Rute Tol Solo-Jogja Akhirnya Digeser

TAUFIQ SIDIK PRAKOSO

KLATEN—Ruas tol Solo-Jogja yang akan membentang di antara Umbul Geneng dan Umbul Lanang, Kecamatan Kebonarum, Klaten, akhirnya digeser. langkah itu dilakukan setelah Pemkab Klaten khawatir proyek tol bakal memengaruhi debit air sumber air itu.
Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengatakan pembahasan rencana ruas jalan tol Solo-Jogja yang melintasi Kabupaten Bersinar terus berlanjut. Penggeseran trase atau rute tol di antara Umbul Geneng dan Umbul Lanang menjadi salah satu usulan pemkab. Dari usulan itu, dia menyebut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyetujui usulan Pemkab.
“Untuk yang di Kebonarum dari Kementerian PUPR siap memindahkan trasenya. Jadi, sudah tidak lagi di sana [antara Umbul Geneng dan Umbul Lanang]. Soal pergeserannya di mana? Kami menunggu pemaparan dari tim pusat,” kata Mulyani saat ditemui wartawan di Kecamatan Klaten Utara, Jumat (19/7).
Sebelumnya, Pemkab meminta jalur tol di antara Umbul Geneng dan Umbul Lanang di Kecamatan Kebonarum digeser.

Usulan pergeseran itu berdasarkan aturan soal jarak garis sempadan yang tertuang di Pasal 11 Permen PUPR No. 28/2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau. Dalam aturan itu, garis sempadan mata air ditentukan mengelilingi mata air paling sedkit berjarak 200 meter dari pusat. Sementara, jarak antara Umbul Geneng dan Umbul Lanang kurang dari 200 meter.
Selain aturan soal garis sempadan, proyek pembangunan jalan tol dikhawatirkan mengganggu debit air kedua umbul itu. Apalagi, air dari Umbul Geneng dan Umbul Lanang dimanfaatkan PDAM Tirta Merapi Klaten untuk melayani 20.000 pelanggan di wilayah Klaten kota.
Bupati mengatakan usulan lain yang disampaikan Pemkab adalah soal exit toll di Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo. Pemkab meminta ada dua jalur exit toll. Tujuannya agar ada akses langsung dari jalan tol ke kawasan yang bakal diubah menjadi daerah industri serta kawasan wisata di wilayah Kecamatan Jatinom, Tulung, dan Polanharjo.
“Di Kapungan rencananya hanya satu exit toll menuju arah jalan nasional [jalan raya Jogja-Solo]. Kami minta kaki exit toll itu ada dua, satunya mengarah ke Jatinom, Tulung, dan Polanharjo,” urai dia.
Bupati mengatakan ada tiga wilayah yang menjadi exit toll di Klaten. Ketiga wilayah itu berada di Desa Borangan, Kecamatan Manisrenggo, Desa/Kecamatan Ngawen, dan Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo. Di Desa Borangan, akan ada dua jalur exit toll masing-masing berada di wilayah Borangan dan Desa Somokaton, Kecamatan Karangnongko.
Ada dua rest area di Klaten di wilayah Kecamatan Karangnongko dan Kecamatan Ngawen. “Usulan kami untuk rest area itu ada dua di masing-masing lokasi yakni sisi utara jalan tol dan selatan jalan tol,” kata Bupati.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Tol Solo-Jogja dan Jogja-Bawen, Wijayanto, mengatakan Kementerian PUPR siap mengubah rencana ruas jalan tol berdekatan dengan Umbul Geneng dan Umbul Lanang. “Sesuai ketentuannya memang harus menghindari. Jadi ada perubahan,” kata Wijayanto kepada Koran Solo, Jumat.
Wijayanto mengatakan pergeseran ruas jalan tol yang berdekatan dengan umbul itu masih dibahas pusat. Rencananya, ruas jalan tol bergeser ke sisi utara Umbul Geneng yang relatif tak banyak sumber mata air di dekatnya. “Tidak sampai mengubah keseluruhan rencana ruas tol. Hanya spot yang harus menghindari mata air itu,” kata dia.
Klaten menjadi wilayah terluas yang bakal terdampak proyek jalan tol Solo-Jogja. Sekitar 608 ha lahan tersebar di 51 desa yang tersebar 11 kecamatan bakal tergusur proyek tol. Sekitar 73,91 persen merupakan lahan pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Widiyanti, mengatakan sekitar 400 ha sawah yang bakal tergusur tol. Widiyanti menjelaskan DPKPP bakal mendata status sawah yang bakal terdampak proyek tol. Hal itu dmaksudkan agar luas lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) atau sawah lestari sekitar 28.000 ha di Klaten tak berkurang. “Luas LP2B itu sudah baku. Ketika terdampak tentunya harus dicarikan pengganti agar luasannya tetap 28.000 ha,” kata dia.
Sedangkan sawah lestari di Boyolali yant terkena tol seluas 80 ha. Namun, penggunaan sawah untuk proyek tol tidak akan mengganggu ketersediaan pangan. Pemkab cuma meminta pengembang menjaga kelangsungan saluran pengairan di wilayah yang terkena proyek.
Ketua Perkumpulan Pengusaha Beras dan Penggilingan Padi Indonesia (Perpadi) Jawa Tengah (Jateng), Tulus Budiyono, mengatakan Boyolali termasuk daerah yang setiap tahun mengalami surplus beras. Jika ada sebagian sawah digunakan tol, hal itu tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi padi. Sedangkan   lahan di Boyolali yang terkena jalan bebas hambatan itu sekitar 119 ha.
“Khususnya untuk kondisi perberasan atau pangan Boyolali, dipakainya sawah untuk pembangunan jalan tol jelas ada dampakya. Namun, berhubung Boyolali adalah daerah surplus untuk produksi padi tiap tahunnya, saya kira masalah pangan tidak terlalu signifikan dengan digunakannya lahan sawah utuk jalan tol karena produksi beras yang akan hilang ini bisa dikaver dari surplusnya itu,” ujar Tulus yang tinggal di Banyudono, Boyolali ini, Jumat.
Sedangkan ketersediaan pangan untuk Jawa Tengah juga dinilai tidak akan terpengaruh degan hilangnya lahan sawah ini. (Akhmad Ludiyanto/Krizia Putri Kinanti/Abdul Hamid Razak/JIBI)