21 SDN Hanya Dapat Murid Kurang dari 10

TAMARA GERALDINE

SOLO—Sebanyak 21 sekolah dasar negeri (SDN) di Kota Solo masing-masing hanya mendapat siswa baru kurang dari 10 orang pada penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2019/2020 beberapa hari lalu. Hal itu membuat Dinas Pendidikan Kota Solo memantau secara khusus 21 SDN tersebut.
Tren penerimaan siswa baru di SDN memang menunjukkan penurunan. Jika kondisinya makin mengkhawatirkan alias siswa baru pendaftar di SDN minim, Dinas Pendidikan Kota Solo bisa saja menggabung dua SDN atau lebih.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Solo, Wahyono, mengatakan penggabungan SDN untuk efisiensi manajemen pengelolaan. Terdapat tiga hal yang menjadi syarat penggabungan SDN.
”Pertama, siswanya sedikit. Kedua, gurunya kurang. Ketiga, bangunan sekolahnya yang rusak,” ujar Wahyono saat ditemui Koran Solo di Dinas Pendidikan Kota Solo, Kamis (11/7).
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Dia menilai banyak hal yang membuat suatu SDN kekurangan murid. Ada SDN di tengah kota yang kekurangan murid dan setelah ditelusuri rupanya keluarga pasangan usia subur tinggal di pinggir Kota Solo. Ketika suatu sekolahan kekurangan murid, dilihat dahulu lingkungan di sekitar sekolahan tersebut.
”Apakah ada usia anak sekolah atau tidak?” kata dia. Pengelola sekolahan harus berusaha memberikan layanan pendidikan terbaik kepada masyarakat. Jika ada SDN di suatu tempat, tetapi anak usia sekolah di kanan dan kiri SDN tidak bersekolah di sana, itu menjadi tanggung jawab pengelola SDN tersebut untuk mengevaluasi diri.
”Mudah-mudahan masyarakat masih percaya dengan pendidikan di SDN,” ujar dia. Dinas Pendidikan Kota Solo berusaha membuat manajemen sekolah efektif dan efisien. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan penggabungan SDN. Penggabungan tersebut bukan sesuatu hal yang sederhana.
Penggabungan SDN dilakukan berdasarkan aspek sarana dan prasarana, kesiswaan, dan kurikulum. Dinas Pendidikan juga mempertimbangkan kepentingan guru, lingkungan, dan lainnya.
”Jadi bukan semata-mata berdasar jumlah murid yang sedikit,” kata Wahyono. Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo pernah menerbitkan Surat Keputusan Wali Kota Solo No. 421/44/1/2017 tentang Penggabungan Sekolah Dasar Negeri di Kota Solo.
Berdasarkan surat keputusan yang diterbitkan pada 2017 itu ada delapan SDN yang digabung. SDN Baturono dan SDN Kusumodilagan di Kecamatan Pasar Kliwon digabung menjadi SDN Kusumodilagan. SDN Nayu Barat 3 dan SDN Nayu Barat 2 di Kecamatan Banjarsari menjadi SDN Nayu Barat 2.
Di Kecamatan Jebres, Kota Solo, SDN Karengan dan SDN Kampung Sewu digabung menjadi SDN Kampung Sewu sedangkan SDN Sudiroprajan 125 digabung dengan SDN Gandekan menjadi SDN Gandekan.
Setelah pengumpulan data PPDB 2019, Wahyono akan memetakan SDN mana yang akan digabung. Setiap tahun pasti ada SDN yang menjadi sasaran penggabungan.
”Menurut data ada 21 SDN di Kota Solo pada PPDB 2019 yang menerima siswa kurang dari 10 orang. Nah, ini akan kami pikirkan, bagaimana masa depannya,” kata dia.
Sebagian orang tua yang punya anak usia SD di Kota Solo dan sekitarnya memilih menyekolahan anak-anak mereka di SD swasta daripada di SDN. Mereka tidak mempermasalahkan biaya masuk SD swasta yang mahal karena menawarkan fasilitas yang tak ditawarkan SDN. (JIBI)