Padi Hasil Mutasi Genetik segera Diluncurkan 100 Orang Uji Rasa dan Aroma Rojolele

KLATEN—Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Klaten menguji rasa dan aroma nasi dari calon varietas padi rojolele hasil mutasi genetik. Uji rasa dan aroma tersebut menjadi serangkaian pengujian sebelum beras hasil riset kerja sama dengan Batan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tersebut memasuki sidang pelepasan varietas.
Uji rasa dan aroma dilakukan di Pendopo Pemkab Klaten, Kamis (11/4) siang. Pengujian melibatkan 100 panelis terdiri dari pejabat Pemkab, perwakilan organisasi perangkat daerah, petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), pengusaha katering, hingga pengusaha beras. Para panelis merasakan nasi yang dimasak dari sembilan calon varietas padi rojolele hasil mutasi genetik. Sebagai pembandingnya, mereka merasakan nasi dari tiga varietas padi yakni mentik wangi, sintanuri, serta rojolele. Para penguji diminta mengisi kuesioner meliputi warna, tekstur, kilap, rasa, kepulenan, serta penerimaan umum dari setiap nasi yang diujikan.
Kepala Bappeda Klaten, Sunarna, mengatakan uji rasa dan aroma menjadi tahapan akhir. Hasil pengujian menjadi lampiran proposal untuk didaftarkan mengikuti sidang pelepasan varietas di Kementerian Pertanian (Kementan). “Kami minta pendapat masyarakat Klaten yang bakal menjadi konsumen. Silakan menentukan bagaimana rasa dan aroma calon varietas padi rojolele hasil mutasi genetik. Hasil pendapat masyarakat ini menjadi lampiran proposal untuk diajukan ke sidang pelepasan di Kementan,” kata Sunarna saat ditemui wartawan di sela pengujian.
Ia menjelaskan setelah melalui sidang pelepasan varietas, padi rojolele hasil mutasi genetik bisa diluncurkan sebagai varietas baru dan menjadi produk unggulan Kabupaten Bersinar. “Harapan kami ini menjadi produk unggulan Klaten yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” jelas dia.
Salah satu pengusaha katering asal Trucuk, Windarti, mengatakan nasi dari padi rojolele hasil mutasi genetik pulen serta wangi. “Namun, dari pengujian ini tadi saya merasa untuk nasi yang diujikan pada nomor empat paling enak karena saat dikunyah lembut,” kata Windarti yang menjadi salah satu panelis.
Salah satu petani asal Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Suwarto, mengatakan nasi dari salah satu calon varietas padi rojolele hasil mutasi genetik berasa manis dan gurih serta beraroma wangi. Suwarto setahun terakhir menjadi salah satu petani yang ikut mengembangkan calon varietas padi hasil pengembangan Pemkab dan Batan tersebut. “Kalau dibandingkan rasa nasi rojolele sebelumnya, memang lebih nikmat yang dulu. Karena kondisinya juga berbeda. Kalau dulu makan sehari-hari hanya tiwul kemudian merasakan nasi rojolele tentu lebih nikmat,” katanya.
Peneliti tanaman padi dari Batan, Sobrizal, menjelaskan riset pengembangan padi rojolele kerja sama Pemkab dan Batan dilakukan sejak 2013. Pengembangan dilakukan untuk memperbaiki kualitas padi rojolele lokal yang identik dengan nasinya yang pulen serta aromanya yang wangi namun memiliki kelemahan dari sisi umur serta ketinggian tanaman.
Riset dilakukan dengan teknik nuklir melalui iradiasi sinar gamma. Dari radiasi itu terjadi mutasi genetik hingga menimbulkan perubahan sifat yang beragam. Dari berbagai perubahan sifat, didapatkan calon varietas padi rojolele dengan usia panen 115 hari, lebih singkat dibanding rojolele indukan yakni 155 hari. Sementara, tinggi padi rojolele bisa diperpendek dari 150-155 sentimeter menjadi 110-120 sentimeter sehingga tanaman tidak mudah rebah.
Ia menjelaskan serangkaian tahapan dilalui agar padi hasil riset tersebut lolos sebagai varietas baru. Tahapan itu seperti uji daya hasil atau adaptasi yang didapatkan hasil panen calon varietas padi rojolele mutasi genetik mencapai 10 ton/ha atau lebih banyak dibanding rojolele indukan yakni 7 ton/ha. Selain itu, ada uji ketahanan hama dengan menguji calon varietas terhadap serangan hama dan penyakit seperti wereng batang cokelat serta penyakit hawar daun.
Sobrizal menjelaskan sesuai keinginan bupati, calon varietas padi rojolele hasil mutasi genetik hanya dikembangkan di Klaten sementara hasil produksinya dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. (Taufiq Sidik Prakoso)