257 Tersangka, 62 Provokator

JAKARTA—Polri menetapkan 62 orang yang diduga menjadi provokator pada aksi 22 Mei sebagai tersangka.

redaksi@koransolo.co

Sementara itu, kerusuhan 22 Mei telah meng­akibatkan enam orang meninggal dunia. Hingga berita ini ditulis Rabu (22/5) pukul 23.00 WIB, aksi masih berlangsung.
Hingga kemarin, total ada 257 pelaku kerusuhan aksi 22 Mei yang ditetapkan menjadi tersangka. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol. Dedi Prasetyo, mengatakan 62 orang provokator itu merupakan massa aksi yang telah ditangkap sejak Selasa (21/5) malam hingga Rabu.
Dedi menegaskan tidak tertutup kemungkinan jumlah tersangka provokator aksi 22 Mei akan bertambah. Alasannya aksi masih berlanjut hingga sore dan malam di sejumlah lokasi di Jakarta. ”Sampai saat ini sudah ada 62 orang provokator yang telah ditetapkan sebagai tersangka,” tutur Dedi, Rabu.
Salah seorang tersangka yang bertindak sebagai provokator menuliskan kalimat bersifat menghasut lewat Whatsapp (WA) Group. ”Ada di balik saya tersangka provokator yang dia menggugah kata-kata di Whatsapp Group ’persiapan buat perang, yang lain mana?’. Kemudian ada kata-kata lagi ’rusuh sudah sampai Tanah Abang, sudah bakar-bakaran’,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Argo Yuwono, saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu.
Pelaku juga menyampaikan kalimat bernada provokatif untuk menyerang Presiden Joko Widodo (Jokowi). ”Kemudian di Whatsapp Group menyampaikan ’Jokowi di Johar, ayo kita serang,” kata Argo.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Terkait jumlah tersangka yang mencapai 257 orang, mereka ditangkap di tiga lokasi kerusuhan seperti di dekat Kantor Bawaslu di sekitaran Jl. M.H. Thamrin, Tanah Abang, hingga Sabang dan Jl. Wahid Hasyim (72 tersangka). Lokasi kedua ada di Petamburan, Jakarta Barat (156 tersangka), sedangkan lokasi ketiga adalah asrama polisi di Gambir dan kantor Polsek (29 tersangka).
”Di Bawaslu kenapa kita lakukan penangkapan karena melawan petugas. Di Petamburan pembakaran [10] mobil dan asrama. Di Gambir penyerangan asrama Gambir dan Polsek Gambir,” kata Argo.
Argo memerinci barang-barang yang disita polisi dari para pelaku. Barang bukti termasuk senjata tajam dan senjata lainnya. ”Untuk Bawaslu barang bukti bendera hitam, mercon atau petasan, kemudian juga ada beberapa handphone. Di Petamburan ada beberapa celurit, busur panah yang ditemukan di Petamburan,” sebut Argo.
Dia menunjukkan busur panah yang diamankan di Petamburan. Argo menyebut barang bukti juga termasuk bom molotov untuk menyerang petugas. ”Ini busur panahnya yang digunakan di Petamburan. Ada bom molotovnya. Ada busur sudah tertata di pinggir jalan,” jelasnya.
Polisi pun menemukan uang dalam amplop yang berisi uang. Ternyata uang tersebut jatah untuk para perusuh tersebut. ”Di Petamburan juga ada uang yang masuk di amplop, ada nama-namanya. Amplop ini ada untuk siapa-siapanya dari Rp200.000-Rp500.000. Ada uang Rp5 juta untuk operasional,” kata Argo.
Selain uang rupiah, Polda Metro Jaya juga menyita uang dolar dari massa di depan Kantor Bawaslu. Uang tersebut disebut sebagai uang operasional massa aksi yang rusuh pada Ravu dini hari. ”Uang USD 2.760 [yang berhasil diamankan polisi],” kata Argo.
Uang itu, disebut Argo, digunakan untuk operasional saat aksi berlangsung. Argo mengatakan uang itu dibawa oleh massa yang berasal dari luar daerah DKI Jakarta. Kepada polisi, tersangka pembawa dolar itu menyebut mendapatkan uang dari salah satu orang yang hingga kini masih diburu oleh polisi. ”[Uang dolar] ini dari Lombok, peserta dari Lombok, ini di tempat kejadian perkara di Bawaslu,” imbuh Argo.
