WNI Antusias Mencoblos di Luar Negeri

KUALA LUMPUR—Warga negara Indonesia (WNI) di berbagai negara antusias menggunakan hak pilih mereka dalam Pemilu 2019, Sabtu-Minggu (13-14/4). Antusiasme itu terlihat dari mengularnya antrean di tempat pemungutan suara (TPS) di berbagai negara.
Pada Minggu, WNI di 32 negara mengikuti pemungutan suara seperti di Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Rusia, hingga Korea Utara. Pemilih terbanyak berada di Kuala Lumpur, Malaysia, yaitu lebih dari 500.000 orang dan paling sedikit di Korea Utara yaitu 24 orang.
Di Kuala Lumpur terdapat 168 TPS yang bisa digunakan WNI untuk menggunakan hak pilih mereka. Ratusan TPS itu berada di tiga lokasi yaitu di KBRI 76 TPS, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) 86 TPS, dan Wisma Duta 6 TPS.
Tiga lokasi itu dipadati WNI sejak pagi. Mereka memenuhi KBRI, SIKL, dan Wisma Duta hingga luar area. Massa pendukung capres-cawapres Prabowo-Sandiaga bergerombol di sisi kanan depan SIKL mulai pagi hingga siang hari. Sedangkan pendukung capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin berdiri di sisi kiri dengan membawa atribut, kaus, dan poster. Mereka meneriakkan nama calon masing-masing sembari meneriakkan yel-yel serta bernyanyi-nyanyi.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Mukhammad Farid Makruf, mendatangi massa dan menyampaikan agar tidak menimbulkan keributan saat mencoblos. ”Lebih baik menahan diri agar tidak menimbulkan keributan daripada dilarang oleh polisi Malaysia dan tidak bisa beraktivitas,” ujar Mukhammad Faried Makruf.
Pemilih harus antre hingga berjam-jam agar bisa menggunakan hak pilih mereka. Antrean panjang terjadi karena sebagian besar merupakan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang terdaftar sebagai daftar pemilih khusus (DPK). Mereka baru boleh memilih satu jam sebelum penutupan TPS pada pukul 18.00 waktu setempat.
Untuk menghindari suasana pencoblosan memanas, KPU dan Bawaslu kemudian mengizinkan para pemilih yang masuk dalam DPK menggunakan hak pilih mereka setelah jam 12.00 tanpa menunggu satu jam sebelum pukul 18.00 waktu setempat. Hal yang sama terjadi di Wisma Duta. WNI yang masuk DPK akhirnya diperbolehkan menggunakan hak pilih mereka tanpa menunggu jadwal satu jam sebelum penutupan TPS.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Banyaknya warga yang menggunakan hak pilih mereka menjadikan pemilih tetap dilayani meski di atas pukul 18.00. Sejumlah warga masih berada di bilik suara setelah pukul 18.00. Namun, untuk pendaftaran pemilih sudah kosong.
Tingginya antusiasme WNI menggunakan hak pilih juga terjadi di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Wartawan senior asal Malaysia, Abd Naddin Shaidin, menilai Pemilu 2019 ini lebih ramai dibandingkan Pemilu 2014. ”Pemilu Indonesia di Sabah kali ini sangat ramai. WNI yang datang mencoblos sangat antusias,” ujar Naddin.
Komisioner KPU Ilham Saputra mengatakan pemungutan suara di Kuala Lumpur tetap berlangsung sesuai jadwal di tengah munculnya kasus dugaan surat suara sudah dicoblos. ”Jadi memang kami tidak bisa memastikan bahwa itu surat suara produksi dari KPU, tapi pelaksanaan pemungutan suara di Kuala Lumpur tetap jalan,” ucap dia.
Dia mengatakan KPU belum bisa melihat secara langsung surat suara tercoblos itu karena masih ditangani Polis Diraja Malaysia (PDRM). Dia mengatakan surat suara tercoblos itu tidak akan dihitung.
”Kami tidak menghitung yang [surat suara tercoblos] ditemukan itu, dianggap sampah saja,” kata Ilham. Dia mengatakan tidak dihitungnya surat suara yang diduga tercoblos itu tidak akan memengaruhi ketersediaan surat suara, khususnya untuk metode pemungutan lewat pos.
PDRM tengah menginvestigasi penemuan surat suara tercoblos dengan dibantu Polri. Pernyataan itu disampaikan Ketua Polis Negara Polis Diraja Malaysia, Mohamad Fuzi Bin Harun, yang diunggah di akun Facebook resminya, Minggu.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Dedi Prasetyo mengatakan PDRM kemungkinan akan menyampaikan kesimpulan sementara dari kasus itu Senin (15/4).
