Rumah sakit hidayah boyolali akan diperiksa Bocah SD Meninggal Pascaoperasi Amandel

BOYOLALI—Dinkes Boyolali mengirimkan tim ke Rumah Sakit Hidayah Boyolali untuk melakukan klarifikasi atas kasus Muhammad Ahsan
Arrosyid, 8, yang meninggal dunia sesaat menjalani operasi amandel di Rumah Sakit tersebut, Selasa (12/3).

Akhmad Ludiyanto
redaksi@koransolo.co
Bocah warga Dukuh Karangkidul, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Boyolali itu meninggal dunia satu jam setelah menjalani operasi amandel di Rumah Sakit Hidayah. Pihak rumah sakit menyatakan proses operasi sudah dilakukan sesuai prosedur, namun tetap akan melakukan audit medis.
Kepala Dinkes Boyolali, Ratri S. Survivalina, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan resmi dari pihak rumah sakit atas kasus itu. “Hari ini [Kamis, 14/3] akan kami perintahkan tim pembina kami agar besok [hari ini] ke RS Hidayah untuk mengklarifikasi adanya kasus itu. Memang, selama kegiatan medis berjalan normal, rumah sakit tidak dilaporkan. Tetapi, karena kasus ini menjadi perhatian masyarakat melalui media, kami akan lakukan namanya klarifikasi rumor,” ujarnya saat ditemui di kompleks Alun-alun Kidul Boyolali, Kamis.
Klarifikasi yang akan diminta menyangkut prosedur-prosedur yang dilakukan rumah sakit dalam menangani pasien tersebut. “Jika prosedur-prosedur sudah dijalankan semuanya, artinya rumah sakit sudah melakukan hal yang benar. Sebaliknya, jika ada unsur kelalaian, akan ada sanksi yang disesuaikan dengan tingkat kelalaian tadi,” imbuhnya.
Ratri tidak menampik bahwa selain upaya penanganan pasien oleh tim medis, ada penentu lain yakni Tuhan. “Kalau prosedur, memang harus dijalankan secara maksimal atau harus 100 persen. Tapi meski sudah begitu, Tuhan bisa saja berkehendak lain sehingga pasien kemudian meninggal dunia. Dan ini tidak hanya sekali. Makanya akan kami cek bagaimana prosedur yang dijalankan rumah sakit ini melalui tim kami itu nanti.”
Terpisah, kakak kandung Ahsan, Fajar ingin meluruskan berita yang sudah tersebar yang menyebut adiknya itu sempat siuman setelah operasi sebelum akhirnya meninggal dunia. “Kami ingin menegaskan bahwa adik saya belum sempat siuman. Adik saya belum sadar sejak keluar ruang operasi hingga kemudian masuk lagi ke ruang ICU beberapa saat kemudian,” ujarnya kepada Koran Solo.
Ahsan merupakan siswa kelas 1 SDIT Ibnu Umar Mojosongo. Jenazahnya langsung dimakamkan keluarga pada Rabu (14/3) di permakaman dekat rumahnya.  Ayah Ahsan, Wakidi, mengatakan anaknya memang menderita amandel dan oleh dokter spesialis telinga hidung tenggorokan (THT) dinyatakan harus dioperasi. Namun setelah menjalani operasi, Ahsan justru meninggal dunia.
“Seharusnya operasinya Selasa [5/3] pekan lalu. Tapi saat itu kondisi Ahsan sedang tidak fit, sedang masuk angin sehingga operasinya ditunda sepekan [Selasa, 12/3]. Selain itu, saat itu Ahsan juga masih menjalani UTS [ujian tengeh semester] sehingga biar selesai dulu ujiannya, setelah itu baru operasi,” ujarnya seusai acara pemakaman.
Pada hari-H operasi, Ahsan datang ke rumah sakit sejak pagi dan langsung diminta puasa sebelum menjalani operasi. “Jam 10 [pagi] dia sudah tidak makan dan minum apa-apa, karena operasinya katanya sore,” imbuhnya. Selama menunggu, Ahsan berada di ruang IGD sampai pada akhirnya dia mendapat giliran operasi sekitar pukul 17.00 WIB. Menurutnya, operasi berjalan sekitar 1 jam dan selanjutnya dibawa ke ruang pemulihan. Tetapi, kondisi Ahsan kian menurun dan terlihat pucat. Bahkan pada bagian mata mengalami pembengkakan. Hingga kemudian dibawa perawat ke ruang intensive care unit (ICU). “Di ICU pun kondisinya belum membaik. Anak saya sempat dipacu-pacu dengan alat pemacu jantung, tetapi sepertinya sudah tidak tertolong. Sampai pada akhirnya kami diberi tahu bahwa Ahsan sudah meninggal,” ujar Sukidi seraya menundukkan kepalanya.
Sukidi sempat menanyakan perihal kondisi yang dialami anaknya sehingga meninggal dunia. “Pihak rumah sakit mengatakan sudah berusaha sebaik-baiknya,” kenang Sukidi.
Pihak keluarga menyatakan ikhlas atas kepergian Ahsan dan tidak akan menuntut pihak rumah sakit.
Ditemui terpisah, Direktur RS Hidayah, Ida Wulandari, mengatakan prosedur medis dalam operasi Ahsan sudah dijalankan. Selain itu, operasi amandel yang tergolong operasi ringan itu juga berjalan lancar sekitar 30 menit tanpa masalah. “Masuk ruang operasi pukul 17.30 WIB dan pukul 18.00 WIB sudah selesai. Karena dia dibius total, dia tidak sadar dan setelahnya dilakukan diobservasi di recovery room. Pukul 18.30 WIB sudah sadar dan sudah ada respons. Tanda vital sudah bagus. Lalu layak pindah ke ruangan,” ujarnya.
Setelah itu, terjadi situasi tak terduga hingga akhirnya Ahsan meninggal dunia. “Kami garis bawahi, prosedur medis sudah kami jalankan. Tapi ini di luar prediksi. Sehingga karena ada kasus seperti ini harus ada audit medis. Kami akan kumpulkan semua yang terlibat penanganan pasien ini untuk mengetahui penyebabnya,” ujarnya. Namun audit medis ini belum dapat dilakukan karena sebagian anggota tim yang menangani langsung, termasuk dokter spesialis THT, dokter spesialis anestesi, dan perawat sedang ada kegiatan lain di luar kota. “Dokter spesialis THT yang menangani hari ini sedang ada dinas di Semarang. Tapi sudah kami rencanakan segera audit medis kalau sudah ada semua,” kata dia. (JIBI)