Bisnis Menjanjikan Rica-Rica Bekicot

MOH. KHODIQ DUHRI

SRAGEN—Masa empat bulan lalu menjadi periode buruk bagi Firnando, 23, warga Dusun Ngasem RT 012, Desa Karangtalun, Kecamatan Tanon, Sragen. Ayah satu anak ini banyak bergantung dari penghasilan sebagai buruh bangunan. Namun, lebih dari sebulan lamanya, pria lulusan SD itu tidak mendapat tawaran pekerjaan sebagai buruh bangunan.
“Bingung mau ngapain. Kalau tidak bekerja, bagaimana bisa menghidupi keluarga. Apalagi saya punya anak yang masih berusia satu tahun,” kenang Firnando saat ditemui Koran Solo di rumahnya, Selasa (14/5).
Di tengah kegalauan akibat menganggur, istrinya, Leni Nur Aini, 22, menawarinya sebungkus rica-rica bekicot yang dibeli di pasar. Itu adalah kali pertama Firnando mencicipi salah satu kuliner khas Sragen itu.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
“Sekali makan, rasanya tidak karuan [tidak enak] karena bumbunya ada yang salah. Saya lalu berpikir, kalau dimasak sendiri mungkin rasanya lebih enak,” ujarnya.
Keesokan harinya, Firnando pun berburu bekicot di kebun belakang rumah. Bekicot itu kemudian diolah sendiri menjadi hidangan pedas rica-rica oleh istrinya. “Kalau diolah sendiri rasanya lebih enak. Saat itu niatnya sih mau dimakan sendiri. Tapi ternyata sisa banyak. Saya lalu iseng menawarkan rica bekicot itu lewat Facebook. Tidak disangka, ternyata masakan bekicot itu banyak diminati,” paparnya.
Sejak saat itu, Firnando jadi yakin untuk berjualan rica-rica bekicot. Pada awalnya, ia masih berburu sendiri hewan dengan nama latin Achatina fulica ini.
Tidak hanya di wilayah Sragen, Firnando berburu bekicot hingga ke kawasan Kacangan, Andong, Boyolali.
“Sekarang saya bisa membeli dari pengepul seharga Rp4.000/kg untuk bekicot bercangkang dan Rp30.000-Rp35.000 untuk daging bekicot tanpa cangkang. Harga daging bekicot mentah sudah setara harga daging ayam,” terangnya.
Daging bekicot tanpa cangkang biasanya langsung diolah menjadi rica-rica. Sementara bekicot hidup yang masih bercangkang dimasukkan ke dalam kandang di belakang rumah sebagai persediaan. Untuk memisahkan daging dari cangkangnya, bekicot harus direbus selama sekitar 30 menit. Daging bekicot dibersihkan lalu digoreng hingga setengah matang. Daging bekicot setengah matang itu kemudian dimasak dengan bumbu rica-rica yang “pedas huhah.”
Dalam sehari, Firnando dan istrinya bisa mengolah 10-15 kg daging bekicot. Satu kilogram rica bekicot dijual seharga Rp90.000. Sementara satu bungkus rica bekicot ukuran kecil dijual seharga Rp2.000. Biasanya, Firnando memasarkan olahan bekicot itu melalui Facebook. Ia melayani pembelian di dua tempat yakni di Edupark Gemolong dan Alun-Alun Sasana Langen Putra Sragen. “Alhamdulillah, selama Ramadan ini ada peningkatan pesanan. Sebelum Ramadan, saya biasa mengolah sekitar 7-8 kg daging bekicot, setelah Ramadan saya bisa mengolah 10-15 kg daging bekicot,” ucapnya.
Firnando juga kerap menerima pesanan bekicot dalam partai besar. Bahkan, ada warga Jakarta yang jadi pelanggan setianya. “Kalau mau dikirim ke Jakarta, rica bekicot ini harus dimasak kering supaya bisa tahan sampai empat hari. Jadi, paket rica bekicot ini harus sampai di Jakarta dalam 1-2 hari,” imbuh sang istri, Leni Nur Aini. (JIBI)