Nasi Goreng Pemilu

Koran Solo/Nicolous Irawan
MENGHIAS NASI GORENG: Petugas Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Solo bersama anggota Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Soloraya menghias nasi goreng pada acara Nasi Goreng Pemilu saat car free day (CFD), Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (14/4).

RATIH KARTIKA

Aroma khas bumbu dari campuran bawang merah, bawang putih, cabai, dan bumbu lainnya mulai tercium ketika peserta memasak mulai menumis bumbu-bumbu tersebut, Minggu (14/4).
Bersambung
ke Hal. 6 Kol. 4
Tumisan bumbu itu sedianya akan dibuat nasi goreng pemilu di depan kantor Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerperin) Kota Solo.
Di depan peserta yang mulai menyiapkan ratusan nasi goreng itu juga terdapat meja-meja yang tertata rapi untuk tempat nasi goreng yang sudah jadi. Kemudian di tengah-tengah makanan itu, sebuah wajan besar bersama kompor juga telah disiapkan. Di dalam wajan penggorengan itu terdapat tulisan-tulisan mengenai hoaks, ujaran kebencian, kampanye hitam dan lainnya. Pembuatan nasi goreng tersebut juga didasarkan pada banyaknya berita hoaks yang disebarluaskan.
”Bentuk sosialisasi memerangi hoaks yang dilakukan Bawaslu sudah tepat. Masyarakat dikenalkan dengan hal-hal yang sederhana. Bermula dari makanan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari,” jelas salah satu pengunjung, Depi Endang Sulastri, ketika ditemui Koran Solo ketika tengah melihat-lihat proses pembuatan nasi goreng, Minggu.
Kesadaran literasi media masyarakat juga dinilai rendah. Dengan adanya kegiatan Bawaslu sudah sesuai mengingat masyarakat tidak semuanya berpendidikan tinggi. Selain itu, berita bohong tersebut juga dapat menumbuhkan kegaduhan. Bahkan karena sebuah kebencian kepada orang lain maka disebarlah berita-berita bohong yang kemudian membuat masyarakat merasa takut atau bahkan merasa terganggu dengan berita-berita yang tidak benar tersebut.
”Bahkan berita dijadikan kendaraan dalam menyerang. Ya, sudah seharusnya melek media, literasi media. Saring sebelum sharing. Melek, dengar, komentar,” papar Depi.
Koordinator Divisi Hukum Data dan Informasi Bawaslu Solo, Agus Sulistyo, mengatakan salah satu bentuk aksi keprihatinan Bawaslu terhadap kondisi masyarakat yang terkotak-kotak karena isu-isu yang digoreng menjadi isu politik. Isu politik dapat digoreng dari isu ekonomi, isu olahraga, hingga semua isu bisa digoreng menjadi isu politik.
”Oleh karena itu nasi goreng ini sebagai simbol bahwa isu yang digoreng itu sudah selayaknya bukan menjadi bagian yang menyehatkan. Maka isu-isu yang digoreng di pemilu untuk kepentingan politik kami mencoba menyampaikan pesan ini,” jelas Agus kepada wartawan, Minggu.
Ketua Divisi Literasi dan Narasi Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Soloraya, Giri Lumakto, menjelaskan nasi goreng pemilu merupakan bentuk menyuarakan pemilu yang mencoba untuk berakal sehat dengan tidak menyebarkan berita bohong hingga kampanye hitam, terutama di media sosial. ”Logika harus digunakan untuk membedakan berita hoaks hingga kampanye hitam. Harus ada yang mengingatkan bahwa semua tidak ada atau hoaks dan harus diperangi. Perlu ada klarifikasi ulang dari masyarakat untuk mengetahui unformasi yang tersebar di media sosial,” jelas Giri. (JIBI)