Petani Padi Organik Terkendala Pemasaran

BOYOLALI—Pengembangan padi organik di wilayah Boyolali terus digenjot, namun di sisi lain petani masih terkendala masalah pemasaran.
Ketua Asosiasi Petani Organik Boyolali (APOB), Murbowo mengatakan sejak wadah petani oganik itu dirintis delapan tahun silam atau 2011, saat ini sudah terdapat tujuh kelompok tani yang sudah memperoleh sertifikasi organik dari lembaga berkompeten.
“Untuk mengubah pola pikir petani agar beralih ke padi organik memang butuh waktu. Tetapi sampai saat ini sudah banyak yang beralih dan ada tujuh kelompok tani di wilayah Banyudono dan Sawit yang sudah mendapat sertifikasi. Mereka terdiri atas 300 petani yang mengelola 101,65 hektare (ha) lahan,” ujarnya, Sabtu (13/4).
Menurutnya, produksi padi organik dengan beragam varietas seperti beras hitam, beras merah, C4, mentik wangi dan sebagainya ini juga cukup bagus, yakni rata-rata 6 ton/ha.
Sementara itu, pengembangan padi organik/beras organik juga mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian yang diseahkan melalui Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali berupa bantuan bangunan di Sawit. Bantuan bangunan ini juga dilengkapi mesin penggilingan berkapasitas 1,1 ton, mesin pengeringan, dan mesin pengemasan. Nilai total bantuan ini mencapai Rp680 juta dengan rincian untuk bangunan senilai Rp180 juta dan untuk peralatan senilai Rp500 juta.
Namun di sisi lain, serapan pasar untuk hasil panen petani ini masih rendah. Selama ini, padi organik produksi APOB baru disalurkan kepada pembeli di Semarang, Jakarta, dan Jogja. Jumlahnya juga masih sangat minim, yaitu rata-rata 10-15 ton per bulan. “Yang menjadi kendala saat ini adalah pemasaran. Yang kami salurkan selama ini ke Semarang, Jakarta, dan Jogja baru sekitar 10-15 ton per bulan. Selebihnya dijual ke pasar lokal dengan hargan lebih rendah,” imbuh Murbowo.
Kualitas
Sementara itu, Kepala Dispertan Boyolali Bambang Jiyanto mengatakan, bantuan bangunan dan peralatan ini bertujuan meningkatkan dan menjaga kualitas beras organik yang dihasilkan. ”Pemerintah membantu bangunan dan peralatan ini untuk meningkatkan kualitas, menjaga kualitas, kontinuitas, serta higienis. Jadi harus memperhatikan kebersihan, kemudian untuk sortasi dan grading ini harus cermat,” ungkapnya kepada Koran Solo.
Dia menambahkan, pembeli beras organik memang menghendaki hasil yang betul-betul sesuai dengan yang diinginkan dan telah lolos sertifikasi lembaga berkompeten. ”Beras organik diambil dari petani telah lolos sertifikasi organik dari lembaga berkopenten terlebih dahulu. (Akhmad Ludiyanto)