Nyoblos, Jemaah Thoriqoh Pulang

PONOROGO—Sebanyak 52 warga Ponorogo yang disebut Musa AS atau jemaah Thoriqoh Akhmaliyah As-sholihiyah yang mondok ke Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang kembali ke Ponorogo menggunakan mobil pemkab.
Rupanya, kepulangan mereka ini untuk berpartisipasi dalam Pemilu 2019 pada Rabu (17/4).
”Mau ikut nyoblos ini makanya pulang,” tutur Ahmad Jamroji, 48, saat ditemui, Minggu (14/4).
Jamroji tidak sendirian. Dia bersama 51 warga lain memang sengaja meluangkan waktu agar bisa nyoblos. Alasannya, warga Desa Watubonang, Kecamatan Badegan saat ke Malang tidak membawa surat pengantar pindah pilih sehingga tidak bisa mencoblos di Kasembon.
”Niatnya mau pulang ya nyoblos, nanti setelah nyoblos ya balik lagi ke sana [Malang],” terang dia.
Menurutnya, dia harus kembali ke Malang sebab pengajian selama tiga bulan belum tuntas. Mereka memang berencana kembali ke Ponorogo di akhir bulan puasa.
”Setelah tiga bulan ngaji ya balik lagi ke sini [Ponorogo],” jelasnya.
Jamroji menambahkan sebagai warga negara yang baik, ia ingin menyalurkan hak pilihnya saat pemungutan suara.
”Apalagi kami juga difasilitasi dijemput dan diantar oleh Pak Wabup [Soedjarno],” imbuh dia.
Pantauan wartawa, para jemaah thariqah Akmaliyah Ash Sholihiyah ini mengenakan jaket berwarna hitam dengan dibagian belakang jaket bertuliskan Majelis Dzikir dan Sholawat Musa AS.
Sementara itu, Kepala Dinsos Ponorogo Soemani menambahkan data warga yang pulang karena pencoblosan sebanyak 52 orang.
”Sebanyak 40 orang di antaranya ikut rombongan, 12 orang bawa kendaraan sendiri,” papar dia.
Kepulangan mereka, lanjut Soemani, sudah mengantongi izin dari pengurus pondok. Nantinya usai pesta demokrasi berakhir, mereka bakal kembali ke Malang. ”Setelah pengajiannya selesai mereka memang mau kembali ke Ponorogo lagi,” ujarnya.
Saat disinggung terkait adanya pelajar yang ikut kembali, Soemani menambahkan kepulangan mereka juga untuk mengikuti ujian nasional.
”Ada 10 pelajar ya, empat di antaranya mau ikut ujian, ya mereka ujian. Kan tidak bisa ujian di Malang. Seusai mengikuti ujian terserah pihak keluarga mau kembali atau tidak,” tandasnya.
Terkait ajaran yang diajarkan menurut Soemani tidak ada yang sesat. Bahkan buku-buku Katimun yang tertinggal saat diamati juga tidak ada yang aneh. ”Ya tidak ditemukan yang aneh, semua normal saja,” ujarnya. (Detik)