Polisi menyatakan para perusuh yang melakukan pembakaran di asrama Brimob, Petamburan, Jakarta Barat, merupakan orang suruhan. Polisi kini mencari aktor di balik insiden penyerangan itu. ”Jadi bahwa pelaku-pelaku yang kami tangkap sebanyak 257 ini ada yang menyuruh, ada beberapa uang tadi di amplop ini dan sudah men-setting kegiatan,” jelas Argo.
Para perusuh itu, menurut Argo, berasal dari sejumlah daerah di luar Jakarta. Mereka kemudian bertemu dengan sejumlah orang di Jakarta untuk merencanakan penyerangan. ”Kemudian bahwa para tersangka yang tadi disuruh itu berasal dari luar Jakarta dan kemudian dari Jawa Barat dia kemudian datang ke Sunda Kelapa. Di sana ketemu beberapa orang di sana. Yang sedang kami cari, sedang kami gali, siapa orangnya yang ditemuinya dan kemudian,” ujarnya.
Dalang Kerusuhan
Para tersangka disangkakan melanggar pasal tentang kekerasan hingga pembakaran. ”Dikenakan Pasal 170 KUHP, 212 KUHP, 214 KUHP, 218 KUHP, dan untuk di Petamburan 187 KUHP tentang pembakaran,” kata Argo.
Sementara itu, pemerintah telah mengantongi dalang kerusuhan 22 Mei. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto, mengatakan pemerintah memiliki intelijen yang terus mengamati perkembangan mulai dari awal hingga Pemilu 2019.
“Kalau saudara-saudara mengamati berbagai kasus yang terjadi, kan ada satu keterkaitan antara satu kasus dengan kasus yang lain,” katanya saat menyampaikan keterangan di Gedung Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu.
Berdasarkan keterkaitan yang terjadi, Wiranto mengaku telah mengetahui dalang atas kerusuhan yang terjadi di beberapa wilayah Ibu Kota. Saat ini pihaknya sedang mengumpulkan bukti dan mengkaji penyelidikan lebih dalam lagi. “Jangan dikira kita kemudian tidak tahu. Kita tahu tapi kan ada hal-hal yang menyangkut hukum yang harus kita taati, ada proses prosedur tertentu yang lengkapi dan sebagainya,” jelasnya.
Tak Ada Toleransi
Presiden Jokowi meminta semua pihak tidak melakukan kekerasan sekaligus menegaskan pemerintah tidak memberi toleransi kepada semua perusuh dan pengganggu keamanan. Hal itu diungkapkan Jokowi dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu sore. Dalam pernyataannya, dia menyatakan menghargai Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang akan membawa sengketa Pemilu 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK).
”Pemilu adalah satu event dari perjalanan negara Indonesia yang masih panjang dan sebagai kepala negara, dan kepala pemerintahan, saya mempunyai kewajiban menjaga stabilitas politik dan keamanan. Dan sudah disediakan oleh konsitutsi kita, bahwa segala perselisihan, sengketa, diselesaikan melalui MK. Dan saya menghargai Pak Prabowo Sandi yang telah membawa sengketa ke MK. Saya juga meyakini bahwa hakim-hakim di MK akan memutus sesuai fakta-fakta yang ada,” kata Jokowi yang disiarkan live oleh sejumlah stasiun televisi nasional, Rabu.
Jokowi mengingatkan seluruh warga wajib untuk berbuat baik dan saling menghargai, apalagi umat Islam sedang menjalankan ibadah Ramadan. Dia mengatakan akan membuka diri untuk bekerja sama membangun negara, tapi tidak memberikan toleransi kepada pengganggu keamanan.
”Saya membuka diri kepada siapa pun untuk bersama-sama untuk bekerja sama membangun neraga ini, memajukan negara ini. Tapi saya juga tidak memberikan toleransi kepada siapa pun juga yang akan mengganggu keamanan, yang mengganggu proses demokrasi dan mengganggu persatuan negara yang amat kita cintai ini, terutama perusuh-perusuh,” kata Jokowi. ”Kita tidak akan memberikan ruang untuk perusuh-perusuh tersebut yang akan merusak persatuan. TNI dan Polri akan menindak tegas sesuai aturan hukum yang berlaku.”
