Menyambut Planet Baru

Ilmuwan NASA menemukan masa di sekitar orbit Bulan yang terlihat seperti Bulan. Meski mengorbit di luar orbit Bulan, massa yang disebut Ploonet ini akan menjadi planet baru. Berikut laporan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@jibinews.co

Ilmuwan NASA beberapa kali mengganti nama objek yang ditemukan di ruang angkasa itu. Objek tersebut terlihat seperti Bulan. Awalnya mereka menyebut benda angkasa itu sebagai Moonmoons tetapi akhirnya diubah menjadi Ploonet. Konon nama ini adalah yang paling imut yang pernah diberikan oleh astronom.
Nama Moonmoons awalnya diberikan karena Bulan itu dianggap mengorbit Bulan lain di Tata Surya yang jauh. Namun, para ilmuwan setuju menggantinya sebagai Ploonet karena ternyata, benda itu mengorbit langsung bintang-bintang panas dan berukuran sebesar planet. Dalam keadaan tertentu, Ploonet meninggalkan garis edarnya dan berubah menjadi satelit.
Keberadaan Ploonet ini dapat diidentifikasi oleh teleskop pemburu planet, mengutip laman sains Live Science dikutip Jumat (12/7). Temuan Ploonet telah diterbitkan pada 27 Juni lalu di jurnal pracetak arXiv.
Dalam penelitian ini para ilmuwan juga menciptakan model komputer untuk menguji skenario yang mungkin, yakni di mana Bulan yang mengorbit planet menjadi mengitari bintang lain. Para peneliti menemukan jika Ploonet mengorbit di sebuah planet ekstrasurya (di luar tata surya kita) yang dikenal sebagai Jupiter panas yang berbentuk raksasa gas dan terdapat tarikan gravitasi.
Gravitasi itu cukup kuat merebut Bulan dari planetnya, mengirim objek itu untuk berputar di sekitar bintang. Saat mengorbit bintang terdekat, atmosfer Ploonet dapat menguap dan kehilangan sebagian massanya. Ketika hal itu terjadi, maka terbentuk tanda khas dalam cahaya yang dipancarkan dari sekitar bintang.
Fenomena itu diketahui dari pengamatan baru-baru ini tentang munculnya cahaya misterius di sekitar bintang panas yang jauh. Beberapa ploonet dapat mempertahankan orbitnya selama ratusan juta tahun.
Dengan mengumpulkan material dari piringan debu dan gas di sekitar bintangnya, Ploonet bahkan dapat membangun badannya sendiri hingga akhirnya menjadi planet. Demikian ditulis para ilmuwan.
Namun, sebagian besar Ploonet kemungkinan akan berumur pendek, berdasarkan simulasi yang dilakukan ilmuwan. Mayoritas benda-benda itu menghilang dalam sejuta tahun dan tidak pernah menjadi planet.
Sebagai gantinya, mereka hancur saat bertabrakan dengan planet induk. Kemudian, benda itu akan dihancurkan oleh bintang-bintang dalam aksi kanibalisme planet atau dikeluarkan dari orbit.
Penelitian tentang teori Ploonet datang dari seorang ilmuwan bernama Mario Sucerquia dari Universitas Antioquia di Kolombia. Teori bermula dalam sebuah simulasi komputer yang meneliti sebuah exoplanet (planet terluar) yang disebut Hot Jupiter.
Dinamakan Hot Jupiter karena exoplanet ini sangat dekat dengan bintang induknya dan memiliki ukuran yang sangat besar (hampir mirip dengan Jupiter, 10 kali lipat lebih besar dari Bumi). Para peneliti merinci simulasi apabila Hot Jupiter dan exomoon (Bulannya Hot Jupiter) melakukan migrasi ke dalam karena tertarik dengan bintang induknya.
Berdasarkan simulasinya, efek migrasi membuat beberapa kemungkinan yaitu 44% Bulan menabrak planet, 6% dimakan oleh bintang, dan 2% akan keluar dari sistem planet sepenuhnya. Sementara sisanya, yaitu 48% akan terpisah dari planet mereka tetapi masih berada di orbit sekitar bintang.
Jumlah 48% itulah yang disebut dengan Ploonet. Teori tersebut diklaim telah terjadi di luar angkasa.
Jika Bulan adalah es, maka ia bisa menjadi objek luar angkasa yang menguap. Uap akan membentuk komet dengan meninggalkan ekor panjang di belakangnya.
Dikutip dari Science Alert, hal itu adalah benda luar angkasa yang pernah terekam oleh ilmuwan yang mengorbit bintang Kepler-1520 dan KIC 11026764. Satelit planet Bumi yaitu Bulan, diprediksi juga bisa mengalami hal yang serupa.
Hal itu bisa terjadi karena peneliti merekam jejak penelitian yang menyebutkan Bulan telah menjauh dari Bumi sekitar tiga centimeter per tahun. Namun jangan khawatir, diprediksi oleh ilmuwan, Bulan akan migrasi sepenuhnya dan meninggalkan orbit Bumi sekitar lima miliar tahun lagi.
Komposisi Belum Diketahui
Para ilmuwan baru saja mendeteksi anomali raksasa di sisi jauh Bulan. Benda ini disebut Ploonet.
Dilaporkan dalam Geophysical Research Letters, anomali ini terletak di bawah basin Kutub Selatan-Aitken, sebuah kawah besar akibat tabrakan purba yang panjangnya melebihi Pulau Jawa. Anomali ini berupa massa berbobot 2,2 quintilion (2.200.000.000.000.000.000) kilogram yang masuk hingga ke dalaman 300 kilometer di bawah kawah, 10 kali lipat lebih dalam daripada kerak Bumi.
“Bayangkan mengambil setumpukan logam yang lima kali lebih besar dari Pulau Besar Hawaii dan menguburnya di bawah tanah. Kira-kira sebesar itulah massa tak terduga yang kami deteksi,” ujar penulis studi Peter B James dalam siaran persnya.
James dan para peneliti dari Baylor University menemukan massa misterius tersebut setelah mempelajari berbagai data yang mengukur gravitasi di sekitar Bulan. Mereka membandingkan data yang dikumpulkan oleh berbagai wahana antariksa tersebut dan membandingkannya dengan peta dan pencitraan permukaan Bulan.
Hasilnya menunjukkan adanya massa logam padat yang menarik dari bawah lantai basin.
Hingga saat ini, para peneliti belum mengetahui secara pasti identitas massa tersebut.
Namun, mereka menduga itu adalah logam yang tertanam di mantel Bulan akibat tabrakan asteroid yang meninggalkan bekas kawah basin Kutun Selatan-Aitken empat miliar tahun lalu, atau sisa lautan magma kuno di Bulan yang memadat. Jika dugaan pertama benar, para peneliti telah menemukan tambang emas dan mesin waktu yang bisa digunakan untuk mempelajari sejarah alam semesta sebelum terjadinya tabrakan asteroid.
“Basin ini merupakan salah satu laboratorium alami terbaik untuk mempelajari dampak kejadian benxana, sebuah proses kuno yang membentuk semua planet berbatu dan bulan-bulan yang kita lihat sekarang,” ujar James.