Industri Tekstil Migrasi ke Wilayah Soloraya

TRI RAHAYU

SRAGEN—Peluang penyerapan tenaga kerja di sektor industri terbuka lebar di Soloraya lantaran 80% industri tekstil dan produk tekstil (proteks) di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) bermigrasi ke wilayah Soloraya. Migrasi tersebut terjadi lantaran upah minimum regional (UMR) di Jawa Tengah lebih rendah daripada Jabodetabek.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perindustrian, Mujiyono, menyampaikan hal itu saat diwawancarai wartawan di sela-sela pembukaan Diklat 3 in 1 bagi calon tenaga kerja industri tekstil di CV Delapan Jaya Perkasa Garmen, Cantel Kulon, Sragen, Rabu (20/3). Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, ikut serta dalam pembukaan diklat tersebut. Bupati mengapresiasi diklat yang diharapkan mampu mengentaskan pengangguran di Sragen yang masih 4,55%.
Guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang memiliki kompetensi di bidangnya, kata dia, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan 1 juta orang tenaga kerja tersertifikasi kompetensi pada 2019 di sektor industri. Dia optimistis sektor industri akan tumbuh dan berkembang pesat ketika didukung tenaga kerja yang kompeten.
Mujiyono menjelaskan Kemenperin menyediakan fasilitas politeknik atau akademi komunitas berbasis kompetensi yang terhubung dengan dunia industri di sejumlah kawasan industri. Salah satunya, sebut dia, di Solo sudah berdiri Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Proteks yang lulusannya bisa ditampung industri-industri tekstil hasil relokasi dari Jabodetabek.
“Semua itu untuk meningkatkan kesejahteraan buruh di Soloraya. Setelah industri tumbuh nantinya UMK juga bisa naik. Kami juga mendirikan politeknik industri furnitur dan pengolahan kayu di Kendal. Sragen punya kawasan industri mebel di Kalijambe, kenapa tidak dibuat diklat kompetensi untuk tenaga kerja di sektor mebel atau furnitur?” ujarnya.
Mujiyono menjelaskan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri per tahun mencapai 600.000 orang per tahun yang belum terpenuhi. Sementara lulusan SMK, kata dia, tidak mampu memenuhi kebutuhan itu karena adanya kesenjangan kompetensi. Politeknik, akademi komunitas, dan diklat 3 in 1 seperti di Sragen ini menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan kompetensi tenaga kerja itu.
“Tahun 2018, kami merealisasi 32.000 orang tersertifikasi kompetensi dan pada tahun ini target dinaikan menjadi 72.000 orang. Sragen harus memanfaatkan peluanng itu,” tuturnya.
Serapan tenaga kerja di sektor industri olahan secara nasional, ujar Mujiyono, menunjukan peningkatan signifikan, dari 17,5 juta orang pada 2017 menjadi 18,25 juta orang pada 2018. Pertumbuhannya tenaga kerja di sektor industri mencapai 15% dari total angkatan kerja nasional sebanyak 124 juta orang. “Kita harus dorong tenaga lokal mengisi peluang itu. Jangan sampai peluang itu diisi tenaga kerja asing. Di sektor tekstil dan proteks saja tumbuh sampai 3,5 juta orang padahal tekstil baru menguasai 2% pasar dunia,” tuturnya.
Kabid Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen, Agus Tri Laksomo, menyebut Sragen memiliki tujuh industri tekstil berskala besar, 70.000 usaha kecil menengah (UKM), dan 19.000 industri kecil menengah (IKM). Dia mengatakan seluruh UKM dan IKM di Sragen tersebut mampu menyerap tenaga kerja sampai 140.000 orang. (JIBI)