Rommy Sebut Khofifah Rekomendasikan Jabatan

JAKARRTA—Anggota DPR yang juga eks Ketua Umum PPP, Romahurmuziy (Rommy), menyeret nama Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, dan seorang kiai, saat penyidikan kasus jual-beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag). Kedua orang itu diklaim Rommy menyampaikan kompetensi Haris Hasanuddin yang mengikuti seleksi jabatan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Jatim.
Meski meneruskan aspirasi, Rommy mengaku tidak pernah mengintervensi proses seleksi pejabat pimpinan tinggi di Kemenag. Rommy menegaskan tak punya kewenangan mencampuri seleksi pejabat di Kemenag.
”Tapi bahwa meneruskan aspirasi, apa yang saya teruskan bukan main-main. Contoh Haris memang dari awal menerima aspirasi dari ulama seorang Kiai Asep Saifudin Halim adalah pimpinan pondok pesantren dan kemudian Bu Khofifah, beliau gubernur terpilih, jelas mengatakan, ’Mas Rommy, percayalah dengan Haris karena orang kerja bagus.’ Sebagai gubernur terpilih, beliau mengatakan kalau Mas Haris sudah kenal kinerjanya sehingga ke depan sinergi dengan Pemprov akan lebih baik,” ujar Rommy di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (22/3).
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah, mengatakan KPK pasti akan menindaklanjuti informasi yang diberikan, termasuk dalam penanganan perkara. ”Saya tidak tahu persis siapa nama-nama yang disebut tadi. Kalau menyebut nama itu kan sudah sering orang-orang yang keluar dari proses pemeriksaan kemudian menyebut nama siapa saja. Bagi KPK, yang paling penting adalah apakah ada pihak-pihak tertentu yang disebut di ruang pemeriksaan dituangkan dalam berita acara dan dilihat apakah informasi itu didukung dan sesuai dengan bukti-bukti yang lain,” ujar Febri kepada wartawan.
Menilik ke belakang, Febri menyebut setiap orang yang menjalani pemeriksaan di KPK, baik tersangka atau saksi, kerap menyebut nama orang lain. Namun dia menyebut KPK tetap harus menguji kebenaran informasi itu. ”Bagi KPK yang paling penting adalah apakah ada pihak-pihak tertentu yang disebut di ruang pemeriksaan dituangkan dalam berita acara dan dilihat apakah informasi itu didukung dan sesuai dengan bukti-bukti yang lain. Kalau ternyata informasinya berdiri sendiri, maka mungkin saja tidak relevan secara hukum,” kata Febri.
KPK meminta Rommy menyampaikan semua informasi yang dimilikinya kepada penyidik. Selain itu Febri menyebut siapa pun tersangka di KPK dibolehkan mengajukan diri sebagai saksi pelaku yang bekerja sama atau justice collaborator (JC). Namun KPK memiliki hak untuk menguji pengajuan itu.
”Sebenarnya bisa disampaikan langsung pada penyidik, kalau memang relevan. Namun tentu KPK punya tanggung jawab untuk melihat ada atau tidak relevansinya dengan pokok perkara,” imbuh Febri.
Kemarin KPK mengambil sampel suara Rommy. Pengambilan contoh suara salah satunya untuk mencocokan percakapan yang pernah dilakukan Rommy terkait kasus dugaan suap jual beli jabatan di Kemenag. ”Tadi dilakukan pengambilan contoh suara. Jadi kami melakukan pengambilan contoh suara tersangka RMY [Rommy] untuk kepentingan penyidikan dan proses pembuktian,” ujar Febri Diansyah.
Sebelumnya, Kamis (21/3), tim penyidik KPK lebih dahulu mengambil sampel suara dua tersangka lainnya, yakni Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik, Muhammad Muafaq Wirahadi, dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur, Haris Hasanuddin.
”Pengambilan contoh suara akan menjadi salah satu poin pembuktian di proses persidangan lebih lanjut. Karena KPK sudah memiliki bukti yang kuat tentang adanya komunikasi-komunikasi atau pertemuan yang membicarakan pengisian jabatan atau dugaan aliran dana atau hal-hal lain yang relevan,” kata Febri.
KPK menetapkan Rommy sebagai tersangka karena diduga menerima Rp300 juta dari Muafaq dan Haris. Perinciannya, Rp50 juta dari Muafaq dan Rp250 juta dari Haris. Duit itu diduga ditujukan agar Rommy membantu proses seleksi kedua orang tersebut. Namun KPK menduga Rommy bekerja sama dengan aktor internal dari Kemenag mengingat posisi Rommy adalah anggota Komisi X DPR, yang tidak punya kewenangan dalam pengisian jabatan di Kemenag. (JIBI/Detik/Liputan6.com)