Mahasiswa Sragen Buat Alat Mitigasi Kekeringan

Koran Solo/Moh. Khodiq Duhri
siap diluncurkan: Muhammad Ilham Alhari, 20, mahasiswa Telkom Uni­versity asal Mondokan, Sragen, menun­jukkan website sragencare.go.id yang siap diluncurkan sebagai perangkat pro­gram mengurangi risiko bencana keke­ringan di Sragen. Foto diambil Kamis (11/7).

MOH. KHODIQ DUHRI

SRAGEN—Tiga mahasiswa Telkom University asal Kabupaten Sragen menciptakan aplikasi dan website sragencare.go.id untuk mitigasi bencana kekeringan. Dalam waktu dekat sragencare.go.id bakal diluncurkan guna mengurangi risiko dari bencana kekeringan di wilayah Kabupaten Sragen. Sragencare.go.id diciptakan oleh Muhammad Ilham Alhari, Muhammad Yusuf Nurhuda, dan Amanda Ardelia.
Ilham adalah mahasiswa Jurusan Sistem Informasi asal Desa Jekani Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen. Yusuf adalah mahasiswa Jurusan Teknik Elektro asal Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.
Amanda adalah mahasiswa Jurusan Telekomunikasi asal Pilangsari, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Belum lama ini mereka membuat alat bernama water level monitoring yang terintegrasi dengan aplikasi internet of things (IoT) untuk penanganan bencana kekeringan di Kabupaten Sragen.
Berdasar data yang mereka himpun dari Bdan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sragen, terdapat 110 lokasi kekeringan di Kabupaten Sragen pada 2017. Pada 2018 jumlahnya meningkat menjadi 146 lokasi.
”Sebanyak 146 lokasi itu tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Sragen di kawasan sebelah utara Bengawan Solo,” kata Ilham kala berbincang dengan Koran Solo di Sragen, Kamis (11/7).
Water level monitoring merupakan alat berbentuk kotak portabel. Alat ini dilengkapi sistem untuk mempermudah pemantauan ketersediaan air pada tabung. Sistem itu bisa bekerja dengan bantuan perangkat node MCU, sensor HC-SR04, dan kabel connector.
Water level monitoring bisa dipasang di permukiman penduduk yang rawan bencana kekeringan. Sistem ini bekerja dengan cara mengirim pesan notifikasi ketersediaan air ke aplikasi pada smartphone atau website.
Level air di dalam tabung dapat dipantau terus-menerus atau secara real time oleh sistem. Jika persediaan air dalam tabung menipis, website dan aplikasi akan memasukkan data secara otomatis tentang daerah mana saja yang kekurangan air serta menampilkan peta lokasi melalui Google Map.
Jika tabung telah terisi penuh air, sistem akan mengirim pesan notifikasi kembali sebagai informasi bahwa daerah rawan kekeringan tersebut baru saja mendapat bantuan air bersih.
Cukup dengan membuka smartphone atau website, siapa pun bisa memantau ketersediaan air di daerah rawan kekeringan di Kabupaten Sragen. Hal ini memudahkan pemerintah dan donatur mengatur distribusi bantuan air.
”Jadi, penyaluran air bersih akan lebih merata, tidak hanya terkonsentrasi di desa-desa yang mudah dijangkau seperti pada tahun-tahun sebelumnya,” ujar Ilham.
Untuk menunjang kinerja water level monitoring ini dibutuhkan dukungan infrastruktur penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas). Sayangnya, tidak semua infrastruktur pamsimas di Sragen dikelola dengan baik.
”Saya menyurvei satu kecamatan, dari banyak tabung pamsimas yang dikelola masyarakat, hanya ada dua yang dalam kondisi baik alias terawat. Permasalahan ini harus dicarikan solusi oleh pemerintah,” ucap Ilham.
Sragencare.go.id menawarkan pelayanan modern dalam hal pengurangan risiko bencana kekeringan. Hal ini selaras dengan misi Kabupaten Sragen menuju kabupaten pintar atau smart city. Hasil penelitian tiga mahasiswa Telkom University tersebut juga diikutkan dalam Lomba Kreativitas dan Inovasi (Krenova) 2019 pada akhir Juli mendatang.
”Kami menjalin komunikasi dengan LAZIS-Muhamamdiyah, BPBD Sragen, dan Dinas Komunikasi dan Informatika. Dalam waktu dekat, aplikasi dan website akan diluncurkan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sragen,” kata Ilham. (JIBI)