Lahan Terbatas Bukan Penghalang untuk Menanam

Lugas Subarkah

Pemerintah Kota (Pemkota) Jogja terus mendorong ketersediaan udara bersih. Di satu sisi RTHP menjadi sumber utama penyedia udara segar, tapi di sisi lain Kota Jogja memiliki lahan yang sangat terbatas. Maka salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan menggalakkan program kampung sayur.
Dengan program ini seluruh masyarakat bisa turut berkontribusi menghijaukan lingkungannya dengan menanami pekarangan rumah yang sempit atau di tepian gang kampung dengan tanaman sayur, buah dan sebagainya, sehingga bisa turut membantu suplai udara bersih bagi lingkungan.
Salah satu yang telah cukup lama dan berhasil menjalankan program ini adalah Kelompok Tani Surya Hijau, di RW 011, Kelurahan Suryadiningratan, Kecamatan Mantrijeron, Jogja. Ketua Surya Hijau, Binarni Kuswandari, mengatakan kelompok ini memiliki fokus pada pemanfaatan pekarangan untuk ditanami sayuran, buah-buahan, tanaman toga dan tanaman hias.
Kelompok ini telah terbentuk sejak 2014 silam dan saat ini beranggotakan sekitar 25 orang. Ia menuturkan kegiatan utama mereka adalah menghijaukan wilayahnya dengan menanami berbagai tanaman baik di pekarangan rumah maupun sepanjang jalan. “Saat ini masih tingkat RW, tapi kedepannya mau kami kembangkan untuk kelurahan,” katanya pada Harian Jogja, Selasa (30/7).
Selain itu kelompok tani ini rutin mengadakan pertemuan setiap dua bulan sekali. Mereka juga kerap mengikuti pelatihan-pelatihan dari berbagai lembaga. Pelatihan ini kata dia meliputi penanaman, budidaya buah dan sayur, bank sampah dan lainnya.
Ia menceritakan beberapa buah yang ditanam di antaranya kelengkeng dan jambu madu deli. Lalu untuk toga meliputi lebih dari 200 macam tanaman. Toga merupakan singkatan dari tanaman obat keluarga, yang berarti tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk obat, seperti lidah buaya, daun sirih, jahe dan lainnya.
Untuk tanaman toga, ia mewajibkan setiap KK minimal memiliki 10 tanaman toga. Setiap 17 Agustus, kelompoknya rutin membagikan bibit tanaman toga untuk seluruh warga. “Harapannya setiap rumah setidaknya ada tanaman toganya,” kata dia.
Untuk menyiasati lahan yang terbatas, ia menyarankan menanam menggunakan pemanfaatan botol bekas atau pralon yang bisa ditempel di tembok. Menurut dia, tidak ada lagi alasan untuk tidak menanam, sebab menanam bisa di manapun.
Salah satu anggota Kelompok Tani Surya Hijau, Hesti Sugiastuti, mengatakan di rumahnya ia menanam sayur, buah dan toga. “Tapi kalau tempat saya tidak ada lahan, jadi menanamnya di dak atas rumah, di sana bisa juga,” katanya.
Untuk wadah penanaman ia menggunakan pollybag, planter bag dan planter wall. Perawatannya kata dia cukup mudah, karena hanya perlu menyirami sehari sekali yakni pada pagi atau sore dan memberikan pupuk. “Sebelumnya sudah suka menanam, lalu ikut kelompok ini jadi tambah banyak,” ungkapnya. (JIBI/Harian Jogja)