Jalan Tengah Tarif Ojek Online

JAKARTA—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan mengambil jalan tengah untuk menentukan tarif ojek online (ojol). Tarif tersebut akan mengakomodasi aplikator dan asosiasi pengemudi ojol.

redaksi@koransolo.co

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, mengatakan akan kembali membahas tarif dengan pengemudi ojol.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Saat dimintai konfirmasi soal pertemuan, Ketua Presidium Nasional Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia, Igun Wicaksono, yang mewakili para driver mengatakan pemerintah akan mengambil jalan tengah untuk menentukan tarif.
”Kami sampaikan pada teman-teman ojol, bahwa tarif akan diambil jalan tengah yang terbaik dari pemerintah dalam hal ini Kemenhub,” katanya kepada, Jumat (22/3).
Menurut Igun pemerintah belum menyampaikan rumusan angka baru tarif ojol. Meski demikian, soal tarif nanti akan di bawah usulan driver dan di atas usulan aplikator. ”Namun pastinya di bawah tuntutan ojol dan di atas tuntutan aplikator,” katanya.
Sebelumnya, Budi Setiyadi mengatakan driver mengusulkan tarif bersih (nett) Rp2.400/km. Sementara, untuk gross atau belum dipotong jasa aplikator 20% ialah Rp3.000/km. ”Rp2.400/km para pengemudi mengatakan sudah nett,” katanya.
Aplikator, lanjutnya, mengusulkan tarif Rp2.000-Rp 2.100/km, dengan nett kemungkinan Rp1.600/km. Namun, soal tarif gross dan nett sendiri banyak yang belum diketahui driver. Pengemudi menganggap nett ialah tarif yang ia terima setelah dipotong 20% aplikator. Padahal, aplikator sebenarnya memberikan “subsidi” untuk driver sebelum dipotong 20%. Hal ini yang akan dibahas Kemenhub sebelum menentukan tarif ojol.
Di sisi lain Kemenhub berencana menerapkan tarif untuk 5 km pertama pada ojol sebesar Rp10.000. Artinya, berapa pun jarak yang ditempuh selama di bawah 5 km konsumen tetap membayar Rp10.000.
Sebenarnya, para pengemudi mengusulkan Rp12.000 untuk tarif 5 km pertama. Dengan begitu, rencana Kemenhub itu lebih rendah dari usulan para driver. ”Betul [lebih rendah], kami serahkan pada pemerintah untuk nilai tersebut, keluar 0-5 km Rp10.000,” kata Igun Wicaksono.
Igun mengatakan akan kembali berdiskusi dengan para driver yang lain, apakah akan menerima rencana tersebut atau tidak. Padahal, pemerintah sebelumnya menyatakan baik aplikator dan driver menerima rencana tersebut. ”Flag fall rata-rata menerima, 5 km sekitar Rp10.000,” terang Budi Setiyadi.
Hasil Riset
Sementara itu, Research Institute of Socio Economic Development (RISED) mengumumkan sebesar 71 persen konsumen hanya mampu menoleransi kenaikan pengeluaran untuk ojol kurang dari Rp5.000 per hari. Idealnya, jika melihat faktor willingness to pay dari berbagai sumber riset yang tersedia, kenaikan yang bisa ditoleransi adalah yang membuat konsumen mengeluarkan tambahan uang kurang dari Rp5.000 per hari.
Pengamat Ekonomi Digital, Fitra Faisal, dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Kamis (21/3), mengatakan dengan jarak tempuh rata-rata konsumen sebesar 8,8 km per hari, lanjut dia, berarti kenaikan tarif yang ideal ojol adalah maksimal Rp600 per kilometer atau maksimal naik menjadi Rp2.000 per kilometer. Sementara itu, konsumen berpendapat, lebih memilih kendaraan pribadi jika kenaikan tarif ojol lebih mahal.
Salah satu konsumen ojol, Ramadhan, mengatakan sebenarnya tarif ojol saat ini sudah sesuai. Namun jika kenaikan tarif ojol diperlukan untuk kesejahteraan pengemudi, ia mengaku setuju dengan wacana kenaikan tersebut. ”Kalau saya setuju-setuju saja selama kenaikannya masih wajar,” tutur Ramadhan.
Sebagai informasi, terdapat beberapa usulan terkait tarif batas bawah ojol. Satu di antaranya dari pihak pengemudi yang mengusulkan agar tarif Rp3.100/km. Menurut Ramadhan, angka tersebut masih terbilang mahal. Sebab, jika tarifnya menjadi Rp3.100/km itu artinya untuk ke kantor yang jarak tempuhnya 8 km, ia harus merogoh kocek sekitar Rp25.000. ”Kalau menurut saya yang ideal Rp2.000/km. Jadi kira-kira paling cuma bayar Rp16.000an buat sampai di kantor,” katanya.
Kemenhub menurut rencana mengeluarkan keputusan soal tarif ojol pada Senin (25/3). Keputusan ini mundur dari jadwal semula. Tarif ojol ini awalnya bakal dirilis pekan ini menyusul terbitnya aturan ojol yakni Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019. (Detik/JIBI)