Panjat Menara 25 Meter untuk Lepas APK

SRI SUMI HANDAYANI

KARANGANYAR—Pemasangan alat peraga kampanye (APK) calon anggota legislatif (caleg) maupun calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) membuat Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan turunannya, yaitu Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) kecamatan, desa, dan pengawas tempat pemungutan suara (PTPS) kewalahan.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Mereka wajib menertibkan APK pada masa tenang pemilu mulai Minggu-Senin (14-15/4).
Sebetulnya, partai politik, caleg, capres, tim sukses, tim pemenangan, dan lain-lain bertanggung jawab melepas APK. Tetapi, praktiknya berbeda.
Seperti terjadi di Kecamatan Matesih, Karanganyar. Anggota staf Informasi dan Teknologi (IT) Pembantu Panwascam Matesih, Narto, 30, nekat memanjat puncak menara 25 meter di depan Kantor Kecamatan Matesih, Senin (15/4). Dia memanjat menara tanpa alat pengaman dan melepas bendera di puncak menara. Narto mengaku sudah izin kepada istri saat hendak berangkat menertibkan APK.
”Sudah izin kalau harus panjat pohon, menara begitu. Rasanya deg-deg sir, gimana gitu. Ya sudah biasa panjat pohon kelapa sejak kecil. Lebih gampang panjat menara ketimbang pohon kelapa,” tutur Narto saat berbincang dengan Koran Solo, Senin.
Dia mengaku tidak habis pikir dengan orang yang memasang APK di puncak menara. ”Kebangeten. Ya mungkin tujuannya supaya mudah dilihat. Tapi kok nekat eram. Kalau yang pasang kan dibayar ya. Kalau saya ini karena tugas membantu Panwascam,” ujar dia.
Bapak satu anak itu menerima honor Rp1.250.000 per bulan. Dia mengantongi SK sebagai Staf IT Pembantu Panwascam Matesih selama tiga bulan. Sehari-hari, dia bekerja sebagai guru WB Bahasa Jawa di SMPN 1 Matesih.
Bukan hanya Narto yang all out menertibkan APK. Pengawas TPS (PTPS) 06 Dusun Rotogondang, Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Waryanti, memanggul PTPS di Dusun Kauman, Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Muji Lestari, saat melepas banner yang dipasang di pohon.
Waryanti mengaku kesulitan melepas APK di pohon karena terhalang pagar tanaman rimbun. Dia berinisiatif memanggul Muji supaya lebih mudah melepas banner. Tetapi yang terjadi, keduanya malah jatuh terjengkang. Di sisi lain, Waryanti berhasil melepas banner dengan sekali sentakan.
”PTPS kan dibagi beberapa tim. Di tim saya enggak ada lelaki. Mau nyopot lewat pagar enggak bisa. Iseng bilang ke Muji, ’yuk tak gemblak [dipanggul]’. Dia langsung naik. Enteng badannya [Muji],” tutur dia sembari terkekeh.
Narto, Waryanti, dan Muji, adalah sejumlah orang yang berusaha melepas APK dengan segala cara. Tujuan mereka Pemilu 2019 berjalan aman dan lancar sesuai aturan. Ketua Panwascam Matesih, Sukadi, menyampaikan seluruh anggota di tingkat kecamatan, desa, dan PTPS menyisir APK di wilayah masing-masing. Total ada 173 TPS di Matesih. ”Sudah beres semua. Hari ini [Senin] kami sisir sampai masuk kampung-kampung,” ungkap dia. (JIBI)