Dunia Mengutuk Penembakan di Masjid Selandia Baru

R. BAMBANG ARIS SASANGKA

JAKARTA—Para pemimpin dan tokoh politik dari berbagai penjuru dunia mengutuk serangan teror penembakan massal di dua masjid Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3).
Serangan itu sejauh ini menewaskan 49 orang dan melukai puluhan orang lainnya, banyak di antara mereka dalam kondisi luka serius, setelah penyerang yang sejauh ini diidentifikasi berjumlah satu orang pelaku menembaki jemaah Salat Jumat di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood.
Korban terbesar ada di di Masjid Al Noor di mana 41 orang tewas. Tujuh orang lainnya tewas dalam serangan yang terjadi hampir di waktu bersamaan di Masjid Linwood. Tiga di antara tujuh korban tewas itu ditembak di jalan, sementara korban ke-49 meninggal dunia di rumah sakit.
Sebanyak 48 orang korban lainnya yang mengalami luka tembak dilarikan ke Rumah Sakit Christchurch, 20 orang di antara mereka dilaporkan dalam kondisi serius.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Dua di antara korban luka adalah warga negara Indonesia yang diidentifikasi bernama Zulfirmansyah dan Mohammad Rais yang merupakan ayah dan anak yang sedang berada di Masjid Linwood.
Hendra Yaspita, kakak kandung korban di Kota Padang, Sumatra Barat, melalui pesan singkatnya membenarkan hal tersebut. Pihak keluarga kata Hendra, mendapat kabar tentang apa yang menimpa adiknya itu, melalui istri korban. ”Iya, itu adik saya [Zulfirmansyah] yang menjadi korban. Dia adik kandung saya paling terakhir dari enam bersaudara. Dapat kabar dari istri beliau,” kata Hendra kepada wartawan.
Ia menjelaskan saat ini kondisi Zul masih koma dan sedang mendapat perawatan intensif di rumah sakit setempat. Hendra menceritakan sebelum adiknya itu memutuskan pindah dan bekerja di Selandia bersama keluarganya, ia sempat berdomisili di Jogja. Korban merupakan seniman asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. ”Pindah ke sana [Selandia Baru] Januari untuk bekerja,” jelas Hendra.
Duta Besar RI di Wellington, Tantowi Yahya, menyatakan ada sekitar 344 WNI yang tinggal di Christchurch. “Ada 344 WNI di Christchurch, sebanyak 144 orang adalah pelajar. KBRI menelepon satu demi satu WNI di Christchurch untuk mengetahui kondisi mereka,” kata Tantowi.
Tantowi menyatakan pihak KBRI belum bisa mendampingi WNI di Christchurch secara langsung karena bandara setempat masih ditutup sebagai dampak penembakan itu.
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengatakan sejumlah korban kemungkinan merupakan imigran atau pengungsi. “Mereka telah memilih negeri ini sebagai rumah mereka. Mereka adalah kita,” katanya. “Orang yang melakukan serangan ini terhadap kita bukan bagian dari kita. Tak ada tempat untuk mereka di Selandia Baru,” imbuh dia. “Saya mempersalahkan meningkatnya serangan teror ini ke Islamofobia pascaserangan 11 September di mana 1,3 miliar umat Islam di dunia kesemuanya dipersalahkan atas aksi teror apa pun,” kata Perdana Menteri Pakistan Imran Khan.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengecam keras aksi kekerasan berupa penembakan yang terjadi di dua masjid di Kota Christchurch. ”Indonesia sangat mengecam keras aksi kekerasan seperti ini. Saya juga menyampaikan duka yang mendalam kepada para korban yang ada dari aksi tersebut,” ujar Presiden.
Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, menyatakan bahwa serangan ini adalah dampak pencitraan buruk terhadap umat muslim. “Tak hanya para pelaku, tapi para politikus dan media juga makin mengobarkan Islamofobia yang selama ini sudah merebak,” kata dia.
Dari Eropa, Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan belasungkawa terhadap Selandia Baru yang kehilangan warga mereka yang diserang dan dibunuh oleh motif kebencian rasial saat tengah beribadah dengan dalam di masjid. Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, menyatakan “Saat orang dibunuh semata-mata karena agama mereka, ini serangan terhadap kita semua.”
Salah satu tersangka pelaku penembakan di Christchurch, yang diidentifikasi sebagai Brenton Tarrant, 28, warga Australia, dalam unggahannya di media sosial sebelum melakukan penyerangan, dengan jelas menyebut aksinya terinspirasi oleh kasus Anders Breivik.
Polisi Selandia Baru menyatakan mereka sudah menangkap tiga laki-laki dan satu perempuan yang diduga terkait serangan keji ini. Satu laki-laki berusia 20-an tahun menurut polisi sudah dikenai sangkaan melakukan pembunuhan dan akan dihadapkan ke pengadilan pada Sabtu (16/3) ini.
Dua orang lainnya masih ditahan, sementara satu orang lainnya disebut tak punya keterkaitan dengan serangan. Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, yang mengakui bahwa ada warga negaranya yang terkait serangan ini, menyatakan orang itu sebagai “ekstremis dan teroris sayap kanan yang sangat keji.”
Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta segenap umat Islam khususnya di Indonesia untuk menjaga suasana kondusif. Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, Jumat, mengatakan, MUI mengutuk keras aksi teror itu, yang dianggap sebagai tragedi kemanusiaan terkeji di dunia yang mencederai kemuliaan manusia. Niam juga mengajak umat Islam dunia melakukan shalat ghaib bagi para korban wafat serta menggalang solidaritas untuk membantu korban. (JIBI)