KESEHATAN PANGAN Keracunan Makanan Masih Jadi Ancaman Skala Tinggi

Beberapa hari yang lalu tepatnya pada 7 Juni merupakan Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day). Dalam peringatan kali ini, kasus keracunan makanan menjadi salah satu yang mendapat perhatian khusus. Ini karena keracunan makanan masih terus menjadi ancaman skala tinggi di berbagai negara.
Liputan6.com pada Sabtu (8/6) menyebutkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 600 juta kasus penyakit yang disebabkan oleh makanan terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Penyakit ini ditularkan melalui makanan atau WHO menyebutnya dengan penyakit bawaan pangan (food borne diseases) yang menular atau keracunan yang disebabkan oleh mikroba atau agen yang masuk ke dalam badan melalui makanan yang dikonsumsi. Bentuk penyakit bawaan makanan ini salah satunya keracunan makanan. Indonesia juga terus menghadapi kasus keracunan makanan seperti yang juga terjadi berkali-kali di berbagai wilayah di kawasan Soloraya.
Pada 2017, tercatat ada 163 wabah penyakit bawaan makanan di seluruh Indonesia, seperti diungkapkan data Direktorat Kesehatan Lingkungan dan Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) Kementerian Kesehatan. Data tersebut menurut Perwakilan WHO untuk Indonesia, N Paranietharan sebagai bukti wabah keracunan makanan adalah masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar di Indonesia.
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Kirana Pritasari, pernah menyampaikan, kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan menempati urutan kedua setelah KLB difteri yang masuk ke laporan PHEOC. Sebagian besar penyebab keracunan makanan terutama bersumber dari pangan siap saji. Dilihat dari jenis pangan, kasus keracunan makanan terbanyak berasal dari masakan rumah tangga yaitu sebesar 36 persen.
“Makanan yang terlihat menarik, nilai gizinya sudah tercukupi, namun jika dalam pengelolaannya terjadi pencemaran baik fisik, biologi ataupun kimia, maka makanan yang enak dan nikmat pun menjadi tidak aman. Bahkan tidak layak dikonsumsi,” ujar Kirana beberapa waktu lalu.
Sanitasi dan kebersihan menjadi solusi utama agar kualitas makanan terjamin sehat. Keamanan pangan adalah kunci untuk mencapai beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Makanan yang aman berkontribusi pada kemakmuran ekonomi, meningkatkan pertanian, akses pasar dan pariwisata. Dalam hal ini tidak adanya zat pada makanan yang dapat membahayakan kesehatan konsumen. Bahaya yang ditularkan melalui makanan dapat bersifat mikrobiologis, kimia, atau fisik dan sering tidak terlihat oleh mata, seperti bakteri, virus, atau residu pestisida.
Untuk mencegah terjadinya keracunan pangan, Kemenkes menerbitkan peraturan yang mengatur higiene sanitasi pangan meliputi tempat pengelolaan makanan (TPM) yang mencakup jasaboga, rumah makan/restoran, depot air minum, dan pangan di rumah tangga. Mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan No.1096 Tahun 2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga, ada beberapa komponen penting yang perlu diperhatikan dalam peningkatan keamanan pangan. Misalnya, mencuci tangan untuk melindungi kebersihan tangan, cuci piring untuk melindungi kebersihan piring, serta membuang bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara keseluruhan.
Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan agar makanan tidak merusak kesehatan. Upaya pencegahan yakni sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat dimana makanan tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada masyarakat atau konsumen. Upaya ini meminimalisasi dan menghasilkan kualitas makanan yang memenuhi standar kesehatan, yang meliputi pengawasan mutu bahan makanan mentah, penyimpanan bahan, suplai air yang baik, pencegahan kontaminasi makanan dari lingkungan, peralatan, dan pekerja, dan selama tahap proses pembuatan makanan. (JIBI)