DIDUGA KORUPSI APB DESA SENILAI RP300 JUTA Kades Girimulyo Diperiksa Kejari

KARANGANYAR—Kejari Karanganyar memeriksa Kepala Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Suparno, karena diduga terlibat kasus korupsi anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes).
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karanganyar, Suhartoyo, saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis (14/3), menyampaikan kasus itu sudah masuk tahap penyidikan. Artinya kasus itu sudah ada tersangkanya, namun Kejari belum mau menyebut siapa. Kejari sudah memproses kasus itu sejak sembilan bulan lalu.
”Ada penyimpangan pengelolaan dana desa dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sudah penyidikan melibatkan kepala desa aktif. Aparatur pemerintah daerah kalau melanggar harus dikoordinasikan dengan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah [APIP]. Makanya terkesan [proses penyelidikan] molor padahal sudah maraton. Dari penyelidikan dinaikkan ke penyidikan,” kata Kajari.
Penyidik sudah mengantongi lebih dari dua alat bukti untuk menjerat tersangka yang masih dirahasiakan. Suhartoyo menyampaikan dugaan kerugian negara lebih dari Rp300 juta akibat penyelewengan pengelolaan APBDes Girimulyo pada 2017 itu. Salah satu bentuk penyimpangannya adalah proyek yang seharusnya dikerjakan tetapi tidak dikerjakan alias fiktif. Ada juga pekerjaan yang dilakukan sebagian tetapi tidak rampung.
”Padahal laporan pertanggungjawaban pekerjaan rampung. Dugaan kerugian sementara Rp300 juta lebih. Itu kami temukan dan memenuhi syarat. Kami masuk, indikasi, koordinasi Inspektorat dan sependapat betul ada temuan,” jelas dia. Kajari menyampaikan sudah memanggil 34 saksi.
Kepala Desa Girimulyo, Suparno, saat dihubungi Koran Solo menyampaikan permohonan agar berita tersebut tidak ditayangkan. Pesan itu disampaikan melalui pesan singkat. Tetapi saat berbincang melalui telepon, Suparno membenarkan dipanggil Kejari beberapa waktu lalu.
”Iya memang dipanggil Kejari beberapa waktu lalu. Bayan saya juga dipanggil. Enggak tahu lah itu [dipanggil soal] ADD [alokasi dana desa] atau DD [dana desa]. Sekarang belum bisa banyak menyampaikan,” ujar dia saat dihubungi Koran Solo, Kamis. (Sri Sumi Handayani/JIBI)