HARGA CABAI NAIK Pengusaha Kuliner Pedas Tekan Laba

SOLO­—Pelaku usaha kuliner dengan menu makanan pedas di Kota Solo tidak menaikkan harga meski harga cabai meroket. Mereka memilih menekan keuntungan atau laba demi menjaga pelanggan.

Farida Trisnaningtyas
redaksi@solopos.co.id

Pemilik warung soto ayam Lamongan dan ayam geprek Pak Tris, Manahan, Surati, mengatakan cabai merupakan salah satu bahan utama untuk masakannya. Setiap hari setidaknya dia kulakan 1 kilogram (kg) cabai, khususnya cabai rawit merah. “Terakhir saya beli harganya Rp60.000/kg di Pasar Mangu, Ngemplak, Boyolali. Cabai ini saya gunakan untuk bikin ayam geprek dan sambal,” ujar dia saat ditemui Koran Solo di warungnya, Kamis (11/7).
Rati, sapaan Sirati, tidak menaikkan harga dagangannya, meski harga cabai masih tinggi, padahal masakan yang dijajakannya harus menggunakan cabai. Kecuali soto Lamongan, dia menyuguhkan aneka ayam penyet dan ayam geprek granat (super pedas) dengan variasi pedas yang bermacam-macam sesuai permintaan konsumen. Makin pedas, kebutuhan cabai makin banyak.
Dia memilih mengurangi untung untuk masing-masing porsi menu tersebut. Sebagai contoh, menu paket ayam geprek granat plus es teh jumbo tetap dijual Rp12.000 dan paket ayam penyet kremes plus es teh jumbo dijual Rp12.000. Untuk paket tersebut dia biasanya mengambil untung Rp3.000 per porsi, kini menjadi Rp2.000 per porsi alias berkurang 33%.
“Katanya penjual langganan saya, panen cabai tidak banyak, jadi pasokannya sedikit. Saya berharap harga tinggi ini tidak lama dan bisa normal lagi sekitar Rp20.000 per kg saja,” imbuh dia.
Level Pedas
Hal serupa diungkapkan Supervisor Ayam Keprabon Express, Ika Rohani. Menurut dia, kenaikan harga bahan pangan sebagai salah satu konsekuensi usaha di bidang kuliner. Tak hanya cabai, tapi sejumlah bahan pokok juga kerap naik. Namun demikian, banyak faktor yang mesti dipertimbangkan untuk menaikkan harga menu.
“Menu kami memang hampir semua menggunakan cabai, terutama cabai rawit merah. Enggak bisa dimungkiri, kenaikan harga mesti berpengaruh. Akan tetapi, kami sudah memperhitungkannya sehingga kalau pun harga naik, jangka waktunya lama,” papar dia.
Ika menjelaskan tak mengurangi takaran cabai pada aneka menunya. Varian menu di Ayam Keprabon Express berdasarkan level pedas atau banyaknya cabai. Ayam geprek memiliki level pedas 1 sampai 5, setiap level menggunakan empat cabai. Dengan demikian, jika pembeli memesan level 5 berarti membutuhkan 20 cabai. Sedangkan harga paket masih sama, yakni mulai Rp15.000 hingga Rp27.000 per porsi.
Outlet Ayam Keprabon Express di sejumlah mal di Soloraya rata-rata bisa menjual 300 porsi untuk hari biasa dan bisa naik dua kali lipat pada akhir pekan. Ika enggan menyebut berapa banyak cabai yang dipakai setiap hari untuk outlet tersebut lantaran semua bahan langsung dipasok dari bagian produksi.
“Kami pasang harga sama agar pelanggan tidak kaget. Memang ada customer yang menanyakan harga kami naik atau tidak dengan kondisi cabai yang tinggi seperti ini,” imbuh dia.