KEMENHUB KELUARKAN ATURAN BARU OJEK ONLINE Wajib Bersepatu, Dilarang Merokok

SOLO—Aturan untuk ojek online (ojol) dan ojek pangkalan akhirnya terbit. Payung hukum itu adalah Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat.

redaksi@koransolo.co

Permenhub yang diundangkan pada Senin (11/3) itu terdiri atas 21 pasal dan delapan bab. Terdapat beberapa poin utama yang ada di peraturan tersebut, yakni tentang keselamatan, keamanan, kenyamanan, keteraturan, keterjangkauan, suspend, dan biaya jasa.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, mengatakan pemerintah segera menyosialisasikan regulasi tersebut. ”Akhir Maret dan awal April kami akan ke daerah menyampaikan regulasi,” kata dia di Kemenhub Jakarta, Selasa (19/3).
Dia mengatakan menyangkut tarif atau biaya jasa sedang dibahas dan nantinya akan dimasukkan dalam aturan turunannya. Aturan ini diharapkan dapat mengakomodasi kepentingan sejumlah pihak, dari sopir, aplikator, hingga konsumen. ”Saya akan membuat surat Kementerian Perhubungan yang nanti saya akan tanda tangan menyangkut biaya, isitilahnya biaya jasa ojol per km berapa, batas minimal berapa, berapa tarifnya,” ujarnya.
Terkait aspek keselamatan, pengemudi harus memakai jaket dengan bahan yang dapat memantulkan cahaya disertai dengan identitas pengemudi. Selain itu, pengemudi ojol harus memakai celana panjang. Jadi, harusnya tak ada lagi pengemudi ojek online yang memakai celana pendek.
Instruktur safety riding Safety Rifat Drive Labs (RDL), Andry Berlianto, mengatakan perlengkapan-perlengkapan itu akan melindungi pengemudi ojol jika terjadi kecelakaan. Gesekan badan dengan aspal akan diminimalisasi oleh perlengkapan tersebut.
”Potensi kecelakaan cukup tinggi dimiliki oleh pengendara di mana kontak kita dengan aspal pertama kali akan bersentuhan dengan apparel atau safety gear tersebut [jaket, celana panjang, sepatu, dan sarung tangan],” kata Andry, Selasa.
Soal jaket dengan bahan yang dapat memantulkan cahaya, menurut Andry, hal itu penting karena efek pantulan dari bahan reflektif dapat menarik perhatian mata dengan cepat yang imbasnya akan lebih mudah dideteksi oleh pengendara lain, terutama di malam hari. ”Celana panjang praktis penting sebagai pelindung utama bagian pinggang ke bawah terhadap potensi gesekan akibat kecelakaan,” tambah Andry.
Sepatu, kata dia, juga sama pentingnya yaitu sebagai pelindung bagian mata kaki ke bawah jika terjadi gesekan dengan aspal. Sementara sarung tangan sebagai pelindung tangan. ”Selain penggunaan tentunya pemahaman terhadap bahaya dan risiko mengemudi juga penting agar pengendara dapat menghitung besaran paparan yang akan diterima saat terjadi kecelakaan,” ucap Andry
Aturan lain bagi pengemudi ojol adalah larangan merokok dan melakukan aktivitas lain yang mengganggu konsentrasi ketika sedang mengendarai sepeda motor. Merokok saat berkendara seringkali jadi masalah yang dikeluhkan orang. Selain asap rokok mengganggu kenyamanan orang lain di sekitarnya, sudah banyak kasus abu rokok masuk ke mata pengendara lain. Efek paling sering adalah mata berair.
”Efek mata terkena bara api rokok dapat menimbulkan kerusakan kornea mata yang disebut sebagai trauma thermis. Kondisi ini bisa berupa derajat yang ringan berupa pandangan mata kabur dan merah, hingga derajat berat berupa kebutaan,” tutur dokter spesialis mata dari Eka Hospital Pekanbaru, Surya Utama.
Di samping dampak buruk pada bola mata secara langsung, Surya menjelaskan efek dari paparan bara rokok juga bisa melukai kulit kelopak mata hingga menimbulkan luka bakar. Akibatnya, kulit akan terasa perih, mata seperti ada yang mengganjal.
Salah satu aturan terbaru yang tertuang dalam Permenhub 12/2019 menyebutkan bahwa pengemudi ojol dilarang berhenti sembarangan. Untuk itu, pihak aplikasi penyedia ojol diwajibkan memberikan selter atau tempat pemberhentian khusus untuk pengemudi ojol menaikkan maupun menurunkan penumpang.
Aplikator juga harus mencantumkan nomor telepon layanan pengaduan di dalam aplikasi, dan melengkapi aplikasi dengan fitur tombol darurat (panic button) bagi pengemudi dan penumpang. Selain itu, aplikator tidak boleh sembarangan untuk menghentikan sementara (suspend) para driver. Aplikator diwajibkan membuat dan memiliki standar operasional dan prosedur (SOP) yang berisi jenis, tingkatan, tahapan dari sanksi hingga pencabutan sanksi.
Sambut Baik
Salah satu pengemudi ojol di Stasiun Solo Balapan, Arif Pamungkas, 18, sepakat dengan Permenhub 12/2019. Dia sudah mengetahui aturan tersebut melalui notifikasi dari aplikasi driver yang dia gunakan.
“Saya pribadi sangat setuju. Seperti berkendara menggunakan sarung tangan, motor harus minimal 110 cc, dan memakai sepatu saat narik ojek karena itu urusan keselamatan. Saya sangat setuju, karena pengendara dan penumpang akan mengedepankan sisi keamanan saat berkendara,” ujarnya saat ditemui Koran Solo, Rabu.
Pengemudi ojol lainnya, Supono Joko Purwanto, 42, juga mengatakan hal senada. Dia mengatakan sisi keamanan harus dikedepankan ketika berkendara. Selain itu, dia juga menganggap aturan untuk pengemudi ojol tidak terlalu rumit dan masih masuk akal untuk dilakukan setiap hari.
“Iya setuju. Itu kan menyangkut keamanan. Saya sudah tahu kok aturannya. Setiap kebijakan yang ditujukan untuk driver masuk ke notifikasi. Termasuk aturan yang baru ini. Penumpang kan juga lihat-lihat kalau kendaraan dan drivernya tidak meyakinkan mereka juga tidak akan mau. Jadi tidak merokok, pakai sepatu, sepeda motor dalam kondisi bagus itu juga berpengaruh dengan rating kami,” ucapnya.
Konsumen ojol mengapresiasi regulasi baru yang mengatur driver. Dengan regulasi itu, ketidaknyamanan dalam layanan ojol bisa ditekan. Warga Solo, Listya, mengaku beberapa kali mendapati driver yang kurang profesional bertugas. Dia menyoroti soal kerapian penampilan dan keramahan driver.
“Beberapa kali saya dapat driver yang pakai sandal, tidak pakai sepatu. Kurang rapi gitu. Yang tidak ramah juga pernah. Yang kasar juga ada. Bukan ke saya, tapi waktu itu di jalan ada yang hampir nyrempet, driver memaki-maka pakai kata kasar. Enggak nyaman banget,” jelas dia, Rabu.
Dengan adanya regulasi ini, seharusnya ke depan layanan ojol jadi makin nyaman. Apalagi jika nanti tarif diatur secara bijak, artinya tidak memberatkan konsumen namun tetap memawadahi kepentingan driver mencari nafkah. (Tika Sekar Arum/Candra Mantovani/JIBI)