PT KAI Bakal Tutup Perlintasan Sebidang Warga Pasang Spanduk Penolakan

KARANGANYAR—Warga memasang spanduk penolakan rencana penutupan perlintasan kereta api di bawah flyover Palur oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Wahyu Prakoso
redaksi@koransolo.co.id

Spanduk dipasang di Dusun Palur Kulon RT 002/RW 002, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo. Tepatnya di sisi timur rel kereta api. Pemasangan ini merupakan bentuk keseriusan warga menolak rencana PT KAI.
Berdasarkan pantauan Koran Solo, Kamis (11/4). Spanduk yang dipasang berukuran 3 meter x 1 meter. Terdapat empat spanduk yang dipasang di pagar salah satu toko yang tutup. Spanduk berisi pernyataan warga, seperti, ”Menolak Penutupan Jalan; Infrastruktur Mumpuni tetapi Rakyat Terbebani; Jangan Tutup Akses Kami!!; Jamane Soyo Maju Pikirane Soyo Mundur.”
Salah satu pedagang di sekitar perlintasan kereta Api, Widianto, 51, mengatakan spanduk dipasang beberapa hari lalu, belum ada satu pekan. Pemasangan dilakukan oleh warga sekitar Palur sebagai bentuk sikap terhadap rencana PT KAI.
“Semua warga, enggak hanya Palur menolak rencana penutupan perlintasan kereta api. Kalau jadi ditutup kasihan warga sekitar, akses mereka bagaimana. Pelaku usaha pendapatannya pasti berkurang. Silahkan ditutup celah-celah yang sekiranya membahayakan, tetapi jangan jalan ini,” kata dia kepada Koran Solo saat ditemui di lapaknya.
Kepala Desa Palur, Sugito, mengatakan pemasangan spanduk merupakan bentuk keseriusan penolakan warga terhadap rencana PT KAI yang akan menutup jalan di bawah flyover. Dia menjelaskan, banyak warga yang tidak setuju dengan penutupan perlintasan kereta api karena wilayah Dusun Palur Kulon dipisahkan oleh rel kereta api sehingga penutupan jalan akan menimbulkan dampak sosial.
“Warga Dusun Palur Kulon [di timur dan barat rel kereta] banyak yang masih ada ikatan keluarga sehingga apabila akses jalan ditutup komunikasi antar warga akan terganggu. Kalau ditutup, silaturahmi harus lewat Dusun Panjangrejo yang harus memutar 3 kilometer atau lewat flyover. Penutupan ini akan menyulitkan warga untuk berinteraksi,” katanya kepada Koran Solo saat ditemui di kantornya.
Menurut dia, tujuan pemasangan spanduk supaya PT KAI tahu sikap warga terkait rencana penutupan. Dia berharap, PT KAI mengkaji ulang untuk melakukan penutupan perlintasan kereta api.
Salah satu warga Dusun Palur Kulon, Subagyo, menjelaskan jalan di bawah flyover merupakan satu-satunya akses mudah bagi warga khususnya Desa Palur untuk mobilitas. Dia mengatakan, bagian selatan flyover sudah dibangun tembok pembatas sehingga apabila perlintasan kereta ditutup akan menyulitkan akses warga.
“Kalau jalan ditutup kami lewat mana. Apabila ada warga Palur kulon meninggal, akses ke TPU susah. TPU berada di timur rel. Kami tidak setuju dengan rencana itu. Informasi yang saya dengar, dalam waktu dekat ini akan ada pemasangan spanduk lagi oleh warga sekitar. Spanduk akan dipasang lebih banyak,” katanya kepada Koran Solo.