Minuman kekinian Racun di Balik Manisnya Bubble Tea

Jenis minuman bubble tea dengan kandungan kalori tinggi mulai menjadi perhatian rumah sakit di beberapa negara karena memicu peningkatan risiko penyakit kronis. Beberapa rumah sakit bahkan mengimbau pelaku bisnis memodifikasi pesanan mereka agar lebih sehat. Berikut laporan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@jibinews.co

Para pencinta teh bergula manis atau bubble tea diminta berpaling ke minuman yang lebih sehat. Minuman manis telah menjadi sangat populer di beberapa negara sehingga sebuah rumah sakit setempat meminta konsumen untuk memodifikasi pesanan mereka agar mereka lebih sehat.
Bubble tea adalah minuman berbahan dasar teh dan susu. Minuman tersebut biasanya disajikan dengan aneka topping yang terbuat dari tepung tapioka. Selain itu, varian rasanya cukup banyak sehingga membuat masyarakat semakin menggemarinya.
Rumah Sakit Mount Alvernia, sebuah lembaga kesehatan tersier swasta, nirlaba, menerbitkan sebuah artikel di situs webnya pada Jumat (5/7). Artikel bertujuan membandingkan kadar gula dan kalori dari berbagai jenis bubble tea dan topping.
Artikel itu kemudian diposting infografis artikel ke Facebook karena permintaan luar biasa dari pengunjung laman. Dalam artikel itu, rumah sakit memperingatkan warga Singapura terhadap kandungan gula dari bubble tea, karena minuman itu telah menjadi sangat populer dan bahkan menggantikan konsumsi air putih.
“Teh hijau dan hitam memang membantu dalam mengurangi risiko penyakit seperti diabetes, radang sendi dan kanker, tetapi bubble tea [yang mengandung gula, susu dan creamer non-dairy] sebenarnya dapat meningkatkan risiko penyakit kronis,” kata keterangan resmi Rumah Sakit Mount Alvernia Singapura.
Creamer non-susu adalah pengganti susu yang mengandung lemak trans dalam bentuk minyak kelapa sawit terhidrogenasi. Minyak ini sangat berkorelasi dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan strok.
Artikel itu juga menjelaskan jumlah kalori dalam secangkir bubble tea setara dengan sepotong kue keju. Rumah sakit menyarankan konsumen untuk membatasi asupan mereka menjadi dua cangkir sepekan.
Paling Buruk
Rumah sakit membandingkan tingkat gula dalam tujuh jenis pesanan bubble tea dan menemukan pilihan yang paling tidak sehat sejauh ini adalah teh susu gula merah dengan mutiara. Minuman ini mengandung 18,5 sendok teh gula. Pilihan kedua yang paling tidak sehat adalah teh melon dengan 16 sendok teh gula.
Padahal, asupan gula harian yang direkomendasikan orang dewasa adalah delapan hingga 11 sendok teh, sedangkan untuk anak-anak dan remaja lima sendok teh.
Minuman berbasis buah mungkin tampak sehat, tetapi mereka sebenarnya pilihan yang lebih buruk. Rumah Sakit Alvernia telah merilis kandungan gula dalam masing-masing teh. Yakni, teh hijau markisa (8,5 sendok teh) dan teh hijau melati dengan topping buah (8,5 sendok teh) mengungguli teh susu dengan mutiara (delapan sendok teh).
Untuk mengatasi keinginan masyarakat mengidam minuman manis, rumah sakit menyarankan konsumen untuk memilih toko bubble tea yang memungkinkan mereka untuk mengubah tingkat rasa manis dari minuman. Hal ini bertujuan supaya mereka perlahan-lahan mengurangi kadar gula untuk “melatih” selera mereka.
Topping busa bahkan memiliki lebih banyak kalori daripada mutiara. Terlepas dari minuman itu sendiri, rumah sakit juga membandingkan kandungan kalori dari berbagai topping.
“Topping dengan kalori tertinggi adalah busa susu (203 kalori) dan busa keju (180 kalori), mengalahkan pilihan klasik mutiara tapioka hitam (156 kalori). Topping kalori terendah dalam daftar adalah lidah buaya, dengan 31 kalori,” kata keterangan resmi rumah sakit.
Rumah sakit memperingatkan topping seperti jeli dan mutiara disimpan dalam sirup manis agar tetap lembab, menambah jumlah gula dan kalori minuman.
Mereka menambahkan tren baru seperti mutiara madu atau sirup gula merah meningkatkan kadar gula minuman lebih jauh lagi.
Para peneliti dari Rumah Sakit Universitas Aachen menguji bola-bola tapioka itu dan menemukan stirena, asetofenon, serta zat tertentu yang melekat pada unsur bromin.
Peneliti utama studi ini mengidentifikasi zat-zat tersebut sebagai bagian dari senyawa bifenil poliklorinasi (PCB), mikro-polutan yang beracun. U.S. Environmental Protection Agency juga menyatakan paparan PCB bisa membikin kanker pada hewan. Para peneliti juga bertumpu pada studi lain yang menyebut hubungan antara paparan PCB pada pekerja dengan kanker hati dan melanoma ganas.
Sesaat setelah membuat gempar dunia dengan temuannya, The Consumer Protection Committee Taiwan langsung melakukan uji tandingan. Lembaga ini mengumpulkan 22 sampel bubble dari tujuh pabrik dan tidak menemukan stirena. Namun, mereka menemukan unsur bifenil dan asetofenon brominasi, tapi jumlahnya terlalu kecil untuk menimbulkan masalah kesehatan.
“Asetofenon dan stirena adalah senyawa aromatik, ia tak serta merta bersifat toksikologis [beracun] ketika berdiri sendiri,” kata Noah Bartolucci, juru bicara The U.S. Food and Drug Administration (FDA), dalam laman Universitas California Berkeley.
Untuk menentukan tingkat kemanisan pada minuman, pilihlah kadar gula paling rendah, atau jika memungkinkan, tanpa pemanis. Gunakan susu biasa, bukan krim atau susu kental manis, dan yang terpenting tetap hitung kalori yang masuk.(businessinsider)