Selama melakukan investigasi, PDRM dibantu Polri dan Bawaslu sebagai saksi. Dedi menyebut PDRM akan menyampaikan keterangan resmi terkait hasil investigasi. Kemudian, Bawaslu akan menyampaikan apakah ada dugaan pidana pemilu atau tidak di kasus tersebut.
”Nanti secara resmi akan ada pernyataan dari PDRM apakah itu melanggar peraturan perundang-undangan yang ada di Malaysia, kemudian dari Bawaslu juga akan mengkaji apakah itu ada pelanggaran pemilu atau tindak pidana pemilu,” kata Dedi.
Di Singapura, WNI juga memadari KBRI untuk menggunakan hak pilih mereka. Salah satu WNI di Singapura, Anastasia Ratna mengantre sekitar satu jam hingga akhirnya bisa mencoblos. Antrean WNI yang hendak nyoblos mengular hingga ke pinggir jalan di luar KBRI Singapura.
Anastasia mengatakan pengaturan di KBRI Singapura untuk pencoblosan cukup teratur dan tertib. Antrean ketika memasuki KBRI dibagi menjadi tiga yaitu untuk yang sudah memiliki undangan, belum memiliki undangan, dan untuk yang berkebutuhan khusus (usia lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas).
Di Australia, WNI juga harus mengantre selama berjam-jam agar bisa mengunakan hak pilih mereka. Seorang WNI, Ratna Sugiarti, saat dihubungi Espos melalui Facebook Messenger mengatakan namanya masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) dengan alamat tempat tinggal lama. Ketika dia meng-update ke alamat baru, Ratna akhirnya masuk DPK.
Dia memutuskan untuk datang ke TPS dua jam lebih awal dari jadwal agar bisa menggunakan hak pilih. ”DPK boleh milih jam 17.00. Tapi aku datang jam 15.00 karena takut kehabisan surat suara. Antre paling depan, akhirnya bisa milih jam 17.00,” kata Ratna.
Hal serupa terjadi di Paris, Prancis. Pemungutan suara di Paris, juga dibuat lebih lama. ”Para calon pemilih dengan penuh antusias mengikuti pesta demokrasi dari sejak pukul 08.00 pagi pada saat Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri mulai dibuka,” kata anggota Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Paris, Rudjimin.
Sebanyak 74% pemilih di Paris masuk dalam DPT, 9% pemilih masuk di DPTb, dan 17% merupakan pemilih di DPK. PPLN menyebut banyaknya pemilih dari DPK dan DPTb dikarenakan Paris merupakan salah satu pusat pendidikan yang menjadi tujuan mahasiswa dan tenaga pengajar Indonesia. Selain itu Paris juga merupakan salah salah satu negara tujuan wisata.
Banyaknya pemilih yang memberikan suaranya mengharuskan PPLN memperpanjang waktu pemungutan suara menjadi pukul 18.40 waktu setempat.
Di Den Haag, Belanda, warga harus antre hingga tiga jam saat pemungutan suara, Sabtu (13/4). ”Saya sampai TPS sekitar pukul 12 siang, selesai jam lima sore. TPS sih tutup jam tujuh malam, tapi antreannya panjang. Kata teman, dia sampai pukul 19.30 belum nyoblos, padahal masuknya bareng,” papar seorang WNI, Puspita.
Antusiasme yang tinggi juga terlihat dari warga di Praha, Ceko. Dari 180 surat suara, semuanya terpakai. Hal serupa terjadi di Kota Seoul, Korea Selatan.
Antrean sudah mulai mengular dan memadati TPS sejak pagi. Ada 26.695 WNI di Korea Selatan yang masuk dalam DPT. PPLN Korsel melakukan pemungutan suara secara serentak di 13 TPS yang tersebar di Kota Seoul, Ansan, Busan, Gimhae, Daegu, dan Incheon. Kotak Suara Keliling pun dilaksanakan di kota Tongyeong dan Samcheonpo.
Di Shanghai, Tiongkok, ada 2.988 WNI yang masuk dalam DPT. Proses pemungutan suara dimulai pada pukul 08.00 waktu setempat. Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi mengantakan antrean panjang di beberapa TPS di luar negeri karena sebagian pemilih masuk dalam DPK.
”Antrean itu kategori DPK, yakni pemilih yang tidak masuk DPT/DPTb, dan baru sadar belakangan untuk ikut milih [bukan lapor saat masih proses pendataan]. Putusan MK bilang, mereka bisa nyoblos di satu jam terakhir [dan sepanjang surat suara masih ada],” ujar dia. (Detik/Antara/Liputan6.com/Danang Nur Ihsan/JIBI)