”Ngamar” di Kemukus, Warga Ngawi Meninggal

 

SRAGEN—Sutoyo, 71, warga Dukuh Kricak, RT 03/RW 04, Desa Karanggeneng, Kecamatan Pitu, Ngawi, ditemukan meninggal dunia di kamar penginapan di komplek Objek Wisata Religi Gunung Kemukus, Kamis (11/7) malam. Diduga korban meninggal dunia sebelum menjalani “ritual seks” setelah berziarah.
Informasi yang dihimpun Koran Solo menyebutkan pada Kamis malam kebetulan terdapat ratusan warga yang ingin berziarah ke makam Pangeran Samodro yang berada di kompleks Gunung Kemukus. Saat itu, korban sempat ikut berdesak-desakan untuk berziarah. Seusai berziarah, dia berniat menyewa kamar di penginapan untuk beristirahat. Bersama seorang teman wanita, keduanya masuk kamar. Namun, tak lama berselang, korban mengeluh nyeri di bagian dada dan akhirnya meninggal dunia di dalam kamar. Mendapati hal itu, teman wanita korban itu kemudian berteriak minta tolong.
“Begitu dapat laporan, kami langsung datang ke lokasi bersama petugas medis. Pakaian korban masih lengkap. Kami memeriksa fisiknya, tidak ada tanda-tanda bekas penganiayaan. Kemungkinan korban meninggal dunia karena serangan penyakit jantung,” jelas Kapolsek Sumberlawang, AKP Fajar Nur Ikhsanuddin, kepada Koran Solo, Jumat (12/7).
Ketika polisi tiba, wanita yang menjadi teman satu kamar korban sudah tidak berada di tempat. Polisi kemudian meminta keterangan sejumlah saksi. Salah satunya, Daryadi, warga Dukuh Genengsari, Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang yang menjadi pemilik rumah penginapan. Kapolsek tidak menampik bila kamar-kamar dalam penginapan itu biasa dijadikan tempat menyalurkan hasrat seksual bagi pasangan yang tidak ada ikatan pernikahan.
Barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara antara lain sebuah dompet kulit warna cokelat dan jam tangan warna kuning keemasan. Polisi lalu membawa jasad Sutoyo ke RSUD dr. Soeratno Gemolong. Jasad Sutoyo selanjutnya dibawa pulang oleh keluarga untuk dimakamkan.
Sebelumnya sempat beredar kabar bila korban meninggal dunia karena overdosis obat kuat. Akan tetapi, hal itu dibantah oleh Kapolsek Sumberlawang. “Tidak ada tanda-tanda overdosis. Air maninya sempat keluar. Tapi, mungkin [air mani] itu keluar saat sudah sekarat,” papar Fajar. (Moh. Khodiq Duhri)