Bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan

Penyakit jantung yang dibawa sejak lahir biasanya dikenal dengan penyakit jantung bawaan (PJB). Penyakit ini umumnya terjadi karena kelainan struktur jantung sejak dalam janin. Orang tua biasanya baru sadar ada kelainan pada anaknya setelah bayi dilahirkan. Bahkan kadang-kadang akibat gejala dan tandanya tidak begitu khas, PJB baru ditemukan di kemudian hari.
PJB pada anak dapat terjadi dan terdeteksi saat masih dalam kandungan, sesaat setelah lahir, dan sesudah lahir. Kardiolog anak dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta, Winda Azwani mengatakan bahwa kondisi PJB dibagi menjadi dua bagian yakni PJB sederhana dan PJB kompleks.
“PJB sederhana hanya terdiri dari satu lesi atau satu kelainan saja, misalnya seperti jantungnya memiliki lubang atau sempit,” katanya.
Sementara itu PJB kompleks biasanya memiliki lebih dari satu lesi seperti berlubang besar dan kompleks, ada yang terbalik, dan kelainan lainnya. PJB kompleks harus ditangani secara komprehensif di rumah sakit memiliki teknologi lengkap.
Pada saat bayi dalam kandungan, sebetulnya deteksi dini penyakit jantung bawaan sudah dapat dilakukan melalui pemeriksaan fetal echocardiography. Akan tetapi, belum banyak rumah sakit dan ahli yang dapat melakukan hal ini di Indonesia.
Pada saat lahir, PJB dapat terjadi dengan kondisi critical congenital heart disease atau PJB kritis yang harus ditangani segera pada awal-awal kehidupan si anak.
“Operasi PJB kritis harus ditangani oleh dokter ahli dan teknologi khusus untuk menyelamatkan bayi,” ujarnya.
PJB yang baru diketahui sesudah lahir pada umumnya menimbulkan gejala seperti bayi membiru. Namun, tidak semua PJB itu menyebabkan kebiruan pada tubuh bayi. Ada dua kelompok PJB yakni PJB biru atau sianotik dan PJB asianotik yang tidak menimbulkan gejala biru.
PJB biru memang paling kentara sehingga mudah dikenali, yakni bayi tampak pucat dan biru, khususnya ketika menangis.
Kebiruan ini biasanya terjadi karena kurangnya atau terganggunya aliran darah dan oksigen karena gangguan pada jantung tadi. Kondisi bayi biru tidak hanya dapat terjadi karena PJB, tetapi juga gangguan paru-paru dan pusat sentral.
Sementara itu PJB nonsianotik tidak ditandai dengan bayi yang menjadi biru, tetapi menimbulkan gejala pada anak seperti berat badan tidak naik dan anak kelihatan napasnya tersengal ketika tidur. Anak yang mengalami PJB tidak biru juga sering merasa mudah lelah dan detak jantungnya lebih cepat. “Yang kebanyakan terjadi justru yang tidak biru alias asianotik. Mungkin pada bulan pertama belum kelihatan karena belum ada perubahan tekanan sehingga bayinya tidak kelihatan sesak,” ujarnya.
Pada usia bulan ke-2 dan ke-3 barulah gejala muncul yakni berat badan tidak naik sekalipun telah diberikan ASI. Untuk mendiagnosis penyakit jantung, perlu dilakukan pemeriksaan mendalam langsung pada dokter ahli.
Penanganan PJB tidak melulu dengan operasi, intervensi lain yang biasanya dilakukan oleh dokter adalah kateterisasi khusus anak.
Operasi bedah jantung dapat dilakukan pada saat anak berusia 2 minggu, atau jika pada bayi baru lahir yang tampak sangat biru. Pada kondisi PJB kritis kateterisasi jantung sangat diperlukan. Keterlambatan operasi atau kateterisasi dapat mengakibatkan pasien sakit berulang dan memerlukan perawatan di rumah sakit.
Winda menjelaskan bahwa anak yang sudah menjalani penanganan operasi yang tepat bisa melanjutkan hidup dengan normal sesuai dengan tumbuh kembangnya. Namun, bagi yang terlambat mendapatkan penanganan yang bisa berdampak fatal yakni ada yang bisa mengalami stunting, fungsi jantung kanan rusak, dan timbulnya nanah di otak.
Terkadang ada orang tua yang tidak tega mengizinkan anaknya untuk dioperasi, padahal sebetulnya dokter tidak akan menganjurkan untuk dioperasi apabila tidak diperlukan.
“Kelainan jantung bawaan ini banyak, ada 100 lebih, jadi disesuaikan pengobatannya, ada yang operasi ada yang enggak. Jadi operasi biasanya disarankan demi keselamatan bayi itu sendiri,” ujarnya.
Pada anak-anak yang mengalami down syndrome dapat juga mengalami PJB. Down syndrome adalah kumpulan gejala klinis karena kelainan kromosom dengan kemungkinan PJB sebanyak 40%.
Jadi kalau ada 10 anak yang mengalami down syndrome, sebanyak 4 orang bisa saja mengalami PJB. Jadi pada kondisi ini, sebetulnya anak-anak down syndrome harus dirujuk atau periksa ke dokter jantung anak.
Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan PJB pada bayi yakni ibu dengan penyakit diabetes melitus dan mendapat terapi insulin dan ibu dengan penyakit epilepsi dan mengonsumsi obat anti kejang.
Faktor risiko lainnya masih belum diketahui dan menjadi misteri. Artinya, deteksi dini adalah kunci untuk penanganan yang tepat.
Keterlambatan deteksi PJB saat bayi baru lahir menjadi penyebab utama terjadinya kematian bayi baru lahir. Berdasarkan data Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta, hanya 2.000 kasus PJB per tahun sepanjang 2013-2017 yang mendapatkan penanganan baik secara bedah maupun nonbedah. (JIBI/Binsis Indonesia/Tika Anggreni Purba)