Capres Prabowo Subianto juga memberikan pernyataan pada Rabu sore di Jl. Kertanegara. Uniknya, pernyataan dilakukan bersamaan dengan pidato Jokowi di Istana Negara, Jakarta.
Prabowo menyerukan pendukungnya agar tidak melakukan kekerasan. Namun, dia memperingatkan agar aparat juga tidak menggunakan kekerasan untuk menangani massa. Prabowo memulai pidatonya dengan mengucapkan bela sungkawa atas jatuhnya korban aksi yang ricuh sejak Selasa malam hingga Rabu pagi.
Dia kemudian meminta pendukunganya untuk menahan diri agar tak melakukan kekerasan. Dia mengklaim hanya menggunakan hak-hak yang konstitusional untuk memperjuangkan kepentingan politiknya.
”Seperti yang sudah kami sampaikan berkali-kali sebelumnya, kami mendukung semua penggunaan hak konstitusional, yang berakhlak, yang damai, dan tanpa kekerasan. dalam perjuanhgan politik kebangsaan kita. Oleh sebab itu, saya menghimbau kepada seluruh pihak masyarakat yang menyampaikan aspirasinya, pihak kepolisan, TNI, dan semua pihak, untuk menahan diri agar tidak melakukan kekerasan fisik. Termasuk kepada seluruh pejabat publik, kepolisan, politis, tokoh masyarakat, tokoh agama, netizen dan anak bangsa untuk menhgjindarui kekerasan verbal yang dapat memprivikasi. apakagi di bulan ramadan yang baik dan suci ini,” kata dia.
Prabowo secara eksplisit memperingatkan agar aparat tidak menyakiti rakyat. Jika tidak, katanya, anyaman kebangsaan akan rusak dan sulit dirangkai kembali. ”Kami meminta kekerasan tadi malam dan yang terjadi subuh tadi yang mencoreng martabat dan marwah bangsa kita, jangan boleh terjadi lagi, bila hal ini terjadi lagi, maka kami sangat kuatir baju anyaman kebangsaan kita akan rusak dan sulit kita rangkai kembaki,” katanya.
”Kami memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Besar Maha Esa agar TNI-Polri dengan rakyat dan tidak digunakan sebagai alat kekeuasaan. Adik-adikku yang masih berada di TNI-Polri aktif, seragam dan senjata yang Anda gunakan dibiayai oleh rakyat, milik rakyat semuanya, rakyat mendambakan anda mengayomi rakyat semua. Saya harap Anda jangan sekali-kali menyakiti hati rakyat, apalagi memukul dan menembaki rakyat sendiri.”
Sebanyak enam orang meninggal dunia berasal dari peserta aksi. Jenazah mereka berada di RS Tarakan, RS Pelni, RS Budi Kemuliaan, RS Angkatan Laut Mintoharjo, dan RSCM. Adapun jumlah korban yang luka-luka hingga Rabu malam mencapai kurang lebih 300 orang.
Sejauh ini, korban paling banyak dirawat di RS Tarakan yang hingga pukul 09.00 WIB sudah merawat 80 orang korban, disusul oleh RS Pelni yang menampung 70 orang korban, total 150 orang dirawat akibat aksi massa tersebut.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) turun mengecek korban meninggal akibat aksi 22 Mei di RS Tarakan. “Kami dan beberapa staf datang ke Rumah Sakit Tarakan, mengecek berapa korban yang masuk ke RS ini. Ini memang sudah bertemu dengan petugas kesehatan di sini,” kata Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, di RS Tarakan, Cideng, Jakarta Pusat, Rabu.
Taufan menuturkan ada sekitar 130 orang terluka dan dua orang meninggal dunia di RS tersebut. Taufan belum bisa memastikan penyebab dua warga meninggal dunia. Dia mendapat informasi dari pihak rumah sakit, keluarga korban tidak mau diautopsi. ”[Penyebabnya] peluru karet temuannya. Tapi ada yang meninggal, kata dokter, keluarga tidak bersedia diautopsi,” ucap Taufan. (JIBI/Solopos.com/Detik/Liputan6.com)