadi kami dapat Rp5.000, masih dipotong Rp1.000 atau 20% [untuk Go-Jek]. Jadi driver hanya dapat Rp4.000. Itu mulai 4 Maret,” kata dia. Pihaknya berharap tarif atau pendapatan driver dapat dikembalikan seperti semula.
Setelah berkumpul di Alun-alun Selatan Keraton Solo, para driver Go-Jek lalu berangkat menuju kantor perwakilan Go-Jek di Solo Baru. Beberapa wakil driver melakukan pertemuan dengan petugas perwakilan di kantor tersebut. Namun kantor perwakilan Go-Jek di Solo Baru tidak mau memberikan keterangan karena keterangan harus langsung dari Go-Jek pusat.
Terpisah, VP Corporate Affairs Go-Jek, Michael Reza, mengatakan insentif adalah bonus tambahan yang diberikan Go-Jek demi menjaga kualitas layanan. Skema insentif akan selalu menyesuaikan kondisi pasar karena tujuan utama skema insentif adalah untuk mengupayakan titik temu terbaik antara permintaan pelanggan dan ketersedian mitra Go-Jek.
”Fokus kami terkait kesejahteraan tidak hanya terbatas pada tarif dan insentif. Salah satu bentuk perwujudan aspirasi mitra adalah diluncurkannya berbagai program kesejahteraan mitra, melalui program Go-Jek Swadaya,” kata dia melalui keterangan tertulis, Rabu. “Program ini dapat meringankan pengeluaran sehari-hari mitra, memberikan akses kepada program asuransi terjangkau, serta memberikan akses kepada berbagai program pengaturan keuangan bagi masa depan mitra dan keluarganya,” kata dia.
Michael menambahkan selain masalah skema insentif, manajemen Go-Jek juga tengah memprioritaskan perbaikan kebijakan sistem suspensi. ”Melalui sesi kopdar secara berkala, kami rutin berdiskusi dengan mitra driver aktif kami. Sesi-sesi kopdar selama beberapa bulan belakangan ini membahas mengenai kebijakan suspension sehingga dapat lebih mudah dipahami dan terkomunikasikan dengan baik,” kata dia kepada Koran Solo melalui pesan tertulisnya.
Di sisi lain, Go-Jek juga berkomitmen untuk terus meningkatkan kemudahan dan kenyamanan mitra driver dalam bekerja. Sejalan dengan hal tersebut, Go-Jek telah menerapkan sistem alokasi order yang baru. Pada sistem yang baru, kedekatan dengan titik lokasi bukanlah satu-satunya parameter dalam pembagian order. Order yang dibuat oleh konsumen akan disebarkan kepada mitra yang berada pada radius tertentu.
”Kemudian, mitra yang paling rajin atau yang tidak pilih-pilih order, memiliki rating tinggi, berpeluang lebih besar untuk mendapatkan order tersebut,” kata dia.
Melalui sistem yang baru itu, dia mengklaim jumlah mitra driver yang berbuat curang menggunakan fake GPS atau GPS palsu dapat berkurang. Sistem baru ini menurut dia juga secara tidak langsung membuat pengguna mendapat kualitas pelayanan yang lebih baik. (JIBI)