KASUS HOAKS PENGANIAYAAN Ratna Sarumpaet Divonis 2 Tahun

JAKARTA—Ratna Sarumpaet divonis dua tahun penjara karena melakukan keonaran dengan menyebarkan kabar bohong (hoaks) penganiayaan.

redaksi@solopos.co.id

Ratna Sarumpaet merasa tetap yakin perbuatannya bukan keonaran, dia mengaku sejak awal kasusnya adalah politik.
”Jadi gini ya karena dia [hakim] eksplisit menyatakan saya melanggar pasal keonaran itu buat saya menjadi signal bahwa Indonesia masih jauh, masih harus berjuang sekuat-kuatnya untuk menjadi negara hukum yang benar,” kata Ratna, seusai divonis, di PN Jakarta Selatan, Kamis (11/7).
”Kalau ada alasan lain mungkin saya lebih bisa menerima, tetapi karena di dalam logika dasar saya keonaran itu bukan seperti yang saya lakukan ya. Saya rasa memang seperti yang saya katakan di awal persidangan ini bahwa ini politik jadi saya sabar saja,” sambungnya.
Meskipun Ratna divonis dua tahun penjara, yang lebih ringan daripada tuntutan jaksa enam tahun, Ratna tetap keberatan atas vonis itu. Dia menilai unsur keonaran tidak terbukti seperti dalam dakwaan JPU, namun pertimbangan hakim menyebut ada benih-benih keonaran.
”Benih-benih itu kan bahasa yang dikamuflase sedemikian rupa. Kan hukum itu ada kepastiannya nggak bisa benih benih kok tiba-tiba memunculkan itu. Nanti harus dibongkar lagi kamus bahasa Indonesia maksudnya,” ungkap Ratna.
Sebelumnya dalam putusannya, hakim menyatakan Ratna Sarumpaet terbukti bersalah menyebarkan kabar bohong penganiayaan.
”Menyatakan terdakwa Ratna Sarumpaet terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menyiarkan pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran rakyat,” ujar hakim ketua Joni membacakan amar putusan dalam sidang vonis Ratna Sarumpaet, Kamis.
Pikir-Pikir
Dalam putusan, hakim menyebut cerita bohong penganiayaan Ratna Sarumpaet memunculkan benih-benih keonaran. Ratna Sarumpaet dinilai sadar penyebaran hoaks bisa memunculkan reaksi.
”Terdakwa seharusnya menyadari kalau cerita bohong dan kondisi luka lebam akibat pemukulan mengundang reaksi orang yang menerima, membaca, dan mengetahui. Terdakwa seharusnya menyadari dengan teknologi saat ini akan dengan mudah menyebar,” kata hakim anggota Krisnugroho membacakan analisis yuridis.
Cerita hoaks penganiayaan disebut majelis hakim juga disebarkan ke tim pemenangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Saat itu, menurut hakim, muncul reaksi keras atas kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet yang diklaim terjadi di kawasan bandara di Bandung.
”Dan didukung situasi politik memanas karena Pilpres, dengan keadaan masyarakat yang terpolarisasi, akan dengan mudah tersulut emosi dan berujung keributan dan kerusuhan di masyarakat,” kata hakim.
Jaksa penuntut umum (JPU) menyatakan pikir-pikir untuk mengajukan upaya hukum lanjutan atas vonis dua tahun penjara Ratna Sarumpaet.
”Hanya kemudian diputuskan dua tahun, saya kira itu sudah menjadi kewenangan dari majelis hakim. Tentu majelis hakim sudah melalui berbagai pertimbangan sehingga majelis hakim memutuskan dua tahun. Tentu jika ditanyakan kami menuntutnya 6 tahun tentu kami akan menyatakan pikir-pikir dulu,” ujar jaksa Daroe Trie Sadono menanggapi vonis Ratna Sarumpaet, Kamis.
Menurut jaksa, majelis hakim sudah mempertimbangkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan. Semua unsur pada Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana disebut jaksa juga terbukti.
”Kita punya waktu 7 hari sejak dari hari ini. Nanti kita akan pertimbangkan dulu apakah kita akan menerima atau menyatakan banding. Saya kira itu,” kata Daroe. (Detik)