UKM Expo Angkat Potensi Kota Solo

BAYU JATMIKO ADI

SOLO–Kota Solo menyimpan potensi kerajinan atau handicraft yang luar biasa. Potensi itu bisa dilihat di pameran produk unggulan milik pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dalam UKM Expo 2019 di Solo Paragon Mall hingga Sabtu (15/6). Ada 52 stan yang mewakili produk unggulan kelurahan di Solo.
Produk yang ditampilkan beragam, mulai dari batik, lurik, hingga kerajinan. Seperti yang ditampilkan UKM yang baru kali ini mengikuti pameran tersebut, Phico Art. UKM yang mewakili Kelurahan Jebres tersebut menampilkan kerajinan kayu berbentuk jam dinding, hiasan interior, tatakan, dan lainnya dengan lukisan laser. Produk yang baru dikembangkan dua tahun ini menggambungkan bahan kayu dengan sentuhan teknologi.
Phico Art hanya menjual produk melalui media sosial. ”Saat ini kami berencana menyasar pasar Jakarta. Ini merupakan pameran pertama yang kami ikuti. Semoga dengan kegiatan ini bisa memperkenalkan produk yang kami produksi,” terang petugas penjaga stan Phico Art saat ditemui Koran Solo di sela-sela pameran, Kamis (13/6).
UKM lain yang sudah beberapa kali mengikuti pameran semacam ini adalah produsen lukisan dari serbuk grajen kayu, Sutrisno, warga Nayu Timur, RT 004/RW 018, Nusukan. Selain pernah mengikuti beberapa pameran di Solo, dia juga pernah mengikuti Inacraft di Jakarta.
Ada banyak lukisan yang ditampilkan Sutrisno dalam pameran tersebut. Selain lukisan wajah tokoh terkenal, dia juga melukis objek lain seperti bunga, pemandangan, dan sebagainya. Untuk membuat lukisan serbuk kayu hampir sama dengan cara melukis pada umumnya. Pertama-tama dia membuat sketsa lukisan dengan pensil pada bidang lukisan yang berupa kanvas atau kertas.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Lalu, dia warnai dengan mengoleskan lem kayu pada kanvas atau kertas yang kemudian ditaburi dengan serbuk kayu. Untuk membuat warna berbeda, serbuk kayu yang ditaburkan diberi pewarna terlebih dulu. Lukisan grajen kayu bikinannya dipesan dari berbagai daerah. ”Saat ini yang rutin ada dari Manado dan Jakarta. Biasanya untuk suvenir maupun untuk interior,” terang Sutrisno.
Pameran ini juga diramaikan stan Imanuella Craft dari Danukusuman. Produk Imanuella Craft yang berupa kerajinan kayu, bambu, dan sebagainya, saat ini sudah menembus pasar internasional, terutama Eropa. ”Barang yang kami pamerkan ini adalah barang yang juga kami ekspor. Kami ingin mengenalkan kepada masyarakat bahwa ada produk seperti ini di Solo. Jadi tujuan utama kami adalah untuk edukasi,” kata pemilik Imanuella Craft, Novi Ekawati.
Dia menyebutkan produknya mulai diekspor sejak 2013 lalu. Namun, dia mulai fokus untuk menggarap pasar ekspor pada 2017. Kerajinan yang dipamerkan beragam, ada hiasan bentuk topeng dari akar bambu, patung bebek dari akar bambu, rak botol dari kayu, gantungan kunci, dan sebagainya. Harga yang ditawarkan mulai Rp5.000 hingga Rp1,2 juta.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Solo, Nur Haryani, mengatakan kegiatan tersebut digelar dalam rangka peringatan Hari Jadi Pemerintah Kota Solo. ”Pameran ini kami selenggarakan rutin sejak lima tahun terakhir,” kata dia.
Kegiatan tersebut digelar untuk memperkenalkan produk-produk dari masing-masing kelurahan. ”Ke depan bisa kami tingkatkan akses pemasarannya,” lanjut dia. Produk yang dipamerkan merupakan usulan dari masing-masing kelurahan yang kemudian diseleksi secara internal di Dinas Koperasi dan UKM.
Panitia pelaksana kegiatan, Daryono, menyebutkan melalui UKM Expo, pihaknya ingin menunjukkan Solo memiliki banyak potensi yang menarik. ”Banyak potensi, tapi mungkin banyak juga yang belum tahu. Jadi kegiatan tersebut dikonsep untuk mengenalkan potensi di setiap kelurahan,” kata dia. (JIBI)