Cepogo Gandeng Akademisi Kelola Sayur Petani

BOYOLALI —Salah satu kendala petani sayur, khususnya di wilayah Boyolali selama ini adalah anjloknya harga jual sayuran pada saat panen raya.
Seperti komoditas bawang merah pada musim panen awal tahun ini harga jual dari petani Rp7.000-Rp8.000 per kilogram (kg). Padahal, bibit bawang merah yang mereka beli rata-rata seharga Rp15.000 per kg.
Salah satu petani Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Kamsi, 60, mengatakan, akibat harga jual yang rendah itu dia urung menjualnya kepada tengkulak. “Harga bibitnya Rp15.000 per kg, pas panen hanya Rp7.000 per kg. Kami jelas rugi,” ujarnya saat ditemui di kebunya, Selasa (9/4).
Dia tidak menjual hasil panen dan lebih baik menyimpannya untuk dijadikan bibit untuk musim tanam berikutnya.
Petani lain di desa yang sama, Siju, 65, mengatakan hal senada dengan Kamsi. Dia lebih memilih menyimpan bawang merah hasil panen untuk dijadikan sebagai bibit. “Daripada rugi terlalu banyak, kami simpan selama dua bulan untuk dijadikan bibit tanam berikutnya,” kata dia.
Kalau bawang itu dijadikan bibit petani bisa menghemat biaya pembelian bibit. “Misalnya, kalau bibit 100 kg yang kami beli untuk lahan sepetak, hasilnya 500 kg kan bisa untuk lima petak. Ini sudah menghemat. Selain itu harapannya saat panen berikutnya harga sudah baik, ya harapan saya sekitar Rp25.000 per kg,” imbuhnya.
Sementara itu, Camat Cepogo, Insan Adi Asmono, mengatakan saat ini pihaknya tengah bekerja sama dengan akademisi untuk aplikasi teknologi tepat guna dalam hal pemanfaatan hasil panen sayur. Dengan teknologi ini, sayuran dapat dikelola untuk diperpanjang umurnya dan ditingkatkan nilai ekonominya. “Kami sudah hadirkan Instiper [Institut Pertanian Stiper] Yogyakarta untuk bekerja sama dengan semua kelompok tani di Cepogo untuk penggunaan teknologi tepat guna,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kecamatan Cepogo.
Teknologi yang dimaksud adalah dry frying atau penggorengan kering. Dengan alat ini, produk petani diolah sehingga lebih awet dan nilai ekonominya bertambah. “Misalnya, bawang merah ini nanti jadi bawang goreng berkadar minyak rendah. Cabe diolah menjadi semacam Boncabe,” imbuhnya.
Menurutnya, kelompok tani Cepogo sudah diundang ke kamus mereka dan sebaliknya pihak kampus akan diundang untuk aplikasi peralatan tersebut. “Anggaran desa juga akan disiapkan untuk mengelola peralatannya. Nanti alatnya dikelola BUM Desa dan ditempatkan di gudang desa masing-masing,” imbuh Insan.
Di sisi lain, pihaknya juga sudah bekerja sama dengan asosiasi jasa boga Soloraya. Mereka menyerap jenis sayuran tertentu dari petani Cepogo. (Akhmad Ludiyanto)