LAKALANTAS DI FLYOVER MANAHAN Pelaku Tabrak Lari Diancam Pasal Berlapis

MELANGGAR: Rekaman kamera CCTV menunjukkan mobil melanggar markah sebelum menabrak pengendara sepeda motor, Retnoningtri, 54, warga Slembaran RT 003/ RW 003, Kelurahan Serengan, Solo, di flyover Manahan, Senin (1/7) pukul 02.30 WIB. Video tabrak lari ini kini viral di media sosial.

SOLO—Pelaku tabrak lari yang mengakibatkan Retnoningtri, 54, warga Slembaran RT 003/ RW 003, Kelurahan Serengan, meninggal dunia dapat dikenai pasal berlapis akibat kelalaiannya.
ICHSAN KHOLIF RAHMAN
redaksi@koransolo.co

Dari hasil penyelidikan polisi, pelaku diketahui mengemudi melebihi batas kecepatan dalam kota dan saat berada di flyover Manahan pada Senin (1/7) pukul 02.30 WIB.
Kecelakaan itu merupakan kecelakaan pertama di flyover Manahan yang mengakibatkan korban meninggal dunia setelah dibuka pada akhir 2018 lalu.
Kasatlantas Polresta Solo, Kompol Busroni, mengatakan berdasarkan penyelidikan di 12 kamera closed circuit television  (CCTV) dari Simpang Gendengan hingga pelariannya ke arah barat Jl. Adisucipto pelaku memacu kendaraannya hingga lebih dari 80 km/jam. Bahkan, terpantau di ruas jalan sekitar simpang empat Fajar Indah pelaku mengemudikan mobil yang diduga Toyota Yaris itu dengan zig-zag untuk menghindari kesalahannya.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Menurut Kasatlantas, pasal yang dilanggar, yakni melanggar ketentuan batas kecepatan, mendahului kendaraan dalam kondisi tidak aman, pelaku melewati garis markah tidak terputus ganda, hingga UU No.22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 310 ayat (4) dengan ancaman hukuman paling lama enam tahun penjara.
“Kalau kami juncto kan banyak sekali pasalnya, kalau menyerahkan diri nanti tinggal dari pihak keluarga seperti apa. Sebelum melintasi flyover atau sebelum kecelakaan pelaku juga sudah kencang mengemudikan kendaraannya,” ujar dia saat dijumpai wartawan di ruang kerjanya, Kamis (11/7).
Menurut dia, sebanyak 12 kamera CCTV yang digunakan untuk penyelidikan merupakan hasil koordinasi dengan Satreskrim Polresta Solo. Hasilnya, identifikasi kamera CCTV telah mengarah pada identitas pelaku dan identitas kendaraan. Namun, Busroni masih merahasiakan ciri-ciri kendaraan seperti pelat nomor mobil itu. Dalam pantauan kamera CCTV pelaku melarikan diri ke arah barat dengan kencang hingga ke wilayah Colomadu.
“Lebih baik segera menyerahkan diri atau segera kami kenakan sanksi maksimal. Kami sudah mengetahui identitasnya dalam waktu tidak lama lagi segera kami temukan pelaku. Bukti dari kamera CCTV sebelum, saat, dan sesudah kejadian sangat menguatkan,” imbuh dia.
Peristiwa kecelakaan itu terjadi saat Retnoningtri baru saja mengantarkan anaknya ke Terminal Tirtonadi untuk pergi bekerja di Kudus, Senin dini hari. Saat kejadian korban mengendarai sepeda motor Honda Supra X berpelat nomor AD 2499 ES. Korban melaju dari arah barat dan hendak berbelok ke selatan atau ke kanan. Tiba-tiba muncul sebuah mobil pelaku melaju dari selatan dan akan berbelok ke barat dengan kecepatan tinggi. Mobil yang terlalu ke tengah dan melanggar markah menghantam motor korban, lalu meninggalkan lokasi begitu saja ke arah barat.
Keponakan korban, Rudy Budi­antoro, menjelaskan korban masih sadar saat sejumlah warga dan petugas Satpol PP memberikan pertolongan. Anggota Satpol PP pula yang memberi kabar tentang kecelakaan itu kepada keluarga.
”Dia masih sadar saat olah TKP. Sempat dirawat di UGD RS Kasih Ibu semalam, sebelum meninggal pukul 21.30 WIB Senin malam. Dia dimakamkan Selasa [2/7] siang,” ujar Rudy saat ditemui Koran Solo di rumah korban, Jl Yudistira No 5, Slembaran, Serengan, Solo, Rabu (10/7) malam.
Sementara itu, kakak korban, Rahmani, 55, masih shock dengan peristiwa itu. Dia masih ingat saat korban bisa berkomunikasi selama di RS Kasih Ibu.
Menurut dia, Retnoningtri dikenal sebagai pekerja keras karena masih bersedia melakukan pekerjaan apa saja. Sehari-hari, dia sudah bangun pada dini hari pukul 03.00 WIB. Keluarga kini hanya berharap polisi segera menemukan pelakunya. ”Keluarga cuma berharap pelaku datang ke rumah. Keluarga sudah ikhlas,” kata Rahmani.
Kasatlantas menambahkan telah memeriksa sebanyak empat orang saksi yang berada di tempat kejadian perkara (TKP). Ia mengaku kejadian tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi khususnya keberadaan kamera CCTV yang dirasa belum optimal.
Ia menambahkan sarana dan prasana seperti rambu-rambu di flyover Manahan sudah sangat lengkap. Namun, kesadaran pengguna jalan dalam kondisi akan menanjak, tikungan, dan menurun seharusnya mengurangi kecepatan bukan memacu kendaraannya. Apabila di flyover Manahan pada kawasan pertemuan arus dimodifikasi seperti water barrier atau pita kejut justru dapat memicu kecelakaan. Namun, hal ini akan menjadi kajian lebih lanjut bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo.
Kabid Lalu Lintas, Dishub Kota Solo, Ari Wibowo, mengatakan segera mengevaluasi sistem lalu lintas di flyover Manahan termasuk apabila masih diperlukan penambahan-penambahan sarana dan prasarana.
“Baru kami kaji ulang mengingat kondisi di ruas jalan itu cukup sempit. Mungkin dipasang lampu flashing sebagai upaya peringatan tapi tunggu dulu masih dalam kajian. Rambu-rambu sudah lengkap, markah di lokasi juga ganda tidak terputus yang berarti tidak boleh keluar markah. Apabila dipasang water barrier memang melancarkan arus lalu lintas, namun di sisi lain akan muncul hambatan,”ujar dia. (JIBI)