Uang Mitra Ternak Rangrang untuk Bitcoin-Saham

BISNIS RANGRANG: Pemilik CV Mitra Sukses Bersama (MSB) Sugiyono (kanan) menjelaskan kepada wartawan soal ternak rangrang dalam jumpa pers di RM Rosojoyo 2, Nglorog, Sragen, Senin (17/6).

MOH. KHODIQ DUHRI

SRAGEN—Ternak rangrang bukan usaha utama yang dijalankan CV Mitra Sukses Bersama (MSB). Sugiyono selaku pemilik CV MSB memutar uang itu dalam investasi mata uang kripto (virtual) Bitcoin dan trading (saham).
Hal itu disampaikan Sugiyono dalam jumpa pers di Rumah Makan Rosojoyo 2, Nglorog, Sragen, Senin (17/6). Hadir pula kuasa hukumnya, Heroe Setiyanto.
Sugiyono mengatakan CV MSB merupakan kemitraan agrobisnis dengan pengamanan berlapis. Dia menganggap kegiatan itu tidak bergerak di bidang investasi dana sehingga untuk membuka usaha itu tidak perlu mendapat izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebagaimana diberitakan Koran Solo sebelumnya, OJK Solo menyebut CV MSB belum terdaftar di OJK.
Padahal MSB menggalang dana masyarakat untuk investasi.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Pengamanan berlapis yang dimaksud Sugiyono adalah uang milik 6.000 anggota (bukan puluhan ribu seperti yang pernah diberitakan Koran Solo) diputar untuk bisnis cryptocurrency atau mata uang digital Bitcoin dan trading (perdagangan saham). Sedangkan ternak rangrang digunakan untuk menghimpun dana mitra.
“Jadi selama lima tahun, kami bayar hasil panen [rangrang] kepada mitra senilai Rp7 triliun. Sumbernya ya hasil perputaran uang dari pengamanan konvensional, pengamanan trading dan pengamanan kripto. Sebanyak 90% itu kripto. Satu koin [Bitcopin] ketika terjadi kenaikan, saya pernah mendapat profit ratusan miliar rupiah. Kalau dapat profit puluhan miliar sudah sering, kalau miliaran rupiah bisa tiap hari. Alhamdulillah, selama lima tahun tidak terjadi masalah apa pun,” jelas Sugiyono.
Sugiyono menjelaskan angka Rp7 triliun itu dihitung berdasar jumlah paket dikalikan Rp2,2 juta atau biaya yang dikeluarkan CV MSB untuk membeli rangrang hasil panen dari mitra. Pada 2018, dia mengklaim sudah membayar hasil panen semut rangrang  lebih dari Rp2 triliun kepada mitra. Kendati demikian, dia menganggap usaha bisnis rangrang itu harus diakhiri untuk menghindari pembengkakan biaya produksi yang kian meningkat.
Problem yang dihadapi CV MSB, menurut Sugiyono, adalah buruknya kualitas panen semut  dari mitra. Dia menargetkan hasil budi daya rangrang tiap paket bisa menghasilkan 50% semut berkualitas. Akan tetapi, satu paket usaha itu rata-rata hanya bisa menghasilkan 20% semut berkualitas. “Hasil panen dari mitra tidak sesuai harapan. Jumlah panen makin jelek saja. Jadi, ada pembengkakan biaya produksi terutama untuk pembelian bibit baru, gaji tenaga, perawatan stoples, operasional kendaraan, dan lain-lain. Biaya produksi bisa mencapai Rp3 miliar/pekan. Selaku penanggung jawab kemitraan MSB, saya harus mengambil keputusan yang cepat dan tepat [dengan menutup MSB]. Kalau saya terlambat ambil keputusan, masalah akan menimpa kami,” paparnya.
Sugiyono juga mengakui selama lima tahun terakhir, CV MSB belum memiliki produk yang dihasilkan dari rangrang. CV MSB belum bisa memproduksi kapsul untuk obat dari bahan baku rangrang tersebut. “Semut yang berkualitas baik itu bisa diolah jadi kapsul yang bagus untuk penyakit kolesterol, penyakit tulang, dan sebagainya. Tapi kalau bahan baku belum siap, [kapsul] itu belum bisa terwujud,” kata Sugiyono.
Hingga kini, kurang dari 5.000 mitra yang belum mendapat hasil panen dari ternak rangrang. Sugiyono optimistis bisa melunasi pembayaran sesuai jadwal yang disepakati dengan mitra yakni lima bulan setelah ternak rangrang  dimulai. Namun, dia enggan membeberkan jumlah uang yang harus dibayarkan kepada 5.000-an mitra tersebut. Guna melunasi pembayaran kepada mitra, Sugiyono mengaku hanya perlu menjual aset bitcoin . “Jumlah koin ada banyak, tapi yang kami simpan hanya belasan. Kalau ada kenaikan, profit dari satu koin bisa capai miliaran rupiah. Saat usaha ini [ternak rangrang] berakhir, kalau dibutuhkan ya tinggal diambil saja [profitnya],” ucap Sugiyono. (JIBI)