TABRAK PENGENDARA MOTOR DI KLATEN Sopir Bus LP Sragen Tersangka

KLATEN–Sopir bus Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sragen yang terlibat kecelakaan maut di simpang empat Karang, Kecamatan Delanggu, Klaten, ditetapkan tersangka.

Taufiq Sidik Prakoso
redaksi@koransolo.co
Sang sopir berinisial ER, 27, warga Desa Tangkil, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen, dinilai lalai mengemudikan bus hingga terlibat kecelakaan yang menyebabkan seorang pengendara sepeda motor meninggal dunia.
Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi, melalui Kanitlaka, Ipda Panut Haryono, mengatakan polisi menetapkan ER sebagai tersangka setelah mendapat cukup bukti dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) serta keterangan para saksi. “Tersangka masih diperiksa di Unit Laka. Yang bersangkutan mengajukan surat permohonan penangguhan penahanan karena itu memang menjadi hak tersangka. Kami masih menunggu apakah surat permohonan penangguhan penahanan tersebut disetujui pimpinan atau tidak,” kata dia saat berbincang dengan Koran Solo, Sabtu (13/4) malam.
Kecelakaan maut itu terjadi ketika bus yang dikemudikan ER melintas di jalan raya Solo-Klaten, Jumat (12/4) pukul 05.30 WIB. Saat itu, ER membunyikan sirine dan menyalakan rotator. Bus tetap melaju saat lampu merah di simpang empat Karang, Kecamatan Delanggu, Klaten, menyala kuning. Di saat bersamaan, Martina Dewanti, 35, warga Desa Mrisen, Kecamatan Juwiring, Klaten yang mengendarai sepeda motor Honda Vario melaju dari arah Juwiring menyeberang perempatan setelah lampu merah menyala hijau.
Lantaran jarak terlalu dekat, ER tak bisa menghindari Martina dan menabraknya. Akibat kejadian itu, Martina meninggal dunia meski sempat dilarikan ke RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten lantaran mengalami luka parah pada bagian kepala.
Panut menilai ER lalai saat berkendara. Meski membunyikan sirine dan menyalakan rotator, ER semestinya memperlambat laju bus lantaran mendekati simpang empat. “Pada Jumat sore kami mengecek kembali ke TKP. Dari arah Solo, kendaraan yang melintasi dari arah Juwiring tidak terlihat karena tertutup bangunan. Semestinya, saat melintasi simpang empat laju kendaraan diperlambat dan memerhatikan terlebih dahulu situasi lalu lintas di sekitarnya untuk memastikan tetap aman melaju,” urai dia.
Lebih jauh Kanitlaka menjelaskan membunyikan sirine dan menyalakan rotator kendaraan tak bisa sembarangan. Ada aturan yang harus dipenuhi hingga diperbolehkan membunyikan sirine dan menyalakan rotator, seperti ketika kondisi darurat. Saat kejadian, bus berpenumpang 25 pegawai lembaga pemasyarakatan dan badan pemasyarakatan di wilayah Soloraya tersebut menuju ke LP Cebongan, Kabupaten Sleman, DIY guna mengikuti kegiatan olahraga bersama.
Kanitlaka menjelaskan ER dijerat Pasal 310 UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara. “Untuk barang bukti yakni bus [LP Sragen] yang terlibat kecelakaan masih ditahan di Unit Laka Polres Klaten,” urai dia. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI)